Brilio.net - Santri identik dengan sarung. Ya, anggapan itu sudah sangat melekat di benak masyarakat Indonesia. Kalau ada segerombolan anak yang memakai sarung, maka orang-orang pasti menganggap mereka adalah santri pesantren. Padahal tak semua pesantren menerapkan aturan bersarung.

Santri juga tak setiap waktu  memakai sarung. Kisah tentang sarung pun banyak dialami oleh para santri, salah satunya dialami oleh Adi (22), santri salah satu pesantren sekaligus mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta.

Melalui sambungan bebas pulsa di nomor 0800-555-999, Adi bercerita kepada brilio.net jika ia pernah ditertawakan saat memakai sarung. Cerita itu terjadi beberapa tahun yang lalu saat ia masih duduk di bangku kuliah.

Ketika itu, Adi yang tinggal di pesantren yang terletak di Kota Yogyakarta diajak oleh teman-teman satu organisasi di kampus untuk bakar-bakar sate di daerah Pleret Bantul. Kebetulan ketika itu bebarengan dengan momentum Idul Adha dan masih ada sisa daging yang belum diolah. Tanpa pikir panjang, Adi dan teman-temannya pun mengiyakan tawaran itu.

"Saya mau karena saat itu pas hari Jumat, jadi ngaji sorenya libur. Pikir saya acara bakar-bakar satenya itu akan selesai sore hari," kata Adi kepada brilio.net, Kamis (22/10).

Loading...

Mereka pun asyik dengan kegiatan bakar sate hingga tak sadar  hari sudah semakin sore. Tapi acara bakar sate belum juga usai. Apalagi setelah bakar sate selesai, acara akan dilanjutkan dengan rapat evaluasi UKM kampus. Karena merasa ada tanggung jawab di organisasi, Adi tak enak hati untuk pamit duluan.

Acara bakar sate itu baru selesai setelah Isya, padahal jadwal mengaji di pondok pukul 20.00 WIB. Agar bisa mengejar waktu dan tidak terlalu mencolok saat sampai di pesantren, Adi memutuskan untuk memakai sarung dari rumah temannya itu.

Saat itu Adi tidak membawa sarung, akhirnya dia meminjam sarung milik temannya. "Soalnya kelihatan banget habis pergi jauh kalau pulang ke pesantren pakai celana, apalagi aku telat pulang," terang Adi.

Ia pun dengan santai mengendarai motor untuk pulang dari Pleret Bantul menuju pesantren di pusat Kota Yogyakarta. Teman-temannya yang belum pernah melihat tingkah Adi pun sempat ketawa. Saat berhenti di lampu merah, tiba-tiba Adi melihat dua pria bermotor yang berhenti di sebelah kanannya ketawa.

Usut punya usut, ternyata mereka mengetawakan Adi karena dia memakai sarung tapi alas kakinya sepatu, apalagi sepatu yang ia pakai adalah sepatu pantofel. Maklum, status Adi yang saat itu sebagai mahasiswa keguruan membuatnya sering sekali memakai sepatu pantofel ala guru sekolah.

Adi pun hanya nyengir sambil menganggukkan kepala dengan maksud menyapa pria tersebut. Teman-teman yang ada di belakangnya pun ikut tertawa meskipun sebelumnya sudah tahu kalau ia memakai sepatu.

"Ya aneh mungkin bagi mereka, tapi saya cuek saja," kata Adi. Nah sekarang ini Adi sering membawa sarung di tas untuk jaga-jaga.

Cerita ini disampaikan oleh Adi melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu.