Brilio.net - Bisa mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali di Olimpiade yang merupakan ajang olahraga terbesar dunia tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Bukan hanya kebanggaan bagi dirinya, tapi juga bagi masyarakat Indonesia. Tapi bagaimana nasib para peraih medali setelah mereka pensiun sebagai atlet?

Sri Indriyani (37) menjadi salah satu contohnya. Setelah pensiun peraih medali perunggu pada cabang angkat besi kelas 48 kg pada Olimpiade Sydney pada tahun 2000 tersebut bekerja sebagai pegawai PT Pos Indonesia yang ditugaskan di Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah. Perempuan asli Solo ini sudah sejak tahun 2002 bekerja menggunakan seragam oranye.

Kepada brilio.net, Rabu (31/8), Indri bercerita jika ia sejak kelas 4 SD sudah berlatih angkat besi. Pada kelas 6 SD, ia baru mulai mengikuti kejuaraan. Kemampuannya sebagai lifter perempuan pun semakin terasah hingga pada 1992 ia berhasil masuk di Pelatnas di Bogor. Meski mulai mengenal olahraga angkat besi di Solo, Jawa Tengah, pada akhirnya Indri memilih pindah ke Lampung pada 1994 karena pembinaan atlet di daerah tersebut ketika itu lebih baik. Saat itu ia baru duduk di kelas 3 SMP.

Sri Indriyani © 2016 brilio.net

Sri Indriyani saat masih menjadi atlet. Mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade.©/dok. istimewa

Karena pembinaan yang baik, Indri pun bisa menunjukkan prestasinya. Ia mendapatkan 3 medali emas pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi tahun 1996 di Polandia. Yang lebih membanggakan lagi, ia bisa memecahkan rekor lifter junior yang ada saat itu.

Prestasinya itu semakin berkembang hingga ia bisa meraih medali perunggu pada Asian Games 1998 di Bangkok untuk kelas 48 kg, medali perak untuk World Championships di Athena 1999 untuk kelas 48 kg, dan puncaknya meraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 di Sydney untuk kelas 48 kg.

Bersama dua srikandi lain, Indri meraih medali cabang olahraga angkat besi untuk Indonesia pada Olimpiade 2000. Lisa Rumbewas meraih perak untuk kelas 48 kg, sedangkan Winarni Binti Slamet meraih medali perunggu untuk kelas 53 kg.

Sri Indriyani © 2016 brilio.net

Sri Indriyani dan anaknya. ©brilio.net/dok. istimewa

"Saat itu, peraih medali diberi hadiah Rp 1 miliar untuk emas, Rp 300 juta untuk perak, dan Rp 150 juta untuk perunggu," aku Indri.

Pasca meraih medali perunggu pada Olimpiade Sydney 2000, ia masih tetap latihan untuk menghadapi pertandingan SEA Games 2001 dan peraih medali perunggu. Tahun 2002 ia memilih pensiun, lalu menikah dan bekerja sebagai pegawai di PT Pos Indonesia.

Saat ditanya bagaimana awalnya bisa bekerja di PT Pos Indonesia, Indri bercerita jika pekerjaan itu didapatkannya berkat Soesilo Soedarman, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia era Orde Baru. Pekerjaan sebagai pegawai PT Pos sudah ia peroleh pada tahun 1996. Saat itu, kata Indri, Soesilo memang memberikan pekerjaan untuk para atlet yang belum punya pekerjaan tetap. Ada yang ditempatkan di PT Telkom, PT Pos Indonesia, dan perusahaan lain.

"Karena saya 1996 masih aktif sebagai atlet, maka saya belum bekerja dan baru bekerja sebagai pegawai PT Pos Indonesia tahun 2002 di Lampung," kata Indri.

 

Kepindahannya ke Jepara bersama suami dan anaknya pun atas rekomendasi dua adiknya yang juga berprofesi sebagai atlet angkat besi. Saat itu ia mencari daerah yang olahraga angkat besinya belum berkembang agar ia bisa membuka kelas kursus angkat besi untuk mencetak atlet. Tapi setelah pindah ke Jepara, ternyata jam kerja di PT Pos sangat padat sehingga ia tak bisa meluangkan waktu untuk mengkader anak-anak sebagai atlet angkat besi. Tak hanya itu, ia juga terkendala masalah tempat dan juga biaya untuk membangun sekolah kursus angkat besi.

Indri kini menjadi kepala kantor cabang PT Pos Indonesia Kecamatan Kalinyamatan, Jepara. Meski dulu pernah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia, ia tetap senang dengan keadaannya saat ini.

Sri Indriyani © 2016 brilio.net

Sri Indriyani sekarang. Dia bekerja di kantor pos. ©brilio.net/dok. istimewa

"Syukur ada pekerjaan tetap. Banyak atlet lain punya nasib yang mengenaskan," katanya.

Rasa syukurnya pun bertambah karena beberapa bulan lalu angin segar datang dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi. Semua atlet yang meraih medali pada Olimpiade akan mendapatkan uang pensiun seumur hidup.

Kini ia berharap, impiannya untuk bisa membangun kelas kursus angkat besi bisa tercapai sehingga bisa mengkader anak-anak dan menghasilkan atlet yang dapat mengharumkan nama Indonesia.