Brilio.net - Kekurangan fisik merupakan sebuah tantangan hidup. Beberapa orang mungkin akan berkecil hati dengan fisik yang tidak normal. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Catur Bambang (39). Tekadnya untuk hidup mandiri dan terus berkarya terus menyala, meski cacat secara fisik. Dia juga punya andil yang besar bagi ratusan penyandang difabel di seantero negeri.

Peristiwa yang mengubah hidup Catur tersebut terjadi pada tahun 1996. Kecelakaan kerja membuat dokter harus mengamputasi kedua kakinya. Ketika itu usianya masih terbilang muda. Semangatnya masih menggebu untuk meraih impian. "Tapi takdir berkata lain," kata Catur kepada brilio.net Selasa (17/8)

Setahun lamanya Catur terpuruk, namun dia berpikir tidak ada gunanya menyesali takdir. Akhirnya dengan tekad kuat Catur ingin kembali bekerja. Dengan kursi roda, dia berjuang ke berbagai tempat untuk mencari tahu kiranya apa yang dapat dilakukan. Dia akhirnya bekerja di kawasan Senen, Jakarta, sebagai tukang servis elektronik.

Tantangan Catur tidak berhenti sampai di situ saja. Dari tempat tinggalnya di Pulogadung dia harus menumpang bis kota. "Tapi apa daya nggak ada bis yang mau berhenti, apalagi pada saat jam-jam sibuk," kenang Catur. Untuk menunggu kendaraan umum saja paling tidak butuh waktu empat jam. Dari pukul 7 pagi, Catur bisa mendapatkan bis yang mau mengangkutnya pada pukul 11 siang. Sementara jika naik taksi keuangan saat itu belum memungkinkan.

Kerap ditolak angkutan umum, Catur modifikasi motor untuk difabel

Loading...

Catur lantas mencari cara agar tak tergantung pada angkutan umum. Dia harus lebih mandiri dan mempunyai kendaraan sendiri. Lantas dia belajar pada teman-temannya yang berprofesi sebagai mekanik kendaraan. Tak main-main, dia menghabiskan waktu tiga tahun untuk memodifikasi sepeda motornya.

Catur tak pernah membayangkan akan terjun sebagai pemodifikasi  sepeda motor. Dia melihat peluang sepeda motor roda tiga ini juga dibutuhkan oleh kaum difabel lain. Orderan pertama modifikasi pun datang tanpa sengaja. Saat Catur mengendarai sepeda motornya ke Senen, Jakarta Pusat, ada orang yang menghentikannya di tengah jalan. Ternyata orang itu penasaran pada sepeda motor yang dia kendarai. Dia memesan sepeda motor serupa bagi saudaranya yang juga difabel.

Itulah yang kemudian menjadi langkah awal bagi Catur untuk membuka bengkel pada 2004 silam. Apalagi dia memiliki latar belakang mekanik.  Sebagai modal awal, dia merogoh kocek Rp 20 juta yang dia pakai untuk sewa ruko dan peralatan bengkel. "Bengkel saya namai Bengkel Modifikasi Motor Roda Tiga," katanya lagi.

Tidak disangka usaha Catur ini disambut baik oleh para difabel yang ingin mandiri. Hingga kini sudah ratusan motor modifikasi Catur yang tersebar di seluruh Indonesia. Pelanggan Catur tidak hanya di area Jakarta saja namun juga ada dari Medan dan Kalimantan bahkan Labuan Bajo.

Kerap ditolak angkutan umum, Catur modifikasi motor untuk difabel

Modifikasi motor yang dibuat Catur tak sembarangan. Dia menyesuaikan dengan kemampuan para difabel yang memesannya. Harga yang dipatok Catur berkisar antara Rp 3,5 juta hingga Rp 8,5 juta dengan waktu pembuatan mulai dari satu hingga tiga minggu.

"Saat ini saya dibantu karyawan saya, sedangkan untuk pemasaran saya juga lewat online. Biasanya dihandel istri saya yang juga seorang difabel paraplegia," katanya lagi.

Catur tidak hanya ingin sebagai pemodifikasi motor saja. Akan tetapijuga bisa memotivasi para difabel lainnya untuk tidak menyerah.  Salah satu keinginannya yang belum tercapai adalah memperjuangkan hak parkir untuk para difabel. "Kedengarannya sepele sih cuma masalah parkir, cuma kami sering ditolak di parkiran baik motor maupun mobil," pungkasnya.