Brilio.net - Suatu sore di Yogyakarta yang mendung, saya seperti kebanyakan anak muda lain menghabiskan waktu dengan scrolling media sosial. Ingin hati bersantai setelah seharian berjibaku dengan deadline pekerjaan.

Baru saja beberapa kali swipe ke atas, perut saya mendadak berbunyi keras, "Kruyuuuk". Teman satu meja saya bahkan sampai menoleh karena kerasnya. Apa boleh buat, saya memang tergoda dengan konten dari foodgram yang saya ikuti di media sosial.

Tak bisa dipungkiri, konten karya foodgram bisa membuat masakan yang sebenarnya biasa saja jadi hidangan yang menggoda selera. Mereka juga lihai melihat spot makan mana yang menarik untuk dikunjungi.

Istilahnya, foodgram bisa menyulap kuliner di sekitar kita jadi 'Instagramable'. Lebih dari sekadar mengisi perut, kuliner bisa jadi salah satu alternatif wisata yang lagi hits di kalangan anak muda zaman sekarang.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Menariknya lagi, kini foodgram tak hanya mengandalkan makanan lezat dan video restoran yang Instagramable. Follower bisa menikmati tingkah lucu, humor, parodi, dan aneka konten menarik lainnya dari para foodgram.

Lebih dari sekadar referensi kuliner, foodgram menawarkan konten-konten kreatif gaya hidup yang nggak bikin bosan.

Salah satu foodgram yang cukup ternama di Yogyakarta adalah @javafoodie. Akun foodgram ini dikelola oleh Unggul Wisesa Haddad atau biasa dipanggil Dadad Sesa.

Pria berperawakan tinggi ini sudah lama bermain di dunia kuliner kota pelajar ini. @Javafoodie sendiri sudah memiliki lebih dari 190.000 follower dan sudah mengunggah lebih dari 6.300 konten.

"Aku memang suka coba tempat-tempat baru seperti street hunting gitu," ujarnya sata ditemui brilio.net belum lama ini.

Dia berkisah, @javafoodie dirintis pada 2015. Awalnya, dia memulai karier dari platform blog. Saat itu, media sosial baru mulai populer.

Pembaca blognya menyarankan untuk terjun ke Instagram, yang saat itu masih belum sepopuler sekarang.

"Akhirnya turun ke Instagram dan mulai belajar foto. Waktu itu masih hobi saja. Berpotensi jadi tambahan penghasilan, nih. Dulu saya masih menjadi editor buku. Tapi kok ternyata mulai keteteran ketika melakukan dua pekerjaan," kisahnya.

Pada pertengahan 2015 itu, Dadad memilih untuk melanjutkan bisnis ini. Apalagi dari dulu dia memang ingin punya usaha sendiri.

Dadad pun mencari tim, salah satunya fotografer karena waktu itu belum terlalu mahir fotografi. "Sekarang ini, @javafoodie ada tiga anggota tim, fotografer, videografer, dan aku sendiri," jelasnya.

Dadad sendiri saat ini perannya lebih ke strategi dan copywriting. Semua caption dan kata-kata yang ada di akun tersebut merupakan buah pikirannya.

Menurutnya, asyik sekali ketika hobi bisa menjadi pekerjaan. "Awalnya memang sedikit susah. Modalnya lebih ke konsistensi mencari konten di mana-mana. Setiap hari harus muter, setidaknya lima tempat cari konten untuk Instagram," ujarnya mengenang awal perjuangan.

Setiap hari, lanjut dia, bisa tiga kali posting. Setiap ada tempat baru buka, pihaknya akan mendatangi. "Sama seperti mencari berita bagi wartawan. Kita jadi sering mutar-mutar Yogyakarta. Harus bisa bagi tugas," katanya berbagi tips.

Saat awal merintis @javafoodie, Dadad tak berharap profit akan datang dengan cepat. Dia mengatakan bahwa ingin lebih menekuni hobinya sendiri dulu. Hasil yang ia dapat, diputar lagi menjadi modal agar tetap bisa terus berkarya.

"Cukup untuk uang ganti transport lah, Mas," kelakarnya.

Dadad juga mengatakan bahwa sekarang mulai banyak pelaku usaha yang mengerti tentang kekuatan media sosial untuk promosi lewat Foodgram. Untuk urusan endorse, Dadad memberi tarif berbeda antara brand lokal dan nasional.

Dia ingin membantu pedagang dan pemilik resto kecil dengan memberikan eksposure lewat media sosial.

Dalam masa pandemi ini, cara kerja Dadad dan tim berubah total. Jika dulu sehari bisa keliling banyak tempat, kini harus di rumah saja. Uniknya, Dadad mengatakan bahwa dirinya tak pernah menganggur dan justru mendapat banyak pekerjaan.

"Waktu itu banyak banget orang tiba-tiba punya usaha online. Hampir tiga kali lipat dari hari biasanya, jadi dalam sehari bisa review 12 produk," ucapnya.

"Yang baru merintis usaha tidak aku kasih charge. Tujuannya memang untuk saling membantu. Kan banyak banget yang terkena PHK. Biasanya produk yang datang itu adalah frozen food. Jadi bagaimana caranya aku bisa membantu walau tak pakai uang. Kita kan sama-sama struggle saat itu," ceritanya.

Dadad Sesa punya pengalaman lucu selama menjadi foodgram. Ibunya sendiri belum mengerti betul tentang pekerjaannya. Walaupun begitu, sang ibu tetap merestui asal usahanya halal. Ibunya adalah seorang dosen jurusan Komunikasi di salah satu universitas ternama di Yogyakarta.

"Ibuku saja baru tahu ketika aku jadi dosen tamu di kampusnya. Kalau tak salah waktu itu seminar tentang wirausaha. Ibu sempat bertanya, 'Ngapain anakku di sini?'. Akhirnya pelan-pelan ibu mulai paham dengan pekerjaanku. Karena banyak mahasiswanya yang menjadikanku sebagai narasumbernya," kenangnya.

Pemilik akun foodgram @jogjataste, Nela Marghaniyata, bercerita, pertama berkarier pada akhir 2015. Awalnya dia buta dengan teknologi, tidak tahu apa itu Instagram. "HP saya itu dulunya model yang biasa dan jadul, ndak canggih seperti sekarang," ujarnya di sela-sela membuat konten.

Mulanya, dia sama sekali tidak kepikiran bakal terjun ke bisnis ini. Justru teman-temannya yang menyarankan agar dia mengunggah konten makanan ke Instagram.

"Teman-teman tahu saya itu suka makan-makan dan ngasih tahu tempat makan yang murah di mana," tuturnya. Kini akunnya telah diikuti hampir 500.000 follower.

liputan_2_laksa istimewa

foto: Brilio.net

Saat membuat konten, Nela dengan cekatan mengambil foto produk dari makanan yang sudah dipesannya. Salah satu temannya berperan sebagai model tangan. Usai menjepret, konten ini nantinya akan menjadi bahan untuk diunggah.

Yang menarik, penempatan makanan, piring, dan background juga dipilih dengan hati-hati agar menghasilkan konten yang menarik untuk Instagram.

liputan_2_laksa istimewa

foto: Instagram/@nelnelamarghaa

Dari hobi, Nela tak memikirkan profit saat merintis usahanya menjadi foodgram. Bahkan hingga sekarang, akun @jogjataste masih ia pegang sendiri. Tapi dia sering mengajak teman untuk membantu saat mencari konten.

Yang membuat @jogjataste berbeda dari yang lain, foodgram ini tak membeda-bedakan jenis makanan yang diulas. Dari yang PKL hingga highclass, semuanya menarik di mata wanita single ini.

"Semuanya saya rangkul. Mau ketemu simbah-simbah jualan bubur harga Rp 5.000 juga saya ulas," tegasnya.

Nela mengaku tak berpatokan dengan uang ketika mengulas kuliner. Menurutnya, dia ingin menjadi sumber referensi utama saat orang ingin berkunjung ke Yogyakarta. Dia berharap orang akan tahu tentang aneka kekayaan kuliner yang ada.

"Perkara mau dapat profit atau tidak itu bonus saja," katanya sambil tertawa.

Nela mengaku tak percaya bisa mengelola akun foodgram dengan follower sebanyak ini. Menurutnya, ini merupakan anugrah yang harus ia selalu jaga.

"Nah, saya itu main ke Pekan Budaya Tionghoa. Jadi saya mengulas street food di sana. Dulu itu lagi hits Salt Bae. Video yang saya buat waktu itu tak disangka jadi viral. Tiba-tiba booming, masuk ke Line Today. Kelimpahan follower sampai 70 ribu saat itu. Dari situ, saya mulai dikenal sama masyarakat," ceritanya.

"Nggak nyangka banget waktu itu. Apalagi saat itu Instagram tak seribet sekarang. Kalau dulu itu enak banget. Jadi pas saya dulu itu dapat viral dari platform tertentu, itu impactnya kerasa banget gitu," katanya.

Untuk urusan endorse, Nela mengaku tak mematok tarif tinggi untuk usaha kecil. Dia mengaku sangat mengerti perjuangan mereka untuk tetap bertahan di tengah persaingan ketat dunia kuliner. Belum lagi pandemi yang memporak-porandakan banyak mata pencaharian orang.

"Ketika Jogja mulai sedikit longgar, saya dan teman-teman komunitas berusaha membantu teman-teman UMKM. Jadi agar Yogyakarta cepat pulih dari pandemi. Sebenarnya pedagang kaki lima itulah yang terkena dampak luar biasa dari cobaan ini," tegasnya.

(brl/pep)