Brilio.net - Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) Abdullah Azwar Anas memaparkan sejumlah strategi antimainstream untuk mengembangkan daerah. Strategi tak lazim ini ia sampaikan dalam forum evaluasi kinerja pelayanan publik yang digelar Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB), Jumat (22/11/2019).

Dalam acara yang dihadiri Menpan-RB Tjahjo Kumolo dan lebih dari 400 perwakilan daerah se-Indonesia itu, Anas memaparkan pentingnya langkah terobosan bagi pemerintah daerah. "Kita di daerah punya keterbatasan dana, SDM, dan waktu. Maka harus berinovasi, bikin langkah antimainstream. Kalau tidak, ya pengembangan daerah bakal flat," ujar Anas yang baru saja meluncurkan buku Anti-Mainstream Marketing.

Dalam kesempatan itu, Anas juga memaparkan beberapa pelayanan publik antimainstream yang sudah dikerjakan di Banyuwangi. Mulai dari Setiap Dinas adalah Dinas Pariwisata, Dari Kota Santet Menuju Kota Internet, Semakin Terbawah Semakin Prioritas Teratas, Semakin Misteri Semakin Diminati, Semakin Tersembunyi Semakin Dicari, hingga Rumah Sakit Bukan Tempat Orang Sakit.

"Contoh langkah anti-mainstream adalah paradigma kita bahwa setiap dinas adalah dinas pariwisata adalah wujud dari tourism centered economy, ekonomi yang bersumbu pada pariwisata. Maka contohnya, sektor perindustrian bergerak ke pariwisata dengan mendorong pengembangan Museum Kereta Api saat PT INKA dalam proses membangun pabrik kereta terbesar se-ASEAN di Banyuwangi," jelas Anas.

Dalam hal pelayanan publik, Anas juga menekankan proses transformasi berdasarkan pendekatan 'Dari Kota Santet Menuju Kota Internet'. Pendekatan ini mengubah Banyuwangi yang dulu dikenal dengan citra klenik, kini menuju daerah dengan pelayanan publik berbasis digital. Terbukti, sebanyak 189 desa kini sudah teraliri fiber optic untuk menunjang pelayanan publik.

"Di banyak desa sudah dikembangkan self service di mana warga kampung saat mengurus dokumen tidak perlu bertemu petugas," ujar Anas.

Anas juga memaparkan inovasi terbaru di Banyuwangi, yaitu 'One Student One Client' di mana satu mahasiswa jurusan kesehatan mendampingi satu ibu hamil. Para mahasiswa itu diajak mendampingi ibu hamil berisiko tinggi untuk memantau kesehatan dan asupan gizinya.

Anas mencontohkan strategi kreatif lainnya, seperti 'Semakin Misteri Semakin Diminati' pada Taman Nasional Alas Purwo. Selain dikenal sebagai taman nasional yang telah ditetapkan sebagai cagar biosfer dunia, Alas Purwo juga kaya akan kearifan lokal nilai-nilai leluhur.

"Berkat sejumlah kemasan, tingkat kunjungan ke Alas Purwo melonjak pesat, bahkan 2018 lalu dikunjungi lebih dari 211.000 orang," papar Anas.

Berkat beragam inovasi tersebut, tak heran jika Kementerian Dalam Negeri dua tahun berturut-turut pada 2018 dan 2019 menempatkan Banyuwangi sebagai Kabupaten Terinovatif peringkat pertama dari kabupaten seluruh Indonesia.

(brl/pep)