Brilio.net - Yogyakarta selain dikenal sebagai Kota Pelajar, juga akrab disebut sebagai Kota Budaya. Maklum, Jogja hingga kini masih sangat kuat menjaga dan melestarikan kekayaan budaya. Tak heran jika Kota Gudeg ini selalu menjadi destinasi favorit wisatawan lokal maupun mancanegara. Apalagi, Jogja juga menawarkan beragam tempat wisata mulai dari bangunan bersejarah, panorama alam hingga kekayaan kuliner.

Wajar jika tempat wisata dan hotel di Jogja selalu ramai dikunjungi para pelancong. Kekayaan budaya di kota ini semain kaya dengan adanya tradisi tahunan yang digelar Keraton Jogja. Hal inilah yang mengundang rasa keingintahuan wisatawan.

Tak heran, Jogja selalu didatangi wisatawan tanpa mengenal musim. Mau saat liburan atau tidak, kota ini selalu menjadi magnet bagi wisatawan. Nah jika kamu penasaran ingin menyaksikan tradisi di Kota Jogja, ketahui dulu daftar upacara terkenal di Jogja berikut ini.

1. Grebeg Maulud

Adat Jogja © 2019 brilio.net instagram @jogjainformasi/ardianmk

Kata “grebeg” berasal dari peristiwa Sultan saat keluar istana untuk memberikan gunungan kepada rakyatnya. Peristiwa ini diibaratkan seperti bunyi embusan angin yang sangat keras, sehingga mengeluarkan suara grebeg.

Grebeg Maulud diadakan setiap 12 Rabiul Awal. Acara ini ditandai dengan kirab gunungan yang terdiri dari beras ketan, sayur, lauk, dan buah-buahan. Gunungan ini diarak dari Istana Kemandungan ke Masjid Gedhe Kauman. Kirab dikawal 10 kompi prajurit Keraton.

2. Sekaten 

Adat Jogja © 2019 brilio.net instagram @khazanah_yogyakarta

Upacara Sekaten merupakan rangkaian dari upacara Gerebek Maulud. Tradisi adat yang satu ini merupakan upacara Keraton Jogja yang kental dengan nuansa religius (Islam). Sekaten merupakan penghormatan kepada hari lahirnya Nabi Muhammad SAW dan rutin diadakan setiap 5 sampai 11 Rabiul Awal.

Para abdi dalem akan berkumpul di alun-alun Jogja dan Solo. Mereka mengarak tumpeng dan satu set gamelan Kyai Nogowilongo dan Kyai Gunturmadu. Para abdi dalem berbaris dengan pakaian prajurit lengkap.

Sultan juga akan hadir ke Masjid Gedhe Kauman untuk mengikuti acara. Ia akan melakukan “udhik-udhik” atau menyebarkan uang receh. Setelah pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW, bunga cempaka akan disematkan pada daun telinga kanan Sri Sultan.

3. Labuhan Parangkusumo

Adat Jogja © 2019 brilio.net budayajawa.id

Upacara Labuhan Parangkusumo merupakan bagian dari rangkaian tradisi Hajad Dalem Tingalan Jumenengan atau upacara adat penobatan tahta Sultan Jogja. Ini merupakan upacara puncak yang bertujuan meminta keselamatan kesejahteraan pada Tuhan Yang Maha Esa.

 

Acara ini dilakukan di empat tempat yang berbeda. Lokasi pertama yaitu Pantai Parangkusumo, tempat melarung berbagai sesaji ke laut. Pantai ini dipilih bukan tanpa alasan. Pantai Parangkusumo dipercaya sebagai tempat Panembahan Senopati bertapa dan bertemu Nyai Roro Kidul yang berjanji membangun kerajaan besar dan kemudian berdirilah Kerajaan Mataram.

Lokasi kedua yaitu Gunung Merapi. Gunung ini dipercaya membantu Kerajaan Mataram saat berkonflik dengan Kerajaan Pajang tahun 1586. Saat itu, gunung meletus dan menghancurkan base camp pasukan Pajang. Mereka juga mundur dari wilayah Kerajaan Mataram.

Gunung Lawu menjadi lokasi ketiga. Di gunung ini terdapat petilasan raja kelima Kerajaan Majapahit. Upacara labuhan di sini merupakan bentuk penghormatan kepada Raja Brawijaya V karena telah membantu Kerajaan Mataram. Lokasi terakhir adalah Dlepih Kayangan Wonogiri. Tempat ini merupakan tempat para Raja Mataram bertapa dan memanjatkan doa kepada Tuhan.

4. Siraman Pusaka

Adat Jogja © 2019 brilio.net daniafebry.it.student.pens.ac.id

Setiap kerajaan pasti memiliki benda pusaka, termasuk Keraton Jogja. Setiap tahun, keraton melakukan upacara Siraman Pusaka untuk merawat benda-benda pusaka tersebut. Upacara ini dilaksanakan pada bulan Sura, tepatnya di Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Upacara dilakukan selama dua hari dan bersifat tertutup.

Benda-benda pusaka milik Keraton Jogja adalah Keris KK Ageng Sengkelat, Kereta Kuda Nyai Jimat, Tombak KK Ageng Plered. Benda-benda tersebut dibersihkan oleh pangeran, wayah dalem, dan bupati.

Selain dicuci, benda-benda pusaka diperlakukan dengan istimewa karena dipercaya bersifat sakral dan memiliki kekuatan surpanatural. Semuanya disimpan di tempat yang khusus dan tidak dipakai secara sembarangan. Ini juga berguna untuk menjaga kelestarian benda dari kerusakan.

Jangan lewatkan upacara adat di Jogja! Segera booking hotel melalui aplikasi Airy yang memiliki metode pembayaran beragam untuk memudahkan kamu saat melakukan transaksi. Dijamin aman dan tidak mengecewakan deh!