Brilio.net - Perkembangan teknologi yang semakin canggih, tak luput juga diimbangi dengan perkembangan musik yang spektakuler. Salah satunya musik digital yang sudah mulai berkembang di kampus Polimedia Jakarta.

Adhy Saka Juhansyah (22 tahun), salah satu mahasiswa Polimedia mengaku suka musik, tapi ternyata tidak memiliki keahlian bermain alat musik. Hal itu mendorongnya untuk masuk ke komunitas musik digital.

"Gue tertarik karena basic gue musik analog dan gue emang kurang mahir main alat musik, cuma sekedar bisa aja. Jadi kalau ditanya kenapa suka, karena di musik elektronik gue bisa bikin musik apapun, dengan instrumen apapun tanpa gue harus bisa memainkan instrument aslinya, gue cuma bisa memahaminya," ujarnya kepada brilio,net, Minggu (20/3).

Dari komunitas itu, dia mulai mengembangkan musik digital di kampus Polimedia. Bermain musik digital di kantin dengan banyak mahasiswa yang sedang menyantap makan siang adalah taktiknya untuk bisa mengenalkan musik digital.

"Waktu gue perform tertolong karena hujan. So, yes, all student stay at kantin. Walaupun yang maju ke depan buat lihat cuma sebaris doang, yang nonton sampai abis cuma sebaris doang, tapi gue bersyukur ada orang-orang yang respect kaya mereka," tambahnya.

Loading...

Lama-lama, komunitas pemudig atau pecinta musik digital yang dirintisnya ini sudah semakin banyak peminatnya. Hingga saat ini sudah ada 40 anggota dan menjadi UKM di kampusnya.

"Dari 40 anggota itu enggak semuanya produksi musik, ada juga yang manajemen musik, tapi masih belum ada mentornya jadi masih sharing-sharing biasa aja,” terangnya.

Dia berharap agar Pemudig yang didirikannya ini bisa lebih berkembang di Polimedia, bahkan di kampus lain. Anggotanya diharapkan tak hanya melirik pekerjaan disc joke tapi bisa jadi performer bahkan membuat musik untuk film, iklan, dan animasi.

"Gue ngebentuk dan ngebangun Pemudig dengan sepenuh jiwa dan raga gue. Andai udah enggak ada yang mau jalanin Pemudig, gue rela jalan sendiri," pungkasnya.