Brilio.net - China memang selalu diidentikkan dengan barang-barang KW dari brand ternama. Bahkan sekelas barang elektronik pun mereka memproduksinya sendiri seperti industri rumah tangga. Tak heran kalau Negara Tirai Bambu ini kerap diidentikkan dengan barang palsu dan selalu menjadi bahan guyonan orang-orang.

yeezy kw di china  © 2017 berbagai sumber

Yang terbaru adalah muncul foto-foto sebuah toko keren yang bertuliskan nama YEEZY di Provinsi Zhejiang, China. Hanya dengan nama toko itu, kita sudah tahu kalau toko itu pasti palsu. Ya, karena Kanye West sendiri yang berkolaborasi dengan Adidas untuk memproduksi Yeezy belum punya store resminya.

yeezy kw di china  © 2017 berbagai sumber

Loading...

Seperti brilio.net lansir dari laman Shanghaiist, Jumat (1/9), toko ini mengkhususkan diri pada Yeezy KW dan mereka memiliki berbagai warna untuk dipilih oleh konsumen. Sepatu itu disusun dengan rapi di rak untuk menciptakan suasana premium bagi para pembeli.

yeezy kw di china  © 2017 berbagai sumber

Mereka bahkan bekerja ekstra dengan membiarkan konsumen menyesuaikan Yeezy sesuai dengan keinginan. Mereka bisa membiarkan imajinasi konsumen dalam membuat Yeezy sesuai warna dan desain favorit para konsumen yang kemudian bisa dilukis dengan indah. Meskipun begitu, ketika melihat secara detail, tampak berbeda. Pada Yeezy asli, tertulis 'SPLY-350', tetapi untuk yang KW hanya tertulis 'Yeezy 550'.

yeezy kw di china  © 2017 berbagai sumber

Dikarenakan sepatu ini adalah peniruan, untuk harga tentunya lebih murah. Sepasang Yeezy KW ini hanya dibanderol seharga Rp 2 juta sepasang, padahal untuk yang asli dibanderol Rp 10 juta. Benar-benar murah, ya?

yeezy kw di china  © 2017 berbagai sumber

Nah, menurut pemilik toko yang bernama Hu, ia tidak takut dengan legalitas bisnisnya itu karena Hu telah mendaftarkan merek dagang 'Yeezy' di China pada tahun 2013. Pihak berwenang bahkan membenarkannya dan memberinya lampu hijau.

Nggak mengherankan memang, karena undang-undang hak cipta China bekerja berdasarkan first-come-first-serve alias siapa duluan yang datang maka ia yang dilayani. Itulah alasan mengapa beberapa perusahaan Barat gagal menuntut penyalin China selama ini. Ini berarti mereka benar-benar bisa mencuri ide seseorang dan menjualnya sebagai milik mereka sendiri. Miris!