Brilio.net - Pemerintah meminta dukungan dan upaya semua pihak untuk menekan risiko kenaikan kasus positif Covid-19 pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3 dan pentingnya disiplin protokol kesehatan jelang akhir tahun juga terus dilakukan. Partisipasi semua pihak pun dibutuhkan sehingga kebijakan tersebut dapat diterapkan secara optimal.

Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), M. Adib Khumaidi menjelaskan, peran masyarakat sangat besar dalam upaya menekan potensi kenaikan kasus. Begitu pula dengan peran tenaga kesehatan yang terus waspada, di samping pemerintah selaku pembuat regulasi. Selain itu, Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 juga diharapkan selalu bekerja dan melakukan sosialisasi agar masyarakat tetap disiplin protokol kesehatan secara ketat.

“Yang terpenting adalah standar yang sudah ada sekarang harus dipertahankan. Jangan mencoba mengurangi standar,” tegasnya dalam Dialog Produktif Media Center Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) - KPCPEN, Selasa (23/11). 

Adib menyebutkan, koordinasi di tingkat daerah juga harus dilakukan guna mengantisipasi terjadinya lonjakan kasus. Terkait antisipasi menjelang Nataru apabila terjadi lonjakan kasus, ia menambahkan bahwa tenaga kesehatan perlu didukung dengan kesiapan lain seperti obat dan peralatan.

Walaupun kasus saat ini rendah, Adib menekankan untuk tidak meninggalkan kewaspadaan, mengingat Covid-19 selalu berkembang dan berubah. Dalam hidup berdampingan dengan Covid 19, intervensi kepada virus tidak dapat dilakukan. Sebaliknya, manusia sebagai host(inang) dapat melakukan upaya adaptasi agar selamat.

“Yang penting adalah gaya hidup sehat, protokol kesehatan karena saat ini kita dalam upaya adaptasi, dan lingkungan yang sehat,” tandas Adib. 

Sementara itu, anggota Satgas Penanganan Covid-19 Sub Bidang Mitigasi, Falla Adinda menegaskan besarnya peran pemerintah daerah dalam upaya menekan risiko penularan diakibatkan oleh mobilitas libur Nataru, termasuk mencegah kerumunan dan memastikan masyarakat mematuhi aturan.

Selama tidak ada perpindahan manusia, kata Falla, maka kasus infeksi atau penularan bisa ditekan. Ia mengharapkan masyarakat memahami bahwa pembatasan mobilitas ditetapkan bukan untuk menghambat pulihnya perekonomian. Namun, hal itu untuk mencoba mengendalikan Covid-19 agar Indonesia bisa mempertahankan situasi yang telah membaik saat ini.

“Kebijakan (PPKM) diambil untuk menyelamatkan yang paling penting dulu, yaitu nyawa manusia,” ujar Falla yang juga seorang dokter ini.

Terkait kesadaran protokol kesehatan, menurut Falla perubahan perilaku sudah ada dalam masyarakat. Selanjutnya, masyarakat perlu menghidupkan pola pikir bahwa hidup harus selalu berhati-hati dan peka terhadap kondisi dan data di tempat mereka berpijak. Kepekaan tersebut akan membuat masyarakat dapat lebih adaptif menyikapi perkembangan yang ada.

“Pada dasarnya, aturan prokes tidak ada perubahan dari awal pandemi. Dengan menerapkan hal-hal tersebut setidaknya kita berkontribusi menurunkan kasus, jadi bukan kita yang menularkan atau tertular. Itu harus tetap dijalankan,” tandasnya.

Keluarga di rumah bisa mengurangi risiko penularan Covid-19 dengan di rumah saja. Agar anak tidak bosan di rumah selama liburan, bisa mencoba membuat prakarya bersama orang tua. Kardus bekas di rumah bisa disulap menjadi aneka barang unik seperti lampu, tempat pensil, atau kalender.

Pendiri start-up mainan anak DIY (Do It Yourself) Prakardus, Muhammad Luqman Baehaqi membagikan alasan mengapa prakarya bisa jadi solusi bermain anak di rumah.

“Banyak orang tua dan anak ingin mengisi waktu dengan lebih berkualitas dan yang paling penting, orang tua juga terlihat, sehingga juga akan memperkuat ikatan orang tua dengan anak,” paparnya.

Luqman mengajak untuk tidak keluar rumah bila tidak betul-betul perlu.

“Kita dapat bersinergi, saling dukung, saling menguatkan dan mengingatkan walaupun tanpa keluar rumah, dengan menggunakan media sosial, handphone, dan sarana lainnya,” pungkasnya.

(brl/lak)