Brilio.net - Tak sedikit orang yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 meski tak menunjukkan gejala atau memiliki gejala yang ringan. Namun begitu, sebagian pasien lainnya mengalami penyakit pernafasan akut yang membuatnya harus menjalani perawatan intensif. Lalu, sebenarnya bagaimana gambaran paru-paru seseorang saat terinfeksi Covid-19?

Dalam sebuah video baru, ahli patologi paru-paru Sanjay Mukhopadhyay, MD, menjabarkan secara rinci bagaimana gambaran paru-paru yang terinfeksi Covid-19. Video berdurasi 15 menit ini membahas bagaimana Covid-19 menyebabkan kondisi yang berpotensi sebagai sindrom gangguan pernapasan akut (ARDS). Lantas, apa hubungan antara coronavirus dan ARDS?

Para peneliti menemukan 50 dari 54 pasien yang meninggal akibat Covid-19 mengembangkan ARDS pada paru-paru manusia. Sementara hanya sembilan dari 137 yang selamat jika menderita ARDS.

"Ini adalah kontribusi yang sangat signifikan untuk kematian pada pasien coronavirus," kata Dr. Mukhopadhyay seperti dikutip dari liputan6.com, Jumat (27/3).

gambaran paru-paru saat terinfeksi corona © 2020 berbagai sumber

Loading...

foto: pixabay.com

Jika Anda menderita ARDS, Anda akan memiliki gejala seperti sesak napas mendadak, napas cepat, pusing, detak jantung yang cepat, dan keringat berlebih.

Menurutnya, terdapat empat hal utama yang akan dicari dokter yakni:

- Jika Anda memiliki kondisi akut, dimulai dalam waktu satu minggu sejak pertama terkontaminasi atau muncul gejala baru atau memburuk.

- Jika sesak napas bukan disebabkan oleh gagal jantung atau kelebihan cairan.

- Memiliki kadar oksigen yang rendah dalam darah Anda (hipoksia berat).

- Kedua paru-paru tampak putih dan buram (normalnya hitam) pada rontgen dada (disebut kekeruhan paru-paru bilateral).

Pasien yang menderita ARDS akan mengalami kerusakan pada dinding kantung udara di paru-paru yang membantu oksigen masuk ke dalam sel darah merah. Itulah yang oleh dokter disebut kerusakan difusi alveolar.

Dalam paru-paru yang sehat, oksigen di dalam kantung udara ini (alveolus) bergerak ke pembuluh darah kecil (kapiler). Pembuluh kecil ini, pada gilirannya, mengirimkan oksigen ke sel darah mera.

Dr. Mukhopadhyay menjelaskan proses evolusi membuat dinding alveolus menipis sehingga mempermudah pengiriman oksigen ke sel darah merah.

"Virus corona merusak dinding sel dan selaput alveolus serta pembuluh kapiler. Puing-puing yang menumpuk oleh semua kerusakan itu melapisi dinding alveolus mirip sepert cat yang menutupi dinding," kata Dr. Mukhopadhyay.

gambaran paru-paru saat terinfeksi corona © 2020 berbagai sumber

foto: pixabay.com

Kerusakan kapiler juga menyebabkan mereka membocorkan protein plasma sehingga menambah ketebalan dinding. Menurut Dr. Mukhopadhyay, dinding alveolus menjadi lebih tebal dari yang seharsunya.

Semakin tebal dinding ini, semakin sulit untuk mentransfer oksigen, semakin Anda merasa sesak napas, dan semakin memperparah penyakit hingga bisa berdampak kematian. Dr. Mukhopadhyay berharap dengan penjelasan ini membuat orang lebih serius menghadapi wabah saat ini.

"Tolong jangan anggap ini hanya sebagai 'infeksi virus lain yang akan berlalu, mohon lakukan semua tindakan pencegahan yang dianjurkan CDC. Tolong lindungi diri Anda, keluarga Anda, dan orang lain. Terlebih lagi jika pasien COVID-19 sampai mengalami pneumonia," katanya.

Prof John Wilson, ahli pernapasan dari Royal Australasian College of Physicians mengatakan, saat pasien COVID-19 mengalami batuk dan demam, itu merupakan akibat dari infeksi saluran napas yang mencapai cabang pernapasan.

Infeksi ini akan mengiritasi jalan napas jika tidak segera tertangani yang bahkan setitik debu bisa merangsang batuk. Infeksi yang terus menyebar hingga alveolus (kantung udara) maka akan berakhir pneumonia.

"Paru-paru tidak mampu mendapatkan oksigen yang cukup untuk aliran darah, sehingga mengurangi kemampuan tubuh untuk mengambil oksigen dan menyingkirkan karbon dioksida. Itulah penyebab kematian umum pada penderita pneumonia berat," katanya.

gambaran paru-paru saat terinfeksi corona © 2020 berbagai sumber

foto: Shutterstock

Prof Christine Jenkins, pimpinan Lung Foundation Australia, mengatakan belum ada obat yang bisa menghentikan pneumonia.

"Orang-orang sudah menguji coba semua jenis obat dan kami berharap bahwa kami mungkin menemukan bahwa ada berbagai kombinasi obat virus dan anti-virus yang bisa efektif. Saat ini tidak ada perawatan yang ditetapkan selain dari perawatan suportif, yang kami berikan kepada orang-orang dalam perawatan intensif," katanya.

Jenkins mengatakan, yang saat ini bisa dilakukan dokter adalah memberikan ventilasi dan mempertahankan kadar oksigen yang tinggi sampai paru-paru mereka dapat berfungsi dengan cara yang normal lagi ketika mereka pulih.

Wilson mengatakan pasien dengan pneumonia virus juga berisiko terkena infeksi sekunder, sehingga mereka juga akan diobati dengan obat anti-virus dan antibiotik. "Dalam beberapa kasus, pneumonia menjadi tidak terkendali dan pasien tidak selamat," ujarnya.

Wilson mengatakan ada bukti bahwa pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 mungkin akan sangat parah. Wilson mengatakan, kasus pneumonia corona cenderung mempengaruhi semua paru-paru, bukan hanya bagian kecil. Begitu pun orang-orang dengan penyakit jantung dan paru, diabetes dan orang tua.

Jenkins mengatakan bahwa, secara umum, orang berusia 65 tahun ke atas berisiko terkena pneumonia, serta orang-orang dengan kondisi medis seperti diabetes, kanker atau penyakit kronis yang mempengaruhi paru-paru, jantung, ginjal atau hati, perokok, dan bayi berusia 12 bulan ke bawah.

"Usia adalah prediktor utama risiko kematian akibat pneumonia. Pneumonia selalu serius untuk orang yang lebih tua dan pada kenyataannya dulu menjadi salah satu penyebab utama kematian pada orang tua. Sekarang kami memiliki perawatan yang sangat baik untuk pneumonia."

"Penting untuk diingat bahwa tidak peduli seberapa sehat dan aktif kamu, risiko kamu terkena pneumonia meningkat seiring bertambahnya usia. Ini karena sistem kekebalan tubuh kita secara alami melemah seiring bertambahnya usia, menjadikan tubuh kita lebih sulit melawan infeksi dan penyakit,” ujarnya pada The Guardian.