Brilio.net - Apa yang kamu bayangkan ketika kamu mendengar kata kretek? Tentunya pasti tak jauh-jauh dari rokok bukan? Ya, selama ini rokok kretek memang sangat melekat di dalam masyarakat kita. Bahkan sampai sekarang pun mengonsumsi rokok kretek sudah dianggap sebagai warisan budaya. Setuju atau tidak setuju, merokok sudah lama menjadi bagian budaya bangsa Indonesia.

Ketika mengulik sedikit banyak tentang rokok, benda kecil itu faktanya memang punya arti yang sangat penting di dalam masyarakat. Rokok sudah dianggap bisa selalu memberikan kenikmatan tersendiri bagi para penghisapnya. Tapi akibat efek rokok yang selama ini dianggap tak baik untuk kesehatan, berbagai langkah pun dilakukan pemerintah untuk menekan jumlah pengguna rokok. Salah satunya dengan menggunakan gambar-gambar menyeramkan yang ditampilkan pada kemasan rokok.

Tapi apakah itu berpengaruh kepada masyarakat kita? Sepertinya tidak.

Budaya merokok yang nyatanya selama ini juga menyasar para anak muda pun akhirnya mulai berubah. Bukan soal 'takut' dengan dampak buruk untuk kesehatan, tetapi mungkin sebagian dari mereka sudah mengikuti perkembangan zaman dan tertarik untuk berinovasi merokok dengan cara lain, yakni rokok elektrik atau kini akrab disapa dengan vape.

Fenomena transisi budaya ini juga terjadi di kota Yogyakarta. Anak-anak muda di kota yang kerap disebut Jogja itu kini mulai banyak menggandrungi vape dan sebagian sudah meninggalkan rokok kretek.

Loading...

Dari penelusuran brilio.net, vape kali pertama masuk di Indonesia sekitar tahun 2013 dan mulai banyak dikonsumsi pada awal pertengahan 2014, dan menjadi ramai di Jogja usai ada kampanye 'Indonesia Support Vaping'. Vape menjadi populer di kalangan anak-anak muda karena devicenya yang trendi dan bisa menghasilkan 'asap' yang banyak. Mereka menyebutnya uap.

Para vaper sangat wajib mempunyai gadget utama, yakni device, alat segenggaman tangan hampir serupa dengan powerbank smartphone yang rata-rata terbuat dari besi. Device tersebut dibagi menjadi dua bagian, yakni Mod adalah mesinnya dan RDA adalah alat pembakar liquid (cairan kimia yang ditampung dan dibakar di dalam device, dihisap seperti layaknya merokok kretek lalu dikeluarkan uapnya).

Rata-rata pengguna vape dulunya adalah perokok juga. Mereka mengonsumsi vape hampir sama seperti saat mereka masih merokok, bercengkerama di kafe, resto atau pun di rumah/kost dengan sama-sama menghisap vape. Beberapa kalangan anak muda mengaku suka vape karena bisa menghasilkan uap yang banyak, ketimbang asap rokok.

Sampai sekarang di Jogja sudah ada sekitar 150-an toko/vape store yang menjual kebutuhan para vapers. Seperti menjual device yang berupa Mod, RDA, dan beraneka macam liquid yang kini variannya terbagi menjadi dua golongan rasa, yakni fruity (buah-buahan) dan creamy (kopi, cokelat, vanila, dll). Para produsen device dan liquid ada yang dibuat di Amerika, Malaysia, hingga buatan Indonesia sendiri.

BACA JUGA: Museum Kretek, antara bisnis dan pertaruhan harga diri

Pengamatan tersebut diamini oleh Tata Jamil (27), salah satu pengguna vape alias vaper yang bisa dianggap 'senior' sejak tahun-tahun awal kemunculan vape di kota gudeg.

"Vape itu pertama kali masuk di Indonesia tahun 2013 dan Jogja adalah kota pertama yang pertama kali kemasukan vape. Base pertama kali importir itu ada dua, satu Jogja dan kedua di Padang," kata Tata ketika ditemui brilio.net di Warkop DIY, Minggu (26/3).

Menurutnya, setelah masuk di Jogja dan Padang, vape baru melebar ke kota lainnya. Sebut saja seperti Malang, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Bali. Dari tiap-tiap kota tersebut pasti punya komunitas sendiri yang berbeda-beda.

"Kalau sekarang memang Jakarta menjadi pusat terbesar nomor satu karena dia jelas di sana kotanya besar, mau nggak mau pasti cepet. Tapi sekarang pun untuk aksesnya Jogja tetep nomor tiga, dan nomor dua sekarang Bali. Itu gambaran scene market vape secara keseluruhan di Indonesia sekarang," ujarnya.

Tata menegaskan vaper sungguh berbeda dengan perokok. Menurut dia sampai kini vape masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, meski itu di kota-kota besar sekali pun termasuk Jogja.

"Vapers pun sering dapat complain dari sebagian orang karena menganggap uap kita annoying. Sebabnya karena beraroma dan visualnya kurang sedap, dianggap terlalu banyak. Kita ini minoritas dan nggak bisa sembarangan buang uap di mana-mana. Beda sama perokok, elu mau ngerokok di pingggir jalan juga nggak masalah. Ya kan? Orang juga jarang complain. Kecuali di situ memang dilarang dan ada orang yang bener-bener nggak bisa sama asap rokok," paparnya.

Untuk bisa menjadi vaper, menurut Tata tidaklah sulit jika memang kita sudah mantap betul meninggalkan rokok kretek biasa. Dari segi finansial, device dan liquid untuk para vaper bisa ditebus dengan harga sekitar Rp 200-300 ribu. "Kalau di Jogja mungkin Rp 200 ribu udah dapet. Device yang untuk pemula sekitar dua ratusan ribu, liquid ya sekitar Rp 60-80 ribuan."

Menurut Tata, dia dulunya memang perokok kretek yang awalnya cuma penasaran dan ingin coba-coba saja. Namun setelah dirinya merasa sreg dan menemukan sesuatu yang berbeda, akhirnya Tata memutuskan memilih meninggalkan kebiasaan merokok dan mantap memilih mengonsumsi vape hingga kini. Alasan lainnya karena dirinya selalu antusias dengan inovasi teknologi yang semakin hari semakin dinamis dan canggih.

"Pertama-tama pasti penasaran dulu lah. Aku pelajari dulu vape ini apa. Beli pun awal-awal juga nggak berani yang mahal-mahal dan coba-coba yang paling pas," kata dia.

Secara pribadi, vape dipilih Tata karena ia berprinsip manusia itu pasti selalu punya keinginan untuk mengembangkan sesuatu yang lebih baik. Dan sederhananya elektronik juga.

"Ketika kamu mahir mengetik dengan mesin ketik, lalu kamu melihat ada sebuah komputer yang baru, yang istilahnya sama nih sebenernya, cuma caranya aja beda. Rokok sama vape gitu. Praktisnya beda dan tentu segala macemnya juga beda. Dan itu aku yakin bakal berkembang terus karena itu tadi, teknologi," paparnya.

Selain itu, Tata juga punya alasan yang kuat untuk membuatnya memilih vape. Sebab ketika dia masih menjadi perokok, dia merugi karena borosnya dia menghisap banyaknya batang per hari. Lalu saat dia beralih ke vape, dia merasa bisa mengontrol dirinya sendiri untuk vaping atau vaporan (istilah sehari-hari orang yang sedang melakukan kegiatan menggunakan vape).

"Dan satu lagi ngevape itu nggak enak. Vaporan itu hampa. Makanya ketika ada vaper dan dia sedang sendiri, biasanya yang aku tahu intensitas dia untuk ngevape pasti sedikit. Kalau perokok, ketika aku juga masih ngerokok, pas aku sendiri, kencengnya naudzubillah. Apalagi di kamar kalau lagi kerja, kenceng banget," kata Tata sembari tertawa.

Vape pun membuat fisik Tata berbeda ketika dibandingkan saat dia masih menjadi perokok. Dia mengaku masih mencoba merokok satu batang untuk sekadar kerinduan, meski bisa dikatakan sudah sangat jarang mengonsumsi kretek.

"Kalau ngevape, itu malah bisa aku kurangin. Impactnya buat aku ya, karena aku yang berbadan besar pagi-pagi tetap segar dan fresh. Dan sampai sekarang fine-fine aja. Kalau pun aku pengen merokok, itu rokok berat, cuma sebatang, dan sangat jarang aku lakukan lagi. Alasanku, ada beberapa hal yang ada di dalam rokok tapi nggak bisa aku temui di vape, begitu juga sebaliknya. Tapi sekarang aku tetap lebih memilih menjadi vaper ketimbang perokok," papar pria bertubuh 'subur' yang sudah merokok sejak 2003 silam dan memulai menjadi vaper di 2014.

BACA JUGA: Pro-kontra soal Kretek dan Vape di sebagian kalangan musisi Jogja

Di luar pembahasan sehat atau tidak sehatnya kedua barang ini, Tata berharap agar orang-orang jangan selalu membanding-bandingkan rokok kretek dan vape. Sebab menurutnya kedua benda ini hal yang sebenarnya berbeda dan tidak bisa diadu.

"Ada anggapan ngevape itu jauh lebih mahal. Kalau untuk awal-awal, pasti mahal. Karena ini masalah rasa yang tidak bisa kamu temukan di rokok kretek. Menurutku vape itu mengajarkan kebutuhan. Kalau kamu ngevape sekadar lifestyle, boros pasti. Tapi kalau aku yang sudah jadi vaper, liquid 60 ml bisa sampai 2 minggu bahkan 1 bulan malah," kata Tata.

Tata pun juga memprediksi jika budaya vaping ini belum mampu mengalahkan budaya merokok yang selama ini juga masih dilakukan anak-anak muda di Indonesia.

"Vape belum bisa jadi budaya. Mungkin bisa, tapi setelah satu dasawarsa dan itu berarti sudah masif dilakukan banyak orang seperti perokok sekarang," imbuh Tata menutup obrolannya.

--

Ini kata perokok kretek soal fenomena vape

"Aku melihatnya itu kimia. Sementara kita tahu, sesuatu yang masuk ke dalam tubuh kalau itu sifatnya berbahan kimia, baik itu obat atau yang lainnya itu sebenarnya nggak baik. Karena saya tetap menganut yang herbal tetap lebih baik. Pokoknya yang asli dari alam, berbentuk tumbuhan. Karena Tuhan menciptakan sesuatu itu pasti ada gunanya buat kita, herbal itu alami."

Pernyataan panjang lebar itu langsung diungkapkan Tunggul Nuraga, pelaku seni senior sekaligus ayah dua anak, ketika brilio.net membuka perbincangan soal fenomena vape di Jogja, khususnya anak-anak muda. Pria yang sudah kepala lima ini mengaku sudah puluhan tahun menjadi perokok sejati dan sama sekali tak pernah tertarik mengonsumsi vape meski sudah banyak yang menawarinya.

"Saya sudah 45 tahun merokok kretek dan alhamdulillah saya sehat-sehat saja sampai sekarang. Karena kretek jelas warisan budaya Indonesia, sudah jadi tradisi masyarakat kita. Kalimat merokok itu membunuhmu dan sebagainya itu kalau mau diulik lagi kan sebenernya semua cuma jargon-jargon. Kalau dibilang itu menyebabkan kanker, itu sebenarnya tergantung dari tubuh kita sendiri-sendiri, bukan masalah merokok atau tidak," kata Tunggul saat ditemui di Si Jago Chicken Jogja, Senin (27/3).

Alasan Tunggul tidak tertarik dengan rokok elektrik alias vape cukup sederhana. Menurutnya kretek adalah yang terbaik karena prinsip dasarnya adalah herbal dan sebenarnya tidak berbahaya jika kita sendiri sudah yakin soal hal itu.

"Saya adalah orang sangat susah dipengaruhi oleh budaya yang seperti itu. Jadi artinya itu kan budaya yang modern. Artinya gini. Kalau herbal, tubuh manusia itu punya yang namanya anti-bodi. Ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuh, kalau itu herbal pasti selalu bisa diterima atau ditolak oleh tubuh. Tapi kalau sifatnya kimia, pasti selalu memaksa tubuh kita tapi nggak secara alami. Kalau ada apa-apa dengan kimia itu ya pasti anti-bodi kita sebenarnya belum siap dan akan berefek buruk dalam jangka panjang," paparnya.

Pandangan tersebut juga disepakati oleh Anto Lele (35), salah satu aktivis media sosial dan manajer band di Jogja. Pria yang punya hobi merawat kumis ini sudah merokok kretek selama 20 tahunan dan mengaku tak pernah tertarik dengan vape. Alasan utamanya dia menganggap benda elektronik selalu punya efek negatif untuk tubuh manusia.

"Kalau menurut saya pribadi segala sesuatu barang elektronik yang berhubungan langsung dengan tubuh itu pasti ada efeknya (buruk). Contoh kecil saja, handphone kita kantongi itu jelas ada efeknya meski pun jangka panjang. Ada radiasi, lalu mesinnya panas, dan nantinya bisa melemahkan selangkangan, misal. Begitu pun dengan rokok elektronik, pasti ada risiko lainnya. Seperti misal yang sudah banyak diberitakan, jika tak berhati-hati nanti bisa meledak dan mungkin beberapa contoh lainnya," ujar Anto Lele saat ditemui brilio.net di Warkop DIY, Kamis (23/3).

Selain itu, Anto Lele juga ogah menggunakan vape karena alasan ribet dan boros secara finansial ketimbang aktivitas merokok.

"Nggak praktis juga, kan? Kalau habis (device vape), harus ngecas mengisi dayanya. Dan kalau saya melihat teman-teman saya yang sudah memakainya, rata-rata mereka selalu menghabiskan sekitar Rp 100.000 untuk liquidnya, padahal itu nggak cuma satu liquid saja. Dan yang saya tahu dari beberapa teman, rata-rata mereka menghabiskan liquid cuma sekitar seminggu. Menurut saya itu boros, karena tidak bisa sampai satu bulan. Jadi kalau ada anggapan pakai rokok elektronik lebih ngirit, ya menurut saya itu salah," paparnya.

Pandangan antara vape dan rokok kretek juga diutarakan oleh Fanani Nurhuda (39). Pria yang berprofesi sebagai pegiat media sosial sekaligus manajer beberapa band di Jogja ini mengatakan jika mengonsumsi vape baginya memang sekadar tren, yang tak bisa lepas dari gaya hidup dinamis zaman sekarang. Fanani mengaku sudah menjadi perokok sekitar 25 tahunan, meski kini juga mengonsumsi vape juga sejak tahun 2014 silam.

"Iya lah (vapor adalah tren gaya hidup). Cuma saya memilih mengonsumsi vape juga karena beberapa alasan. Jadi ada beberapa tempat yang terutama di lingkungan kerja saya, yang di sana tidak memperbolehkan merokok tapi kita masih membutuhkan aktivitas memegang sesuatu dan melepaskan asap. Ada no smoking area tapi vape welcome. Tapi selama ini intensitas saya masih banyak merokok ketimbang ngevape," kata Fanani saat berbincang-bincang dengan brilio.net, di Warkop DIY, Kamis (23/3).

Ketiga orang di atas pun akhirnya punya pandangan yang hampir sama soal fenomena vape. Fenomena vape tak akan bertahan lama, meski mereka memprediksi paling lama vape akan ngehits di Indonesia hanya tiga tahun ke depan.

Anto Lele dan Fanani memiliki keyakinan jika budaya vape tak akan bisa 'membunuh' budaya merokok kretek.

"Nggak bisa lah, kalau mau dibilang vape itu membunuh kebiasaan merokok. Karena menurutku yang namanya gaya hidup itu pasti akan surut. Kebiasaan vape pasti juga akan seperti itu. Tapi tidak untuk tembakau, kretek," kata Anto Lele.

"Saya nggak tahu ini ada statistiknya atau nggak. Tapi menurut keyakinan saya, selama ini pertumbuhan orang mengonsumsi kretek dan orang mengonsumsi vape itu jelas masih selalu lebih tinggi dengan orang yang merokok kretek," imbuh Fanani.