Brilio.net - Belakangan ramai dibicarakan di media sosial tentang keindahan taman Bunga Amaryllis yang dikenal masyarakat sebagai Bunga Lily Hujan atau Brambang Procot. Taman milik salah seorang warga desa Patuk, Gunungkidul, Yogyakarta ini memang menawarkan pemandangan yang sangat indah. Wajar jika taman ini dikabarkan mirip taman-taman bunga di Eropa.

Sayang beribu sayang, hamparan bunga indah di Gunungkidul ini harus hancur akibat ulah para pengunjung tak bertanggung jawab. Mereka berburu foto selfie dengan berlatar eksotisnya taman bunga tetapi tanpa peduli malah menginjak-injak. Kini kondisi taman bunga langka yang hanya sekali dalam setahun tumbuh ini hancur berantakan.

Novianto Setiawan, salah seorang warga Yogyakarta, tergerak hatinya untuk menemui Sukadi, pemilik tanaman bunga itu. Dalam perbincangannya, Sukadi mengatakan dirinya mulai membudidayakan Brambang Procot itu sejak 2006. Lambat laun taman bunga secara alami mengalami perluasan area dan tumbuh memenuhi hamparan tanah di depan rumahnya.

"Musim berbunga yang hanya setahun sekali ini, mencapai puncaknya hari Selasa lalu yang kemudian terunggah ke media sosial dengan visual luar biasa mempesona dan bisa ditebak efeknya. Jumat kemarin, sekitar 1500 orang tumpah ruah berkunjung sepanjang hari mendesak, menginjak, menindih, merusak rumpun tanpa ampun, sengaja maupun tidak," kata Setiawan seperti dikutip brilio.net dari akun media sosialnya, Sabtu, (28/11).

Meski taman bunganya rusak parah, Sukadi malah minta maaf, kok bisa?

Loading...

Lanjut dia, Sukadi tak punya daya mencegah kecuali harus rela kebun bunganya rusak diinjak ribuan pengunjung yang ingin fotonya tampil paling epik dari yang lainnya.

"Luar biasanya, Sukadi masih saja meminta maaf kepada pengunjung, jika panorama sudah tak seindah beberapa hari sebelumnya," lanjut Setiawan dalam ceritanya.

Sangat disayangkan, jika yang empunya saja begitu menghargai tamunya, bagaimana dari pihak sebaliknya? Sukadi memang tidak menyalahkan siapa pun, karena memang kebunnya tidak didesain untuk wisata sebelumnya sehingga akses dan segala kelengkapan tak dipersiapkan mengantisipasi ribuan wisatawan dadakan kala itu.

Sukadi hanya berharap ada sedikit kepedulian untuk perawatan kebunnya lewat kotak sukarela di depan pintu masuk. Namun, ternyata lebih banyak pengunjung dengan wajah sok cuek yang tak peduli.

"Bapak Sukadi berencana mengembangkan kebunnya menjadi salah satu destinasi wisata Gunungkidul yang memang sedang jadi primadona," pungkas dia.