Brilio.net - Persaingan kubu petahana Joko Widodo dan Ma'ruf Amin menghadapi Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno terus memanas. Tim sukses kedua kubu saling beradu strategi memikat hati rakyat untuk memenangkan Pemilihan Presiden 2019.

Tak hanya di lapangan, pertarungan kubu Jokowi dan Prabowo juga terjadi di dunia maya. Hampir setiap waktu, tim sukses dan pendukung Jokowi dan Prabowo bertarung tagar di Twitter.

Meski kerap menyebalkan, tetapi kreativitas cuitan kedua tim sukses tidak jarang menjadi hiburan tersendiri. Tagar dan cuitan di media sosial itu biasanya diinspirasi dari istilah yang dikeluarkan Jokowi dan Prabowo di pidato politiknya.

Jika kamu perhatikan, ada beberapa istilah sensasional di pidato pilitik Jokowi dan Prabowo. Tentu saja, istilah-istilah itu tidak asal disampaikan tetapi memiliki tujuan tertentu.

Nah, berikut deretan istilah sensasional Jokowi dan Prabowo di pidato politiknya dihimpun brilio.net dari berbagai sumber, Rabu (19/12).

Loading...

1. Politisi Sontoloyo (Jokowi)

Presiden Jokowi mengucapkan istilah 'Politisi Sontoloyo' saat pembagian sertifikat tanah di Kebayoran Lama, Jakarta pada Selasa (23/10). Jokowi bicara terkait program dana kelurahan yang mendapat banyak kritik dari kubu oposisi.

"Hati-hati. Banyak politikus yang baik-baik, tapi juga banyak politikus yang sontoloyo," kata Presiden Jokowi.

2. Politik Genderuwo (Jokowi)

Jokowi juga menyentil politisi yang tidak beretika. Politisi tidak beretika sering menyebarkan propaganda untuk menakut-nakuti rakyat.

"Ini cara-cara berpolitik yang tidak beretika seperti ini jangan diterus-teruskan. Stop, stop! Enggak. Saya sampaikan itu politikus genderuwo, ya dicari saja politikusnya," kata Jokowi setelah meresmikan tol di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada Jumat (9/11).

3. Tabok (Jokowi)

Jokowi geram dengan pihak yang menyebarkan hoaks bahwa dirinya adalah anggota Partai Komunis Indonesia (PKI). Isu itu tidak masuk akal karena PKI dinyatakan sebagai organisasi terlarang pada tahun 1965/1966. Sementara, Jokowi lahir tahun 1961. Artinya, saat PKI dibubarkan, Jokowi baru berusia 4 tahun.

"Saya belum lahir tapi sudah ada di situ. Gimana kita ini enggak... Mau saya tabok tapi orangnya di mana," kata Jokowi saat pidato dalam acara pembagian sertifikat lahan kepada 1.300 warga di Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, yang dihelat di Tenis Indoor Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah pada Jumat (23/11).

4. Ekonomi Kebodohan (Prabowo)

Prabowo Subianto tak mau kalah mengeluarkan istilah politik yang sensasional. Ia menilai, sistem ekonomi di Indonesia saat ini lebih parah dari paham neoliberalisme yang dianut oleh Amerika Serikat. Capres nomor 02 ini menyebutnya dengan istilah 'Ekonomi Kebodohan'.

"Ini menurut saya bukan ekonomi neoliberal lagi. Ini lebih parah dari neolib. Harus ada istilah, ini menurut saya ekonomi kebodohan. The economics of stupidity. Ini yang terjadi," ujar Prabowo saat berpidato pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Pondok Gede, Jakarta Timur pada Kamis (11/10).

5. Tampang Boyolali (Prabowo)

Prabowo membahas akses kesejahteraan yang menjadi agenda besar timnya.Salah satu topiknya membahas peningkatan kapasitas produksi, karena menurut data yang mereka terima, terjadi penurunan kesejahteraan di desa.

Dalam isi pidato di hadapan tim pemenangan itu, Prabowo menyebutkan istilah "tampang Boyolali" yang menjadi viral dan perbincangan publik. Adapun bunyi pidatonya sebagai berikut: "...Dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul? (Betul, sahut hadirin yang ada di acara tersebut). Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini," kata saat pertemuan dengan tim pemenangan di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Selasa (30/10).

6. Indonesia punah (Prabowo)

Prabowo Subianto menilai Indonesia akan punah jika tidak memenangkan Pilpres 2019. Pasalnya, para elite politik saat ini ia nilai telah gagal dalam menjalankan amanat rakyat.

"Elite Indonesia selalu mengecewakan, selalu gagal menjalankan amanah dari rakyat Indonesia. Sudah terlalu lama elite yang berkuasa puluhan tahun, sudah terlalu lama mereka memberi arah keliru, sistem yang salah," kata Prabowo saat berpidato pada Konferensi Nasional Partai Gerindra di Sentul International Convention Center (SICC), Jawa Barat, Senin (17/12).

"Dan saya katakan, bahwa sistem ini kalau diteruskan akan mengakibatkan Indonesia lemah. Indonesia semakin miskin dan semakin tidak berdaya bahkan bisa punah. Karena itu kita tidak bisa kalah. Kita tidak boleh kalah. Kalau kita kalah, negara ini bisa punah," ucap Prabowo.