×
Sign in

Hello There

Sign In to Brilio

Welcome to our Community Page, a place where you can create and share your content with rest of the world

  Connect with Facebook   Connect with Google
Konsistensi Joshua membangun brand lokal berwajah global

View Image

0

BRILIO » Sosok

Konsistensi Joshua membangun brand lokal berwajah global

foto-foto: Instagram

Joshua merasa prihatin dengan brand-brand lokal yang sebenarnya sangat berkualitas tetapi kurang dihargai.

13 / 12 / 2015

Semua cerita hari ini bisa menginspirasi Anda untuk menyelesaikan tantangan Intel #ZEROTOHERO. Lengkapnya di sini: http://on.fb.me/1lIlZdz

Brilio.net - Penampilannya santai. Mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung sebatas siku tangan, dipadu kaos casual di dalamnya. Kancing kemeja dibiarkan terbuka untuk menampilkan kesan santai. Begitulah penampilan Joshua Sudihman (23), Managing Director KaneKin.co saat berbincang dengan brilio.net di sebuah pusat perbelanjaan di bilangan Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu.

Alumnus Communitation Design Visual Universitas Pelita Harapan tahun 2010 ini sukses mewarnai kancah media nasional lewat KaneKinMagazine sejak tahun lalu. Dalam satu tahun perjalanannya, KaneKin telah menghasilkan dua majalah berkualitas yang mengangkat brand lokal sebagai kontennya. Edisi ketiga yang rencananya segera dilansir akan memuat tentang kreativitas anak-anak muda Indonesia.

Dalam membuat majalah ini, Joshua tidak sendiri. Dia menggandeng rekan kuliahnya, Felix Pradipta yang kini lebih banyak mengurusi media. Sementara Joshua lebih sering berurusan dengan agency dan klien. Majalah tiga bulanan ini sejatinya produk KaneKin.co, perusahaan graphic house yang menangani urusan tentang brand lokal.

Lho, kenapa harus brand lokal? Joshua merasa prihatin dengan brand-brand lokal yang sebenarnya sangat berkualitas tetapi karena kurang dikemas apik dalam promosi di media, jadi kurang dihargai. Boleh jadi faktor ini pula yang menyebabkan banyak masyarakat di Indonesia kurang percaya diri menggunakan brand lokal. Dianggap kurang keren.

Loading...

Kalau kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin brand lokal hanya akan menjadi tamu di negeri sendiri. Karena itu, majalah KaneKin yang mengusung konsep minimalis dan eksklusif muncul dengan hasrat ingin menjadi media yang membantu promosi brand-brand lokal agar terlihat ekslusif dan bisa bersaing dengan brand asing. "Karena itu di edisi perdana kami lebih banyak mengulas tentang brand-brand lokal," ujar Joshua.

KaneKin memuat artikel-artikel menarik, mengulas perjalanan sebuah brand di Indonesia yang dikemas dengan gaya cerita. Penampilan majalah ini makin ciamik dengan dukungan foto-foto berkualitas tinggi sehingga siapapun yang melihatnya akan mengira ini majalah luar negeri.

Tapi, jangan tanya soal profit. Kendati majalah ini dilego Rp 155.000 per eksemplar, tapi Joshua mengaku tidak mengambil untung sama sekali dari sisi penjualan. Sebab majalah ini menitikberatkan pada nilai KaneKin yang ingin ditonjolkan. "Saat ini kita fokus ke brand awereness dulu, tidak memikirkan profit. Malah di edisi pertama dan kedua kita nombok. Di edisi ketiga ini, harga kertas naik, ongkos produksinya sekarang sudah Rp 170.000 per eksemplar. Kita tidak bisa naikin harga jual, makanya kita nombok," keluh Joshua.

Kendati begitu, kata Joshua, permintaan majalah ini begitu besar. Hal ini dibuktikan dari oplah edisi perdana dan kedua yang ludes terjual. Malah, permintaan tertinggi justru datang dari luar negeri terutama Amerika Serikat. Sayangnya, Joshua dan rekannya belum bisa memenuhi permintaan itu karena terbentur biaya pengiriman yang jauh lebih mahal ketimbang harga majalahnya.

Pemintaan dari Negeri Paman Sam itu muncul setelah KaneKin memanfaatkan Instagram sebagai media promosi. Mengapa Instagram? Joshua memilih Instagram karena basic pendidikannya dari jurusan desain visual. Platform yang lebih mewakili kebutuhan visual adalah Instagram.

Alasan lainnya, konsistensi. Karena menurut dia, faktor inilah yang membuat banyak orang sukses. Terlebih dia teringat pesan desainer grafis ternama Chris Lee yang menyarankan dia konsisten dalam mengerjakan sesuatu kendati bisa melakukan semuanya.

"KaneKin besar di Instagram makanya kita tidak main di Twitter maupun Facebook. Fokus di Instagram. Kita jangan rakus mau ambil semua project karena tidak akan sanggup menanganinya. Harus ada spesialisasi. Sekarang makanya KaneKinfokusdi media dan brand activation," katanya.

Faktor konsistensi juga yang saat ini menghambat anak-anak muda yang notabene melek teknologi tetapi tidak memanfaatkannya secara maksimal karena itu tadi, tidak konsisten. Dia melihat bagaimana sosok Raditya Dika begitu konsisten memanfaatkan Twitter tanpa tergoda untuk menggunakan Facebook atau sosial media lain kendati dia memilikinya.

Karena itu dia menyarankan agar anak-anak muda lebih konsisten memanfaatkan sosial media dan berani keluar "kandang" untuk membuat jaringan dan terus belajar agar bisa sukses. Apalagi menurut Joshua, anak-anak muda yang besar saat ini sangat diuntungkan dengan kemajuan teknologi sehingga bisa membantu meraih sukses. Ini juga yang dirasakan Joshua.

Konsistensi Joshua membangun brand lokal berwajah global

Kerja keras dan modal patungan

Tentu saja, faktor lain yang tak kalah penting adalah kerja keras kendati harus menghadapi rintangan berat. Sama seperti saat Joshua dan Felix membangun KaneKin. Joshua yang berprinsip live out loud ini mendirikan KaneKin berawal dari passion dia sejak saat kuliah di semester 3. Saat itu dia kerap mendapat project freelance. Ketika mendapat pekerjaan besar dari perusahaan pamannya, Joshua merasa tak akan sanggup kalau dikerjakan sendiri. Alasannya sih, nggak percaya diri. Lalu dia mengajak Felix untuk mengerjakan project itu.

Setelah itu, kedua pemuda ini kerja praktik di studio dosen mereka saat semester 5. Di sinilah mereka disemangati untuk berani membuka usaha sendiri. Setelah kerja praktik selesai, hanya dalam waktu enam bulan mereka nekat membuat perusahaan dengan modal awal Rp 30 juta hasil patungan yang digunakan untuk menyewa rumah yang sekaligus dijadikan kantor.

Nahasnya, ketika perusahaan baru mereka mendapat project besar pertama, mereka mengalami kecelakaan menabrak mobil orang. "Jadi belum dapat uang sudah harus keluar uang duluan. Dosen kami bilang itu tanda-tanda mau dapat rezeki. Benar saja, setelah project pertama itu, kita dapat tawaran-tawaran lain," kisahnya.

Sebelum membuka perusahaan, Joshua dan Felix sempat magang di kios print dan fotocopy milik dosen mereka. Saat itu banyak teman-teman mereka mencemooh mengapa mereka mau bekerja di tempat itu. "Saya sama Felix tidak peduli dengan cemoohan itu. Kita lagi membangun emas. Begitu juga saat mulai pertama buka usaha, banyak yang meragukan kami, termasuk dari keluarga. Kita jelaskan sekarang sedang ada kesempatan, kalau kita sia-siakan mungkin kesempatan itu tidak akan datang lagi," kata Joshua.

Bahkan, saat awal buka usaha, Joshua dan Felix terbiasa hidup ngirit. Untuk makan pun mereka cukup beli nasi bungkus di Warteg depan kantor mereka. Mereka terbiasa membeli nasi siang hari sekaligus untuk makan malam. Tak jarang pula mereka makan di pinggir jalan sambil jongkok. "Prinsipnya kita tidak ingin membebani orangtua. Kita tidak mau pinjam uang sama orangtua," kenang Joshua.

Cobaan lain yang pernah mereka rasakan saat ditipu. Setelah mengerjakan project selama tiga bulan, klien tidak membayarnya. Kesalahan mereka saat itu karena project yang dikerjakan tidak didasarkan pada kontrak kerja. Hanya sebatas kepercayaan saja. Tak pelak, hal ini menjadi pengalaman berharga bagi Joshua.

Tak ingin gagal dalam berusaha, Joshua dan Felix bertekat harus kerja keras tanpa libur. Sepulang kuliah mereka masih harus bekerja malam hari menyelesaikan project-project yang ditangani. Termasuk saat usai menyelesaikan skripsi, setelah sidang mereka tak punya waktu untuk merayakannya sebagaimana biasanya anak-anak muda melakukannya. Mereka memilih balik ke kantor dan bekerja.

"Sampai akhirnya November tahun lalu saya sama Felix merasa passion kita lebih di media. Kita ingin menginspirasi orang dengan gaya hidup kita yang boleh dibilang sebagai anak muda yang berani. Akhirnya kita bangun media itu, KaneKin," kata pria yang gemar membaca buku-buku karya motivator seperti Bong Chandra, Merry Ryana, Tung Desem Waringin ini.

Dalam menjalankan bisnis, Joshua selalu berpegang teguh pada gaya hidup yang dia jalani, live out loud bahwa hidup itu harus total. Jadi dia ingin menginspirasi orang berdasarkan pengalaman yang pernah dia jalani. Joshua selalu mengerjakan apa yang dia suka, do what you love. Dia juga terinspirasi dua founder Go-Jek, Nadiem Makarim dan Michaelangelo Moran.

Ke depan, Joshua rencananya akan menggarap project KaneKin Colaborations, mengumpulkan anak-anak muda kreatif untuk kerja bareng. "Kita lebih mau memfasilitasi anak-anak muda yang punya passion sama dengan kita untuk lebih berkreativitas," tegasnya. Semoga! 

Sementara Anda terinspirasi kisah-kisah mereka, ikuti tantangan kami di Facebook untuk mendapatkan kesempatan menjadi bagian dari pasukan Zero to Hero serta memenangkan PC berprosesor Intel Pentium setiap minggunya. Informasi detail silakan ke: http://on.fb.me/1lIlZdz





Pilih Reaksi Kamu
  • Senang

    100%

  • Ngakak!

    0%

  • Wow!

    0%

  • Sedih

    0%

  • Marah

    0%

  • Love

    0%

Loading...

RECOMMENDED VIDEO

Wave white

Subscribe ke akun YouTube Brilio untuk tetap ter-update dengan konten kegemaran Milenial lainnya

MORE
Wave more