Brilio.net - Virus Corona sudah ditetapkan menjadi bencana nasional oleh pemerintah. Hal ini disampaikan Juru Bicara Penanganan Corona Achmad Yurianto di Gedung BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (14/3), setelah WHO menyurati Presiden Joko Widodo untuk menetapkan pandemi Corona di Indonesia sebagai darurat nasional.

Mengutip sehatnegeriku.kemkes.go.id dan Twitter @KemenkesRI, jumlah pasien yang positif terinfeksi virus Corona atau COVID-19 pada Sabtu (14/3) sudah mencapai 96 orang, sebanyak 8 pasien dinyatakan sembuh, dan beberapa yang tidak bisa sembuh karena ada faktor komorbid (penyakit penyerta) yakni 5 orang meninggal dunia.

Selain virus Corona, kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) juga mendapat perhatian ekstra di Indonesia. Menurut data grafis liputan6 yang diambil pukul 15.30 Kamis (12/3), kasus DBD di Indonesia periode 1 Januari hingga 11 Maret 2020, ada total 17.820 kasus positif, belum ada data yang sembuh, dan yang meninggal sudah 104 jiwa. Dilaporkan bahwa daerah terjangkit DBD meliputi 370 Kabupaten/Kota di 28 Provinsi. Angka kematian tertinggi di NTT sebanyak 32 jiwa, Jatim 15 jiwa, Jabar 13 jiwa, dan Lampung 11 jiwa. Sementara data pada waktu yang sama untuk pasien virus Corona periode 1-12 Maret 2020, total kasus positif sebanyak 34, sembuh 3 orang, meninggal 1 orang.

Loading...

Kasus DBD semakin melonjak seiring berjalannya waktu. Salah satu contohnya di Jawa Timur. Pada Jumat (13/3), Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, Herlin Ferliana seperti dilaporkan Antara, mengatakan bahwa kasus DBD di Jawa Timur sebanyak 2.016 dengan 20 pasien meninggal dunia.

Melonjaknya kasus DBD ini tak pelak menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) di beberapa wilayah di Indonesia, bahkan kondisi ini terjadi setiap tahun. Ada dua alasan menjelaskan ini menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi.

Dikutip Brilio.net dari liputan6, alasan pertama adalah adanya nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus demam berdarah dengue. Kedua, nyamuk Aedes aegypti masih tetap hidup dan berkembang biak di negara beriklim tropis. Penyebarannya meliputi seluruh daerah tropis di dunia, termasuk Indonesia.

Baik DBD maupun Corona, ditandai dengan gejala awal suhu tubuh naik. Meski sama-sama mengalami demam, ada perbedaan di antara keduanya. Berikut rangkuman Brilio.net dari liputan6, Minggu (15/3). 

1. Mengecek riwayat dan cara penularan.

Seperti diketahui virus Corona dikaitkan dengan riwayat perjalanan dari tempat yang dilanda banyak kasus infeksi COVID-19. Penyebarannya juga begitu mudah, yakni manusia ke manusia.

"Untuk yang COVID-19, pastinya seseorang itu dilihat, apakah ada riwayat perjalanan ke daerah-daerah yang terinfeksi wabah, kontak dengan orang yang sudah pernah punya kasus positif Corona atau pernah kontak dengan orang yang punya perjalanan ke daerah wabah Corona," ujar Siti Nadia Tarmizi saat konferensi pers di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta belum lama ini.

"DBD dan COVID-19 juga penyebabnya sama-sama virus. Nah, kalau demam berdarah perlu nyamuk (Aedes aegypti) untuk perantaranya, sedangkan Corona bisa menular dari manusia ke manusia," lanjutnya.

2. Daya tahan tubuh satu orang dengan orang lain berbeda.

"Kalau demam berdarah, kita semua tahu, demamnya tiga hari enggak turun-turun. Biasanya hari ke 3 sampai 5, pasien merasa lebih baik karena keringat dinginnya keluar. Padahal, kondisi itu masuk masa-masa syok (masa kritis)," jelas Siti Nadia Tarmizi.

Sementara untuk COVID-19, selain demam, seseorang yang ditengarai terinfeksi mengalami kelelahan, sesak napas, nyeri punggung, otot, dan batuk kering.

Dia melanjutkan, tumbang tidaknya seseorang jika terkena DBD maupun virus Corona bergantung pada sistem imunitas tubuh.

"Yang namanya infeksi virus sangat bergantung pada daya tahan tubuh. Itulah kenapa ada orang yang terinfeksi virus dengue ya santai-santai aja dan DBD-nya demam biasa. Tapi ada juga yang kena infeksi dengue, lantas menjadi berat. Kembali lagi pada daya tahan tubuh," imbuhnya.

Pada COVID-19, seseorang bisa tidak terjangkit COVID-19 karena kekebalan tubuh kuat.

3. Belum ada obatnya.

Sampai saat ini, belum ada obat untuk DBD dan COVID-19. Sekarang ini, para ahli dunia dari Tiongkok, Amerika Serikat, hingga Rusia turut membuat dan meneliti vaksin COVID-19.

"DBD itu enggak ada obatnya. Kita hanya menangani, bagaimana memperbaiki sistem sirkulasi darah karena keadaan syok. Ini terjadi akibat perdarahan, yang mana keluarnya darah pada sel pembuluh darah agar segera kembali normal," terang Siti Nadia Tarmizi.

"Sama juga kalau COVID-19, bagaimana pneumonia yang dialami pada pasien COVID-19 bisa diatasi," lanjutnya.