Brilio.net - Merokok memang sudah menjadi kebiasaan kebanyakan orang, baik pria maupun wanita. Meski sudah mendapat peringatan untuk tidak merokok, namun tetap saja orang masih gemar mengonsumsi merokok.

Di Indonesia sendiri, dampak negatif merokok telah disampaikan secara masif. Salah satunya adalah melalui kemasan rokok itu sendiri. Di kemasan rokok, dijelaskan apa saja dampak yang ditimbulkan ketika seseorang merokok.

Kebanyakan dari perokok sangat sulit untuk berhenti, sehingga ketika tidak merokok akan terasa sangat kurang, bahkan tak jarang ada yang merasa pusing hingga stres.

Kondisi seperti itu bisa dikatakan karena mereka sudah menjadi kecanduan nikotin yang terdapat pada rokok itu. Kondisi kecanduan nikotin membuat penderitanya tidak bisa lepas dari pengaruhnya, padahal hal tersebut bisa menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Dalam kondisi seperti sekarang ini, yakni hadirnya Virus Corona perokok diimbau untuk mengurangi kebiasaan merokoknya untuk mengurangi risiko tertular serta kondisi yang parah akibat COVID-19 itu.

Loading...

Dokter spesialis paru Feni Fitriani, Ketua Pokja Masalah Rokok Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengatakan bahwa merokok berisiko membuat seseorang terkena berbagai penyakit, bukan hanya COVID-19.

"Tanpa COVID-19 saja, orang yang merokok itu dia sudah mengalami kerentanan di saluran napas," kata Feni dalam sebuah temu media di Kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI), seperti dilansir brilio.net dari liputan6.com, Jumat (27/3).

"Karena efek merokok itu jangka panjang setelah 20 tahun, 30 tahun. Tidak secepat COVID-19, orang abai," kata Feni.

Feni mengharapkan dengan adanya fenomena pandemi seperti sekarang ini seorang perokok bisa jadi lebih waspada dan memiliki motivasi untuk berhenti melakukan kebiasaan tersebut.

Tak hanya itu saja, Feni juga menambahkan merokok juga bisa menyebabkan beberapa penyakit yang memperparah kondisi seseorang apabila terinfeksi virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

"Selain perokok yang berisiko terkena COVID-19 dan kemudian lebih rentan angka kematiannya tinggi kan orang yang lansia. Lalu orang dengan kardiovaskular, penyakit jantung, diabetes, gagal ginjal. Nah, itu kalau kita kaitkan juga ujung dari kebiasaan merokok," paparnya.

Sebelumnya, Mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila F Moeloek juga mengatakan bahwa situasi merebaknya COVID-19 juga menjadi waktu yang tepat untuk menakut-nakuti para perokok agar berhenti dari kebiasaan tersebut.

"Sekarang waktunya kita menakut-nakuti orang yang merokok," kata Nila, dalam sebuah diskusi di salah satu kampus Universitas Indonesia (UI), Salemba, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Nila mengatakan, orang yang memiliki kebiasaan merokok berarti paru-parunya sudah tidak baik lagi.

"Paru-parunya sudah jelek kan. Nah, ada si virus, ya udah. Kalau orang sehat, kan paru-parunya baik," kata Menkes periode 2014 hingga 2019 itu.

Kendati demikian, tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait tingkat fatalitas dari kebiasaan merokok dan penyakit yang diakibatkan oleh kebiasaan tersebut, terutama terhadap infeksi Corona atau COVID-19.