Brilio.net - Makan menjadi cara mendapatkan sumber energi bagi tubuh. Lebih dari itu, ada orang yang menjadikannya hobi, bahkan profesi. Ambil contoh para influencer yang suka mengulas kuliner-kuliner nikmat di berbagai tempat. Mereka memberi nilai lebih pada aktivitas makan, bukan semata mengisi perut.

Namun terkadang, ngaku deh, Sobat Brilio pasti pernah mengalami momen pengennya makan terus. Mulut nggak berhenti makan tapi sebenarnya perutmu nggak keroncongan. Inilah yang disebut emotional eating.

Ternyata ada beberapa penyebab seseorang mengalami emotional eating, yang tak jauh kaitannya dengan stres. Nah, berikut ulasan penyebabnya seperti dilansir Brilio.net dari Verywellmind, Jumat (22/11).

1. Kelebihan hormon kortisol.

Hormon kortisol ini menyebabkan stres. Dalam kadar yang normal, kortisol bisa bermanfaat. Namun jika berlebihan akibat stres kronis dapat menyebabkan banyak masalah dalam tubuhmu.

Loading...

Kortisol yang tinggi bisa membuatmu mengidam makanan manis dan asin. Pada abad-abad sebelumnya, banyak makan makanan manis dan asin bermanfaat untuk menopang kekuatan tubuh saat makanan langka. Namun pada zaman modern seperti sekarang, mekanisme yang sebelumnya bermanfaat untuk adaptasi justru berubah menyebabkan kenaikan berat badan berlebihan.

2. 'Tuntutan' mendapatkan dukungan sosial.

Saat stres, kamu pasti mencari dukungan sosial, kan? Kamu bakal curhat dan meminta solusi pada keluarga, saudara, kawan, bahkan pacar.

Sayangnya, kebiasaan sesi curhat ini sering banget disertai makan-makan. Nah, nggak enak dong kalau menolak? Apalagi fokusmu pokoknya dapat support dari orang terdekat, makan apa saja bablas. Mau cheesecake, makaroni pedas, sampai gorengan, masuk begitu saja ke mulut, padahal kamu nggak lapar.

Kondisi curhat sambil makan ini memang membuatmu akan merasa baikan tapi sayangnya cuma sesaat. Habis stres masalah satu, terbitlah stres gara-gara berat badan.

3. Energi saraf.

Ketika kamu stres atau cemas, pasti kamu susah mau ngomong. Yang ada gerakan tubuhmu menunjukkannya, seperti menggigit kuku, menggemeretakkan gigi, dan seringkali menyebabkan makan sekalipun nggak lapar.

Nggak jarang juga, orang yang gugup atau bosan merasa paling pas mengunyah camilan atau minum minuman bersoda agar ada aktivitas. Kamu pernah ngalamin?

4. Kebiasaan masa anak-anak.

Banyak dari kita memiliki kenangan masa kecil saat sedih atau meraih prestasi tertentu, mendapatkan makanan sebagai ganjaran agar merasa lebih baik. Hal ini menyebabkan makanan menjadi sumber pengendalian emosi yang kita rasakan.

Saat beranjak dewasa, akhirnya kita terbiasa setiap kali merayakan sesuatu maupun mengobati galau hingga patah hati, larinya ke makanan (yang nggak sehat, sayangnya) sehingga risiko obesitas meningkat.

Nah, itu tadi penyebab kamu nggak bisa berhenti makan padahal nggak lapar. Akarnya adalah stres dan kebiasaan yang terpupuk lama. Risikonya bisa menambah kelebihan berat badan atau malah memperparah stres.

Ada baiknya selain makan untuk meredakan stres dan mengubah pelan-pelan emotional eating yang kamu alami, imbangi dengan olahraga dan makan makanan sehat. Jangan remehkan juga ambil waktu tidur yang cukup. Singkat kata, belajar berpola hidup sehat agar stres bisa dikendalikan dan emotional eating bisa diminimalisir.