Brilio.net - Bayangkan membuka lamaran kerja dari seorang kandidat, lalu menemukan kalimat ini di bagian surat perkenalan diri: "Ayah saya adalah sekretaris senior kepresidenan dan dapat memberikan banyak bantuan."

Itulah yang benar-benar terjadi. Bukan fiksi, bukan satire. Putra berusia 31 tahun dari Kim Jin-kook, Sekretaris Presiden Korea Selatan untuk urusan sipil, menuliskan kalimat tersebut secara harfiah dalam lamaran kerja yang dikirimkan ke sejumlah perusahaan. Beberapa perusahaan sampai menghubungi sang anak untuk memastikan apakah ia benar-benar putra seorang pejabat tinggi, atau sekadar mengaku-aku.

Siapa Kim Jin-kook?

Kim Jin-kook bukan pejabat biasa. Ia menjabat sebagai Sekretaris Senior Presiden Moon Jae-in untuk urusan sipil, salah satu posisi kepercayaan tertinggi di lingkaran dalam kepresidenan Korea Selatan. Sebelumnya ia pernah bertugas sebagai sekretaris presiden bidang hukum di era pemerintahan Roh Moo-hyun dan tercatat sebagai mantan pejabat di Badan Audit dan Inspeksi Korea.

Jabatan itu baru ia emban sembilan bulan sebelum kontroversi ini mencuat.

Isi CV yang Mengejutkan Banyak Perusahaan

Berdasarkan laporan MBC yang pertama kali menyiarkan kasus ini, putra Kim mengirimkan lamaran ke setidaknya lima perusahaan dengan mencantumkan nama dan posisi ayahnya secara eksplisit.

Dalam lamaran ke sebuah perusahaan konsultan, ia menulis di bagian yang menggambarkan proses tumbuh kembangnya: "Ayah saya adalah Kim Jin-kook, sekretaris senior untuk urusan sipil."

Ia kemudian menambahkan, "Ayah saya akan banyak membantu."

Ketika diminta menjelaskan kelebihan dan kekurangannya, ia menulis bahwa ia akan meminta ayahnya untuk "membantu mewujudkan impian perusahaan ini."

Di bagian lain suratnya, ia menulis: "Percayalah, saya tidak berbohong," lalu meminta perusahaan untuk "membantunya mengepakkan sayap di sini."

Sejumlah perusahaan yang menerima lamaran tersebut dilaporkan menghubungi sang anak, sebagian untuk mengonfirmasi identitasnya, sebagian lain karena curiga dengan isi lamaran yang dianggap sangat gamblang dan tidak lazim.

Belakangan terungkap pula bahwa sang anak mencantumkan keterangan palsu soal kelulusannya dari Universitas Yong In. Ia mengklaim lulus dengan gelar di bidang pelatihan olahraga pada Maret 2018, padahal kenyataannya ia pindah ke universitas lain dan kemudian drop out.

Kepada MBC, sang anak mengaku, "Saya pasti sedang tidak waras waktu itu. Seharusnya saya tidak melakukan itu, saya benar-benar minta maaf. Saya hanya sangat ingin mendapat pekerjaan."

Mundur Sebelum Diminta

Begitu laporan MBC tayang, Kim Jin-kook tidak menunggu tekanan dari mana pun. Keesokan paginya, ia langsung mengajukan pengunduran diri begitu tiba di kantor. Presiden Moon Jae-in menerima pengunduran diri itu seketika.

Siang harinya, Kim menggelar konferensi pers dan menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik.

"Saya sangat memohon maaf telah menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat," ujar Kim dalam konferensi pers pada Selasa (21/12/2021), dikutip brilio.net dari koreajoongangdaily.joins.com, Rabu (11/3/2026).

"Saya kurang sebagai seorang ayah. Saya percaya bahwa tindakan putra saya yang tidak pantas sepenuhnya merupakan akibat dari kelalaian saya,” lanjutnya.

Ia juga menegaskan prinsip yang selama ini ia pegang, “Saya selalu berpikir bahwa pejabat publik yang melayani rakyat tidak boleh menimbulkan kesalahpahaman atau kecurigaan yang berkaitan dengan anggota keluarga mereka."

Kim menyatakan bahwa ia merasa "sudah seharusnya bertanggung jawab jika ada sedikit pun rasa malu."

Sementara itu, pihak Istana Kepresidenan mengonfirmasi bahwa Kim tidak terlibat dalam proses lamaran kerja putranya. Kakak kandung Kim juga menyampaikan melalui Facebook bahwa sang keponakan telah menderita skizofrenia sejak sekolah menengah dan selama 15 tahun terakhir sering dirawat di rumah sakit sehingga kesulitan menjalani kehidupan sosial yang normal. Kim sendiri sempat menyebutkan bahwa anaknya sedang menjalani perawatan untuk gangguan kecemasan dan gejala obsesif-kompulsif (OCD).

Pada akhirnya, sang putra menarik seluruh lamaran kontroversial tersebut dan mengaku tidak sempat mengikuti sesi wawancara di perusahaan-perusahaan yang ia kirimi CV 'jual nama' tersebut. Menariknya, ia kemudian berhasil diterima bekerja di sebuah perusahaan IT lain yang dilaporkan sama sekali tidak mengetahui siapa sosok ayahnya sampai ia resmi diterima bekerja. Fakta ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa sang anak sebenarnya memiliki kompetensi untuk mendapatkan pekerjaan secara mandiri tanpa harus menjual nama besar ayahnya.

Kalau Ini Terjadi di Indonesia?

Kasus ini terjadi lima tahun lalu, tepatnya 2021, tapi pertanyaan yang ditinggalkannya masih terasa segar: seberapa besar nama dan jabatan orang tua memengaruhi perjalanan karier seseorang?

Di banyak tempat, termasuk Indonesia, praktik mencantumkan "koneksi" dalam proses melamar kerja bukan sesuatu yang asing. Bedanya, hal itu biasanya tidak dituliskan secara eksplisit di atas kertas, dan ketika terungkap, jarang sekali berujung pada pengunduran diri sang pejabat atas dasar tanggung jawab moral.

Yang membuat kasus Kim Jin-kook berbeda bukan semata soal apa yang dilakukan anaknya. Yang membuat orang tercenung adalah respons sang ayah: mundur sendiri, tanpa menunggu diminta, dan memilih menanggung malu secara terbuka meski secara hukum ia tidak terbukti bersalah.

Kalau kasus serupa terjadi di Indonesia, kira-kira apa yang akan terjadi?

Catatan: Kasus ini terjadi pada 2021 dan bersumber dari Korea JoongAng Daily. Disajikan kembali karena nilai dan pelajaran di dalamnya masih relevan untuk dibicarakan hari ini.