Brilio.net - Sragen menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah yang terinfeksi virus corona. Untuk menekan laju penambahan Covid-19, pemerintah setempat begitu tegas memberikan hukuman bagi siapapun yang tak mau mengikuti anjuran untuk melakukan karantina mandiri. Banyak warga Sragen yang baru berdatangan dari luar kota untuk pulang kampung.

Salah satu hukuman yang disiapkan pemerintah setempat menempati rumah berhantu untuk warganya yang tak patuh. Rumah tersebut memang dijadikan tempat isolasi bagi warga yang tak mau menjalani karantina mandiri. Sejauh ini, sudah ada tiga warga yang sempat menempati rumah angker di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen tersebut.

Selama satu minggu tinggal di rumah tersebut, mereka merasa tidak betah dan minta dipulangkan karena rindu dengan keluarga, ketakutan dan sering mimpi seram. Menanggapi hal tersebut, Satgas Lawan Covid-19 langsung memulangkan mereka. Sebelum dipulangkan, ketiga warga tersebut diminta membuat surat pernyataan untuk berkomitmen melanjutkan isolasi mandiri.

“Ketiga orang itu minta pulang karena sudah tidak betah lagi dan katanya sering mimpi seram. Ada yang menangis juga karena ketakutan dan bosan. Kalau melihat penampakan hantu belum. Akhirnya ya kami pulangkan tiga hari lalu [Kamis (23/4/2020)]. Mereka harus membuat surat pernyataan lagi untuk sanggup karantina mandiri. Orang tua, keluarga, dan lingkungan ikut mengawasi selama masa isolasi,” ujar Mulyono seperti dikutip brilio.net dari liputan6.com, Senin (27/4).

Warga Sragen minta pulang dikarantina di rumah angker  liputan6.com

Loading...

Ilustrasi/foto: liputan6.com

Kini rumah angker di Sragen yang sengaja disiapkan untuk karantina bagi warga bandel tersebut sudah kosong lagi. Menurut Mulyono, kebijakan karantina di rumah angker itu ada sisi baiknya, terutama bagi para pelaku perjalanan atau pemudik yang lain. Dia mendapat laporan ada pemudik yang takut pulang ke rumah karena tidak mau dimasukkan ke rumah angker untuk karantina.

Tak sedikit juga warga yang berinisiatif menjalani karantina mandiri dengan mencari rumah kosong di dekat keluarga.

“Ada dua orang warga yang pulang kemudian dengan inisiatif sendiri menempati rumah kosong di dekat rumahnya. Mereka punya kesadaran sendiri karena baru pulang dari Palembang. Mereka sadar diri bila ada ada virus khawatir bisa menularkan yang lain,” kata Mulyono.

Dua orang yang bekerja di proyek tersebut baru saja pulang dari Palembang pada Jumat (24/4). Mereka terpaksa pulang karena proyek di Palembang sudah tidak berjalan. Dua warga itu, sebut dia, tinggal di Dukuh Selorejo, Sepat. Dia bersyukur bila ada warga yang memiliki kesadaran mencari rumah kosong sendiri daripada diminta tinggal di rumah angker untuk menjalani karantina.

Langkah Desa Sepat untuk menyediakan rumah angker pun diikuti Kecamatan Gondang, Satgas Desa menyediakan rumah londo atau rumah kolonial di bekas Pabrik Gula Kedung Banteng menjadi rumah karantina. Camat Gondang, Catur Sarjanto juga membenarkan kabar tersebut. Hingga kini rumah londo yang sudah disiapkan tersebut belum ada warga yang menghuni.