Brilio.net - Kurang dari sebulan lagi, Pemilu serentak akan digelar. Adu argumen dan saling serang di antara dua kubu semakin panas, terutama di media sosial antara kubu Cebong dan kubu Kampret.

Kampanye di media sosial dianggap efektif di era digital. Hasil riset dari Wearesocial Hootsuite pada Januari 2019 mengatakan bahwa pengguna media sosial di Indonesia sebanyak 150 juta orang atau sebesar 50% dari total populasi. Hal inilah yang membuat politik digital digencarkan oleh kedua belah kubu.

Cebong, merupakan sapaan untuk pendukung paslon nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf Amin dan Kampret, merupakan sapaan pendukung paslon nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno saling menunjukkan kejelekan masing-masing lawan dan kian meramaikan media sosial belakangan ini.

Dalam istilah dunia maya, Cebong dan Kampret ini disebut buzzer. Buzzer politik merupakan individu atau kelompok yang memainkan isu politik dan sudah lumrah dalam pesta demokrasi, terutama pada era digital. Tapi sebenarnya apa sih kegunaan dan keuntungan dari para buzzer?

Untuk menjawab pertanyaan tentang buzzer politik, Opini.id menggelar diskusi politik bertajuk ‘NGOPINI’ (Ngopi sambil Beropini) dengan tema Gerilya Digital Cebong-Kampret.

Diskusi ini diadakan pada 29 Maret 2019 di Yan Kedai Kopi Lantai 2, Jl. H. Agus Salim No 57, Menteng, Jakarta. Dengan mengundang Hariadhi (buzzer paslon 01), Mustofa Nahra (buzzer paslon 02), Kun Arief Cahyantoro (pengamat medsos & cyber security) dan juga menghadirkan salah satu komika Indonesia, M. Rizal.

Jadi, bagi kamu Sobat Brilio yang ingin mengetahui politik digital khususnya seluk beluk buzzer, kamu bisa daftar di eventbrite dan loket.com, acara ini gratis!

mgg/hanifan navyansyah