Brilio.net - Kapal layar tiang tinggi (Tall Ships) "Star Clipper" berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (21/5). Inilah kapal layar tiang tinggi pertama yang bersandar di pelabuhan Indonesia. Saat berlabuh, kapal layar yang berangkat dari Thailand itu membawa 130 wisman.

"Kalau untuk kapal cruise biasa sudah sering. Untuk jenis kapal tiang tinggi, ini yang pertama kalinya. Selain Jakarta, mereka akan berada di Indonesia selama 16 hari. Semua penumpangnya berbelanja dan berwisata," ujar Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kemenpar Indroyono Soesilo didampingi Ketua Bidang II Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Marsetio, Kamis (21/5).

Tall ship © 2017 brilio.net

Indroyono mengungkapkan, tahun ini Star Clipper akan melakukan perjalanan wisata di Indonesia sebanyak 20 paket perjalanan dengan lama pelayaran rata-rata 7 hari dengan pemberhentian (home port) di Bali.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

"Kapal tersebut akan membawa sebanyak 130 penumpang wisatawan mancanegara untuk berwisata bahari dari barat ke timur Indonesia, masuk dari Belitung Timur menuju Kepulauan Seribu, Jakarta, Madura, Labuhan Bajo, sampai di Wikelo, Nusa Tenggara Timur," sebut Indroyono.

Marsetio menambahkan, perusahaan yang menaungi kapal tersebut memliki armada kapal yang mengkhususkan kapal tall ships berjumlah tiga kapal bernama Royal Clipper, Star Clipper, dan Star Flyers.

"Ketiga kapal ini nantinya akan rutin mendatangi Indonesia. Ini cukup bagus untuk menambah angka kunjungan wisman kita. Bila mereka melakukan 20 kali perjalanan selama setahun dengan tiga kapal, dikalikan 130 wisman, berarti 7800 wisman per tahun. Dan biaya yang mereka keluarkan selama di Indonesia itu antara USD 1200 sampai USD 1300 ," terang Marsetio.

Tall ship © 2017 brilio.net

Apabila pada tahun ini pelayaran wisata cruise ship ini berjalan dengan sukses, pada tahun 2018 akan ditingkatkan jumlah kunjungannya dan tidak menutup kemungkinan akan mendatangkan kapal lain, seperti Royal Clipper, yang lebih besar.

Dalam kesempatan sama, anggota Tim Percepatan Pariwisata Bahari Aji Sularso mengungkapkan, sejauh ini faktor-faktor yang selalu menjadi perhatian dan pertimbangan adalah masalah prosedur CIQP (Custom, Immigration, Quarantine, Port Clearance) atau bea cukai, imigrasi, karantina, dan izin di pelabuhan.

"Biaya ground handling, baik resmi maupun tidak resmi, yang terlalu tinggi dan lebih mahal daripada negara tetangga. Kami terus mengupayakan hal ini berkoordinasi dengan instansi lainnya agar dipermudah," kata Aji.

Aji menambahkam, yang menjadi sasaran utama kapal tall ships saat ini masih Bali, karena akses penerbangan internasional dengan kemudahan pemindahan penumpang dari pesawat ke kapal sejauh ini hanya di Bali yang favorit dan belum adanya insentif fiskal bagi lalu lintas barang logistik untuk kapal.

"Belum lagi alur masuk ke pelabuhan yang relatif sulit dan dangkal, seperti Benoa, dan kurang lengkapnya peta laut di beberapa lokasi wisata merupakan tantangan," katanya.

Namun kabar gembiranya, Kapten kapal Star Clipper, Brunon mengungkapkan, banyak customer perusahaannya yang menginginkan menjadikan Indonesia sebagai HUB. Hal ini menurutnya, Indonesia tidak kalah indahnya dengan Thailand.

"Banyak sekali yang bertanya kenapa tidak dipusatkan di Indonesia saja. Bagi custumer kami, keindahan Indonesia baik itu alamnya, budayanya, dan makanannya sangat eksotis. Tidak kalah dengan negara lain di ASEAN," ungkap Brunon.

Star Clipper sebelumnya mengoperasikan kapalnya selama beberapa tahun di Thailand untuk menjelajah destinasi wisata Bahari di ASEAN. Namun, atas permintaan banyak pelanggannya itu, pada tahun ini memutuskan untuk beralih ke Indonesia sebagai uji coba.

Tall ship © 2017 brilio.net

"Bila uji coba ini lancar, tidak ada regulasi yang memberatkan, kami yakin Indonesia akan menjadi pusat pengoperasian kapal-kapal kami untuk ASEAN. Saat ini yang sangat berpotensi masih Bali. Tapi kami sudah mendengar bahwa pembangunan-pembangunan Marina di Indonesia sudah digencarkan," tukas Brunon.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengutarakan bahwa kapal layar tiang tinggi penting bagi pariwisata Indonesia. Selain mendatangkan wisman, spent money-nya sangat besar. Lenght of staynya juga panjang. “Kebetulan dua pertiga wilayah Indonesia merupakan perairan. Sangat ideal bagi wisata kapal pesiar dan kapal layar,” katanya.

Posisi Indonesia juga sangat strategis. Letaknya ada tengah Asia dan Australia yang merupakan ‘growing market’ wisata kapal pesiar dan kapal layat terbesar saat ini. “Indonesia juga merupakan negara yang bisa dikunjungi kapal pesiar dan kapal layar sepanjang musim, kita siap didatangi setiap saat,” ucapnya.

Dalam satu tahun terakhir ini Kemenpar gencar melakukan promosi di ajang-ajang internasional dan interaksi intensif dengan para operator Cruise Ship. Keberadaan Tim Percepatan Pariwisata Bahari yang dibentuk Menteri Arief Yahya dan mengangkat Indroyono Soesilo sebagai ketua tim merupakan langkah strategis untuk meningkatkan jumlah wisman dengan target 20 juta wisman pada tahun 2019.

(brl/del)

(brl/del)