Brilio.net - Sebagai negara dengan wialayah hampir 70 persen di kelilingi lautan, tentu kekayaan biota lautnya melimpah. Ya, Indonesia memang terkenal dengan kekayaan biota laut yang tidak dimiliki oleh negara lain. Tak heran, Indonesia menjadi salah satu pengekspor ikan terbesar.

Namun sayangnya, meski kekayaan ikannya melimpah, masih banyak masyarakat yang tidak mengkonsumsi ikan. Alhasil banyak masyarakat yang mengalami gizi buruk akibat kurangnya asupan protein dalam tubuhnya.

Menurut Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, ada beberapa alasan konsumsi ikan di Indonesia terbilang rendah, hanya 32 kilogram per tahun per kapita. Catatan itu tertinggal jauh dibanding Jepang yang sudah mencapai lebih dari 72 kilogram per tahun per kapita.

"Ikan memang banyak kandungan yang baik untuk tubuh. Namun justru kebanyakan ikan yang bersih, segar, dan sehat tidak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Selain itu juga rasa amis dan banyak duri yang membuat masyarakat Indonesia tidak mau mengkonsumsi ikan," jelasnya kepada media saat konfrensi pers di Gand Indonesia, Jakarta, Kamis (10/8).

Lanjut dia, rupanya kegemaran masyarakat mengkonsumsi daging merah ketimbang ikan juga jadi faktornya. Da mitos yang berkembang jika makan ikan tidak sehat.

"Banyak yg menganggap makan ikan tidak sehat dan mitos lain. Ada juga yang mikir makan ikan menunya begitu saja. Kalau nggak dibakar ya digoreng, beda sama daging. Dan mereka merasa makan daging itu keren. Hal seperti itu yang harus dijawab," ujarnya.

Sependapat dengan Teten, Chef Vindex Tengker pun juga mengatakan bahwa masyarakat Indonesia lebih bangga mengkonsumi daging ketimbang ikan. Makan daging di masyarakat dicap sebagai simbol kelas sosial tinggi.

"Dengan makan daging, banyak orang merasa naik kelas. Karena daging yang memang memiliki harga yang cukup mahal," tutupnya.