Brilio.net - Seringkali kamu mendapati temanmu atau saudaramu mengunggah foto anak, terutama yang masih berusia bayi? Atau justru kamu sendiri yang sudah punya anak sering melakukannya. Waspada kalau sudah keseringan, lho. Kenapa ya?

Studi terbaru menyebutkan bahwa ibu yang sering mengunggah foto bayinya di Facebook dan gagal mendapat respons positif dari orang lain, akan mengalami depresi. Hal ini disebabkan si ibu berupaya mendapatkan pengakuan bahwa telah menjalankan kewajibannya dengan baik. Namun tak mendapat 'like' atau komentar positif sebagaimana yang diharapkan.

Sebagaimana dikutip brilio.net dari laman THE TIMES OF INDIA, Jumat (27/5), studi tersebut meneliti sekelompok ibu-ibu dengan karakteristik berpendidikan tinggi, wanita Amerika bagian barat yang telah menikah, sekaligus bekerja penuh waktu. Dari sini ditemukan mereka yang merasakan tekanan sosial untuk menjadi ibu sempurna dan yang diidentifikasi paling kuat merasakan perannya sebagai ibu ternyata mengunggah foto anaknya lebih sering ke Facebook ketimbang yang lain.

Golongan ini juga lebih sering merasakan reaksi emosional lebih kuat terhadap komentar-komentar pada foto-foto bayi mereka. Hal ini yang menyebabkan mereka langsung merasa buruk suasana hatinya kalau tak ada yang memberikan komentar cukup positif.

Menurut Sarah Schoppe-Sullivan, profesor human sciences di Ohio State University, Amerika Serikat, menyatakan faktanya ibu yang lebih sering mengunggah foto anaknya di Facebook, mengalami gejala depresi setelah sembilan bulan menjalani peran sebagai orangtua ketimbang yang lainnya. Dengan penemuan ini, bukan berarti ada yang keliru dengan Facebook itu sendiri, lho.

Loading...

"Menggunakan Facebook mungkin tidak menjadi platform yang efektif bagi seorang perempuan untuk mencari dan mendapatkan pengakuan eksternal bahwa mereka ibu yang baik," jelas Jill Yavorsky, penulis dan mahasiswa doktoral Sosiologi dalam papernya yang muncul di jurnal Sex Roles.

Para peneliti menggunakan data dari New Parents Project, studi jangka panjang yang dipimpin Schoppe-Sullivan. Dalam studi ini, ada 127 ibu dari Ohio yang berpartisipasi.

"Karena sampel ini mencakup sebagian besar wanita berpendidikan tinggi dari latar belakang yang sudah menikah sekaligus bekerja, hasilnya mungkin tidak berlaku bagi semua ibu baru, terutama yang tidak bekerja di luar rumah," ujar Schoppe-Sullivan.

Sembilan bulan setelah bayi lahir, para peneliti mengukur berapa banyak perempuan dalam studi ini diidentifikasi terkait peran mereka sebagai ibu. Para peneliti juga mengukur frekuensi aktivitas Facebook mereka sejak anak mereka lahir.

Studi ini menunjukkan bahwa ibu baru dalam studi ini hampir secara umum menggunakan Facebook untuk berbagi informasi anak mereka. Tak hanya itu, sebanyak 98% dari mereka telah mengunggah foto bayinya. Di sisi lain ditemukan fakta bahwa rata-rata ibu baru melaporkan mengalami sedikit peningkatan menggunakan Facebook sejak bayinya lahir.

Salah satu kunci penemuan ini adalah bagaimana ibu yang berpikir penilaian sempurna dari masyarakat dan disinggung soal perannya bereaksi terhadap postingan Facebook. Reaksi para ibu terhadap komentar Facebook atas postingan terkait anaknya ini lalu diamati.

"Mereka merasa diakui ketika mendapat banyak 'like' dan komentar, tapi mereka juga merasa sedih dan kecewa ketika reaksi itu tak sesuai seperti yang mereka harapkan," tambah Yavorsky .

Tim studi ini menyarankan berdasarkan hasil temuan mereka bahwa bagi semua ibu dari berbagai latar belakang, tak masalah memanfaatkan Facebook untuk berbagi cerita dan foto tentang bayinya. Tapi diharapkan tak sampai mengambil hati respons orang lain terkait pola asuh yang diterapkan. Salah-salah bisa terbawa perasaan dan berujung pada depresi.