Brilio.net - Tsunami kembali menerjang pantai di Selat Sunda pada Sabtu (22/12) sekitar pukul 21.27 WIB. Tsunami ini menerjang pantai sekitar Selat Sunda daerah Kabupaten Pandenglang dan Lampung Selatan. Pantai Tanjung Lesung juga tidak lepas dari terjangan ombak.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui siaran pers melaporkan bahwa mendeteksi dan memberi peringatan gelombang tinggi yang berlaku tgl 22 Desember pukul 07.00 WIB hingga tgl 25 Desember pukul 07.00 di wilayah perairan Selat Sunda. "Mohon jangan berada di pantai Selat Sunda, itu jangan kembali dulu," ujar kepala BMKG Dwikorita Karnawati saat melangsungkan konferensi pers mengenai tsunami ini.

Awalnya juga terjadi hujan lebat dan angin kencang di perairan Anyer pada sabtu (22/12) pukul 09.00 - 11.00 WIB. Tak disangka di malam hari gelombang mulai naik dan menerjang pemukiman sekitar pantai Selat Sunda.

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan tsunami ini ada kaitannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang saat purnama.

"Penyebab tsunami di Pandeglang dan Lampung Selatan adalah kemungkinan kombinasi dari longsor bawah laut akibat pengaruh erupsi Gunung Anak Krakatau dan gelombang pasang saat purnama. BMKG masih meneliti lebih jauh untuk memastikan penyebab tsunami," cuitan akun Twitter @Sutopo_PN.

Loading...

Kejadian tsunami ini tergolong langka. "Fenomena tsunami di Selat Sunda termasuk langka. Letusan Gunung Anak Krakatau juga tidak besar. Tremor menerus namun tidak ada frekuensi tinggi yang mencurigaikan. Tidak ada gempa yang memicu tsunami saat itu. Itulah sulitnya menentukan penyebab tsunami di awal kejadian," cuitan akun Twitter @Sutopo_PN.

Meski demikian, pihak BMKG memastikan bahwa tsunami ini ada kaitannya dengan aktivitas vulkanik.

"Saya pikir rekan-rekan sudah mendengarkan dari bapak kepala Badan Geologi yang menyampaikan bahwa jam 21.03 ada catatan aktivitas vulkanik yaitu di Pulau Sertung ya. Catatan seismografnya dari Badan Geologi di Pulau Sertung dan ini selaras sejalan juga dengan catatan BMKG. Sensor yang ada di Cigeulis Banten itu mencatat pada pukul 21.03 menit 24 detik itu jadi waktunya sama dengan yang dicatat oleh Badan Geologi di Pulau Sertung dan yang di Cigeulis Banten. Jadi dari ini menguatkan sebetulnya bahwa tsunami ini dipastikan akibat aktivitas anak gunung krakatau," jelas Kapus Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono dalam konferensi pers BMKG.

Hingga saat ini 165 orang luka-luka dan 20 orang meninggal dunia. "Data sementara dampak tsunami di Pantai di Kab Pandeglang, Serang dan Lampung Selatan hingga 23/12/2018 pukul 04.30 WIB: tercatat 20 orang meninggal dunia, 165 orang luka-luka, 2 orang hilang dan puluhan bangunan rusak. Data korban kemungkinan masih akan terus bertambah," cuitan akun Twitter @Sutopo_PN.