Brilio.net - Kamu tahu penyakit psoriasis? Sebuah studi baru yang dilakukan oleh ilmuwan New York University School of Medicine menunjukkan bahwa orang yang menderita psoriasis berisiko mengalami depresi. Para peneliti percaya bahwa hubungan antara psoriasis dan depresi mungkin terkait dengan stigma masyarakat dari penyakit yang umumnya sangat terlihat pada kulit ini.

Biasanya, mereka yang tidak terbiasa dengan penyakit ini memiliki reaksi yang tidak baik seperti khawatir dan tak mau berinteraksi dengan orang-orang yang menderita penyakit kronis pada kulit ini.

"Masyarakat harus tahu bahwa psoriasis tidak menular, sehingga tidak ada kebutuhan untuk bertindak secara berbeda di sekitar pasien psoriasis daripada kamu di sekitar orang lain," kata asisten profesor dermatologi, Dr Roger Ho, dilansir brilio.net dari Times of India, Sabtu (29/8).

Kebanyakan orang dengan psoriasis ditandai dengan sisik yang berlapis berwarna keperakan, disertai dengan penebalan warna kemerahan dan rasa gatal atau perih. Bila sisik ini dilepaskan maka akan timbul bintik darah di kulit di bawahnya. Sisik ini biasanya muncul pada kulit kepala, siku, lutut, punggung bawah, tangan dan kaki.

Roger Ho menambahkan bahwa faktor genetik atau biologis juga mungkin memainkan peran dalam hubungan antara depresi dan psoriasis, yang memerlukan penelitian lebih lanjut.

Loading...

Untuk itu, para peneliti mempelajari kasus psoriasis dan depresi pada 12.382 pasien dewasa Amerika Serikat di tahun 2009-2012. Hasilnya, seperti dikutip dari Health, secara keseluruhan hampir 3 persen dari responden melaporkan bahwa mereka memiliki psoriasis, dan sekitar 8 persen memiliki depresi berat berdasarkan jawaban mereka untuk penilaian depresi skrining. Di antara pasien psoriasis, sekitar 16,5 persen memenuhi kriteria untuk diagnosis depresi berat.

Bahkan, menurut para peneliti, mereka dengan tingkat psoriasis memiliki dua kali lipat kemungkinan memiliki depresi bahkan setelah memperhitungkan mereka usia, jenis kelamin, ras, berat badan, tingkat aktivitas fisik, penggunaan alkohol dan riwayat serangan jantung, stroke, diabetes dan merokok.

"Tampaknya itu benar-benar tergantung pada pandangan pasien dari diri mereka sendiri. Bukan sejauh mana penyakit yang mereka alami," pungkas Ho.

Hasil penemuan ini telah dipresentasikan dalam acara American Academy of Dermatology, baru-baru ini. Para peneliti belum menerbitkan dalam jurnal per-review, jadi harus dipertimbangkan kembali mengenai hasil penemuan ini.