Brilio.net - Sebuah aksi cukup nekat dan di luar nalar manusia normal tengah dilakukan oleh seorang pria asal Desa Dono, Kecamatan Sendang, Tulungagung, Jawa Timur. Medi Bastoni, pria berusia 43 tahun itu nekat menempuh perjalanan kaki menuju Istana Negara di Jakarta dengan berjalan mundur.

Dilansir brilio.net dari liputan6.com, Medi Bastoni menjelaskan maksud dan tujuan aksinya tersebut. Ia mempunyai keinginan untuk ikut serta mengikuti upacara bendera pada saat momen Hari Kemerdekaan nanti pada tanggal 17 Agustus 2019 di Istana Negara.

Awal keberangkatanya dimulai dari Pendopo Kabupaten Tulungagung, lalu dia berjalan mundur menyusuri sepanjang jalur provinsi Tulungangung, hingga malamnya sampai di Kediri.

Selain ikut upacara bendera di Istana Negara Jakarta, ia juga berharap Presiden Jokowi nantinya bersedia untuk menemuinya. Jika diizinkan bertemu, Medi Bastoni sangat berharap ingin diberikan sebuah bibit tanaman oleh Presiden.

Jika nanti diberikan, ia memiliki rencana tanaman tersebut akan ditanam di Lereng Kaki Gunung Wilis sebagai simbol kepedulian sekaligus edukasi pentingnya merawat dan menjaga kelestarian hutan.

"Tujuannya kita ikut serta dalam upacara bendera, memperingati 17 Agustus. Misalkan, nanti bisa tembus ke Jakarta, ya kita usahakan bisa tembus ikut upacara di sana. Kalau tidak bisa kita cari tempat terdekat lebih dulu, kalau bisa di Semarang atau di Kebumen atau di mana. Setelah itu dilanjut ke istana," katanya, Jumat, 19 Juli 2019, malam.

Agar tidak menabrak sesuatu ketika berjalan mundur, Medi Bastoni sengaja melengkapi dirinya dengan kaca spion yang ditempatkan di depan wajahnya sambil membawa lampu penerang lalu lintas. Saat berjalan mundur, Medi hanya memakai sepasang sandal dan membawa tas ransel berisi kelengkapan pakaian.

Ia mengungkapkan alasannya berjalan mundur. Dia menginginkan semua warga negara Indonesia untuk sejenak menengok ke belakang mengingat dan menghargai jasa perjuangan para pahlawan.

"Kita ambil filosofi, kita melihat sejenak ke belakang mengingat jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan negara Indonesia sekian majunya ini, dan mengapresiasi pemerintahan Jokowi," ucapnya.

Medi mengaku sebelumnya dirinya pernah berulang kali melakukan jalan mundur dengan rute dan daerah yang berbeda.

"Di Tulungangung, yang rute pendek-pendek sering kali, kemarin dari Desa Dono ke puncak Wilis pada tahun 2018," ujarnya.

Selain itu, pada tahun 2016 lalu, ia juga pernah melakukan hal yang sama, berjalan mundur tujuannya ke Kalimantan. Meski usianya sudah tidak muda lagi, Medi merasa kondisi fisiknya masih tetap prima dan masih mampu untuk menempuh perjalanan jauh.

Meski apa yang yang dilakukannya ini mengandung risiko, berbahaya bagi keselamatan, tetapi apa yang menjadi kebiasaan dan tujuannya tersebut malah selalu mendapat dukungan dari pihak keluarga.

Sebelum berangkat menempuh perjalanan, ia sempat menerima bantuan dari para sahabatnya yang ada di desa. Bantuan itu diberikan sebagai wujud motivasi dukungan secara penuh terhadap upaya yang sudah dilakukan dirinya saat ini.

Selama pengalamannya menempuh perjalanan jauh berjalan kaki dengan cara mundur, kendala yang dihadapi dan tidak bisa dihindari adalah faktor cuaca. Guna memenuhi asupan kebutuhan makanan, ia biasa membeli di warung pinggir jalan.

"Kalau perjalanan jauh, saya bisa istirahat tidur di masjid, kantor polisi, atau di pos kamling," kata pria yang sehari-harinya memiliki usaha tambal ban tersebut.

Selepas dari Kediri, ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Nganjuk, Ngawi kemudian lewat jalur Pantura. Ia mengestimasi perjalanan menuju ke ibu kota nantinya memerlukan waktu kurang lebih 40 hari. Namun, ia akan berusaha secepatnya agar sampai ke Jakarta dalam rentang waktu satu bulan.

"Sekitar 40 hari, kalau bisa ya diusahakan satu bulan. Kalau ini masih tahap penyesuaian, masih agak capek pegel dan sering istirahat. Tapi kalau sudah tiga hari sudah terkontrol," ujar pria yang memiliki jiwa pencinta alam ini.