Brilio.net - Pada Sabtu (11/4) lalu, Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan eksistensinya. Sang induk, Gunung Krakatau sendiri pernah menjadi momok menakutkan ketika ia terbangun dari tidurnya. Gunung Krakatau menjadi salah satu gunung dengan letusan terdahsyat di dunia dalam periode sejarah.

Gunung Krakatau menjadi inspirasi pelukis terkenal di dunia. Selain lukisan, meletusnya gunung ini pada tahun 1883 membuat seorang penyair membuat Syair Lampung Karam.

Syair tersebut dapat dikatakan menjadi sebuah sastra-jurnalistik. Selain itu, terdapat fakta-fakta yang menarik dari syair tersebut. Kira-kira, apa saja sih fakta terkait Syair Lampung Karam tersebut?

Berikut brilio.net rangkum lima fakta Syair Lampung Karam dilansir dari liputan6, Minggu (12/4).

1. Syairnya menggunakan aksara Arab-Melayu.

Loading...

Muhammad Saleh sempat menuliskan dengan menggunakan aksara Arab-Melayu, tentang betapa dahsyat letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada Agustus 1883.

Teks tersebut diterbitkan kembali oleh Suryadi, filolog dan peneliti University of Leiden, Leiden, Belanda, jurusan Asia Tenggara dan Oseania , dengan judul "Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883" pada 2009 lalu.

2. Ditulis pasca 3 bulan meletusnya Krakatau pada tahun 1883

Mengutip indonesia.go.id, Minggu (12/4), catatan ini ditulis di daerah pengungsian di Singapura, tiga bulan setelah momen meletusnya Gunung Krakatau.

3. Cerita dari saksi mata lain, RA van Sandick.

Mantan Kepala Insinyur bernama RA van Sandick, menjadi saksi mata atas peristiwa meletusnya Gunung Krakatau. Kala itu, ia berada di atas kapal Loudon hendak menuju Teluk Betung di Lampung dari Batavia. Dalam buku In het Rijk van Vulcaan: de Uitbarsting van Krakatau en Hare Gevolgen, selain memberi estimasi korban meninggal mencapai 70 ribu jiwa, Sandick juga melukiskan dampak letusan Gunung Krakatau.

“Ada sebuah pemandangan mengerikan, di mana pesisir pantai Jawa dan Sumatra benar-benar hancur. Semua yang ada berwarna kelabu dan suram, desa-desa dan pepohonan menghilang. Bahkan, runtuhannya pun tidak bisa kita lihat," tulis Sandick.

"Gelombang telah merusak dan menghabiskan semua penghuninya, rumah, tanaman, dan binatang ternak mereka. Saat itu sulit untuk mengenali Anyer di mana tidak ada satu pun rumah yang berdiri di kota itu. Ini adalah sebuah pemandangan dari sebuah akhir zaman,” sambungnya.

4. Kedahsyatan meletusnya Krakatau.

Letusan Gunung Krakatau terjadi dua hingga tiga hari, pada 26 hingga 28 Agustus 1883. Letusan itu melontarkan lebih dari 10 kilometer (km) kubik material piroklastika, baik dalam bentuk aliran awan panas maupun abu letusan, dan materialnya menutupi wilayah seluas 827 ribu km persegi, dilansir dari liputan6.

Di hari kedua, letusan tersebut diikuti gelombang tsunami setinggi 40 meter yang membawa material panas vulkanik dan menghantam pesisir Lampung dan Banten. Konon, gelombang itu mencapai hingga Afrika atau meliputi sekitar seperempat bumi. Suara letusannya terdengar mencapai Sri Langka dan Karachi di bagian barat, juga Perth dan Sydney di bagian timur.

5. Isi Syair Lampung Karam.

Orang yang mati ketika itu,

Terlalu banyak bukan suatu,

Ada terselit di pohon kayu,

Ada yang pipih dihimpit perahu.

Datanglah gelombang yang besar sekali,

Bertaburlah umat di sana sini,

Ada yang hilang anak dan bini,

Mana yang sampai ajal pun mati.

Hamba mendengar demikian peri,

Rahmat juga di dalamnya negeri,

Tiada seperti Pulau Sebesi,

Orangnya tidak kelihatan lagi.

Pulau Sebuku dikata orang,

Ada seribu lebih dan kurang,

Orangnya habis nyatalah terang,

Tiadalah hidup barang seorang.