Brilio.net - Menjaga kesehatan tubuh merupakan hal yang sangat penting. Apalagi sejak munculnya pandemi Covid-19, masyarakat dianjurkan untuk menjaga imunitas tubuh agar tidak mudah terpapar virus.

Bahkan Organisasi kesehatan Dunia (WHO) mengimbau masyarakat untuk melakukan upaya demi mencegah penularan virus. Seperti mencuci tangan, menjaga jarak, mengenakan masker saat berada di tempat umum, hingga menganjurkan masyarakat untuk giat berolahraga. Dengan rutin berolahraga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan tidak mudah terpapar virus.

Seiring dengan imbauan gaya hidup sehat, warga pun berbondong-bondong untuk menerapkan gaya hidup sehat, salah satunya dengan olahraga. Seperti halnya dengan salah satu warga Jakarta, Trishi Setiayu yang mengatakan bahwa dirinya jadi keranjingan olahraga sejak munculnya pandemi.

Sebelumnya, wanita usia 41 tahun ini mengatakan bahwa pada Februari 2020 ia sudah berniat untuk melakukan olahraga karena saat konsultasi ke ahli gizi, ia mengalami masalah berat badan dan ia baru mengetahui bahwa berat badannya sudah melebihi berat badan di usianya.

"Kata dokter, saya over weight dan berat badan saya melebihi usia sebenarnya. Dari situ saya pengen jalani gaya hidup sehat," ujar Trishi kepada brilio.net lewat pesan singkat, Rabu (11/11).

Loading...

Giat olahraga di tengah pandemi © 2020 brilio.net

foto: dokumen pribadi

Berbarengan dengan munculnya pandemi di awal Maret, akhirnya wanita 41 tahun itu memutuskan untuk konsisten olahraga. Awalnya ia menjalani olahraga sepeda statis mengingat masyarakat dianjurkan untuk menerapkan social distancing. Kemudian ia juga mengikuti kelas olahraga secara virtual.

"Sebenarnya tujuan olahraga ini untuk bakar kalori sehingga targetnya bisa defisit kalori. Tapi makin lama, saya mulai bisa nikmatin olahraga itu sangat menyenangkan. Kalau enggak keringetan, kayaknya enggak seger. Sejak itu saya mulai ketagihan olahraga," tambahnya.

Trishi mengatakan bukan hal yang mudah untuk bisa ketagihan olahraga seperti sekarang ini. Banyak tantangan yang ia hadapi saat awal melakukan olahraga, terutama saat pertama kali ia mengikuti kelas workout.

"Awal ikut latihan itu kaya mau die, ngikutin gerakan olahraga seperti kelas burn & tone, ABS core dan LIIT. Gerakannya susah dan berat, jadi sering belibet sama gerakannya. Belum lagi saya belum paham trik inhale dan exhale. Jadi ketika awal olahraga bener-bener saya kewalahan belajar gerakannya," tuturnya.

Kendati demikian, Trishi mengatakan bahwa olahraga merupakan proses dan butuh kesabaran. Salah satu kunci utamanya adalah harus konsisten untuk bisa merasakan langsung dampkanya.

"Hasilnya sekarang berat badan saya ideal, dari (ukuran pakaian) size L sekarang ke size S. Dan yang saya paling amaze, saya bisa olahraga lari. Padahal biasanya kalau lari, pasti pusing dan perut saya sakit, sekarang saya mulai bisa lari dan mulai ikutan virtual run," terangnya.

Selain mengalami penurunan berat badan dan mendapat tubuh yang ideal, Trishi merasa tubuhnya menjadi lebih sehat. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang ini masyarakat dituntut untuk menjaga kesehatan tubuh agar tidak mudah terserang virus.

"Sejak olahraga tubuh saya jadi lebih sehat dan segar. Dan meski sudah 41 tahun bisa tetep punya body goal," ucapnya.

Hal serupa juga dirasakan oleh wanita cantik Geaby Wisesa, warga Jakarta. Selama masa pandemi yang mengharuskan masyarakat melakukan aktivitas di rumah, wanita usia 24 tahun yang akrab disapa Geaby itu memilih untuk mengisi waktu luang selama WFH dengan olahraga.

"Saya inget, punya resolusi mau olahraga setiap hari. Ya udah akhirnya aku olahraga pakai aplikasi, lalu ikutin panduan dari YouTube dan sampai sekarang jadi keranjingan buat selalu sempatkan 1 jam sehari untuk olahraga," ucapnya.

Giat olahraga di tengah pandemi © 2020 brilio.net

foto: dokumen pribadi

Meskipun tak bisa olahraga secara langsung, ia memanfaatkan teknologi dengan olahraga via zoom seperti Barre, Zumba, LIIT, LIFT, dan sedang rutin jalan pagi 2x seminggu.

Ia mengatakan banyak manfaat yang ia dapatkan selama ia menekuni dunia olahraga. Dalam urusan pekerjaan, ia merasa lebih produktif.

"Sejak olahraga kan selalu bangun pagi, jadi merasa lebih produktof aja. Terus mind & muscle connection-nya juga lebih sinkron jadi pas mau bergerak bener-bener tepat untuk melatih otot yang mana. Dan yang paling penting, membuat diri sendiri happy," jelasnya.

Selain itu, Geaby mengatakan bahwa di saat pendemi seperti sekarang ini penting untuk berolahraga. Karena selain baik untuk kesehatan jasmani dan juga mental.

"Penting banget (olahraga saat pandemi) karena bisa menyehatkan pikiran. Apalagi selama WFH aku yakin kita jadi kurang produktif yang mengakibatkan muncul masalah mental. Dengan olahraga bisa mencegah timbulnya itu," katanya.

Dengan ia giat olahraga seperti ini, ia berharap bisa memberi semangat kepada teman-temannya untuk mulai menjalani gaya hidup sehat dimulai dari olahraga. Menurutnya, pencapaian dalam olahraga bukan dari segi angka tapi membuat olahraga jadi menyenangkan untuk dijalani dalam jangka panjang.

"Ingin punya habit sehat juga biar jadi contoh buat keluarga dan orang di sekitar. Olahraga sendiri kan banyak macamnya, bisa jalan pagi atau lari pagi yang suka. Bisa menghirup udara segar pagi-pagi juga bentuk kita menjaga kesehatan. Enggak harus yang gobyos gitu yang penting kita bergerak" jelasnya.

Sementara itu, Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Dokter Michael Triangto, Sp.KO mengatakan sejak munculnya pandemi, ia melihat adanya perubahan tren gaya hidup masyarakat yang lebih fokus pada kesehatan. Selain mematuhi protokol kesehatan, masyarakat jadi lebih memperhatikan kesehatan dirinya sendiri dan juga keluarga.

"Saat ini masyarakat jadi lebih rajin olahraga secara teratur, tren yang positif. Semoga tak hanya berlaku untuk saat ini, tapi juga dapat mengubah pola pikir masyarakat ke yang lebih permanen untuk new normal dalam kehidupannya," jelas Dokter Michael.

Giat olahraga di tengah pandemi © 2020 brilio.net

foto: dokumen pribadi

Saat ini, jenis olahraga sudah sangat berkembang mulai dari olahraga yang ringan hingga yang berat. Namun pilihan jenis olahraga harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.

Dokter Michael mengatakan masyarakat memiliki tujuan yang berbeda saat olahraga, ada yang untuk kesehatan, prestasi, ada juga yang untuk rekreasi. Bila masyarakat memiliki tujuan olahraga untuk kesehatan, dianjurkan untuk olahraga dengan intensitas ringan dan sedang.

"Di saat pandemi ini, olahraga enggak perlu terlalu cape, terengah-engah, pegal, berkeringat, dan sakit perut. Engga perlu, justru itu dapat menurunkan imunitas tubuh," terangnya.

Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran ini menjelaskan, olahraga sendiri dibagi menjadi dua bagian, olahraga aerobic dan anaerobic. Aerobic sendiri yang intensitasnya ringan, sementara yang anaerobic yang intensitasnya berat. Namun, untuk olahraga di tengah pandemi ini Dokter Michael lebih menganjurkan untuk olahraga aerobic dengan intesitas yang ringan dan sedang.

"Tak perlu yang yang terlalu berkeringat. Yang penting intensitasnya ringan, gerakannya berulang, dan waktu melakukannya panjang, Misalnya seperti jalan cepat, bersepeda, dan senam. Itu yg paling cocok bisa dilakuakn di dalam maupun luar rumah," jelasnya.

Selain itu juga, Dokter Michael menekankan kepada masyarakat saat olahraga harus tetap mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker. Meskipun tertutupnya hidung dan mulut saat olaharaga membuat akses tubuh untuk mendapatkan oksigen jadi terbatas, namun itu aturan yang harus dipatuhi.

"Rasa sesak dan tidak nyaman pasti dirasakan tapi itu suatu kewajiban. Kalau tidak pakai kamu tak hanya mencelakakan diri kamu tapi juga keluarga. Kita olahraga untuk kesehatan, jadi harus tetap dipakai," pungkasnya.