Brilio.net - Robot diramalkan dapat menjadi alat yang sangat memudahkan kerja manusia di masa depan.  Inilah yang menjadi salah satu alasan banyaknya kompetisi robot yang diselenggarakan di berbagai negara.  Mulai dari sekolah dasar sampai tingkat perguruan tinggi bahkan ada juga kompetisi robot mancanegara. Anak-anak kini sudah tidak asing lagi dengan robot. Salah satu kompetisi robot yang cukup bergengsi adalah  ABU Asia-Pacific Robot Contest.

Abu Asia-Pacific Robot Contest adalah kompetisi robot tahunan yang digelar untuk negara di kawan Asia-Pasifik. Indonesia menjadi salah satu negara yang tidak pernah absen dari kompetisi tersebut sejak pertama kali digelar pada tahun 2012 di Kyoto, Jepang. Untuk pelaksanaan Abu Asia-Pacific Robot Contest 2015 digelar kali ini diselenggarakan di Yogyakarta, Indonesia. Tema dari Abu Asia-Pacific Robot Contest 2015 adalah robot bulutangkis. Sebagai tuan rumah, Indonesia tentunya tidak melewatkan kesempatan baik ini.

Perhatian pemerintah terhadap kemampuan mahasiswa membuat robot memang tidak main-main. Tim yang terpilih melalui seleksi ketat mulai dari tingkat kampus sampai nasional. Tahapan demi tahapan itulah yang berhasil mengukuhkan tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai juara dan mendapatkan kesempatan untuk membawa nama Indonesia di ajang internasional tersebut.

"Kami melalui seleksi yang cukup panjang, mulai dari seleksi tingkat kampus hingga nasional dan akhirnya bisa mewakili Indonesia," ujar ujar Restu Ikhsanul Fikri selaku ketua tim kepada brilio.net, Minggu (23/8).

Tim ini terbagi menjadi dua tim yang merupakan tim lapangan dan pit crew. Tim lapangan terdiri dari Agung Nuza Dwi Putra, Eko Budi Satriyo, Rendi Wandarosanza. Sementara pit crew yang digawangi  Fanny A. Hindararta dan Raga Adiguna. Tim yang terdiri dari 6 orang anggota ini merancang dua robot yang bermain bulutangkis. "Satu untuk service, satu lagi untuk menanggapi serangan," kata Restu.

Loading...

Persiapan yang dilakukan tim ITB ini membutuhkan waktu satu tahun. Robot dilengkapi dengan sistem kontrol yang baik. Restu juga mengakui bahwa kemampuan robot tidak hanya tergantung pada kemampuan merakit robotnya namun juga kemampuan orang yang mengoperasikannya. "Ini kan robot bulutangkis jadi robot dan orang yang mengkontrolnya juga harus sering latihan," tambah Raga Adiguna, salah satu anggota tim.

Selain tim ITB, ada tim lain yang juga mewakili Indonesia. Namun tim dari Politeknik Negeri Batam tersisih di babak penyisihan. Sementara tim dari ITB melaju sampai babak semifinal.  "Harapannya kita bisa membuat Indonesia bangga dan mendapatkan grand prix," tandas Restu.