Brilio.net - Aroma rempah yang menelusup jauh ke otak, membuat saya lekas rileks setelah lebih dari satu jam berkendara. Di Pasar Jamu Nguter, Sukoharjo, akhir Agustus 2021, pikiran saya berkelana ke masa lampau.

Di kampung masa kecil saya yang tak jauh dari Sungai Bengawan Solo, karib bagi warga meramu rempah untuk kesehatan, kecantikan, hingga ritual. Bahan-bahannya mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, meskipun tak sekomplit Pasar Jamu Nguter.

Ramuan jamu diwariskan turun temurun melalui lisan. Ruwi (39), tidak saja fasih menyebutkan nama-nama rempah dalam beberapa jenis jamu, tapi juga meracik sendiri lalu menjualnya di pasar itu. Dia menguasai resepnya secara autodidak. "Saya belajar dari melihat ibu dan simbah saya," ceritanya sambil menunjukkan sebungkus besar ramuan untuk mandi rempah. Cara pemakaian jamu pun beragam, ada yang direbus, cukup diseduh, maupun dibalurkan. Jamu juga bisa dibedakan untuk wanita dan pria, anak-anak dan dewasa.

Tradisi tulis sebenarnya juga sudah ada, tapi sangat terbatas sebarannya. Naskah-naskah pengobatan tradisional banyak terdapat di lingkungan kerajaan. Karenanya, pengejawantahan rempah bagi kesehatan dan kecantikan berjalan lebih komprehensif di keluarga Darah Biru.

ANDA MUNGKIN MENYUKAI INI

Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Wandansari, putri raja Keraton Kasunanan Surakarta Pakubuwono (PB) XII dan juga adik PB XIII, yang saya temui di kantornya Kompleks Keraton Surakarta, Selasa (31/8/2021) mengungkap, di Keraton Surakarta terdapat naskah Jawa yang dirahasiakan tentang pengobatan tradisional. Pada masa PB IX dan PB X Keraton Surakarta yang berstatus pusat pemerintahan, memiliki panti usada atau rumah sakit.

Semua reramuan obat yang dipakai adalah jamu dan mengacu naskah tersebut, sehingga ketika itu naskah harus dirahasiakan. "Di naskah itu tertulis, 'disingitkan' artinya dirahasiakan," cerita wanita yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Gusti Moeng yang pernah membuka naskah itu, melihat rincian rempah dan bahan lain yang diulas sangat komplit, beda jauh ketimbang buku-buku ramuan tradisional yang kini banyak di pasaran. Saking lengkapnya, panduan membuat jamu di naskah itu sekarang sulit diaplikasikan. Banyak bahan untuk meraciknya kini sulit dijumpai.

Kesulitan ini bukan berarti langka, tapi bisa jadi karena ketidaktahuan awam mengidentifikasi tanamannya. Apalagi, banyak nama tanaman dalam naskah kuno yang sulit ditelusuri dalam penamaan standar sesuai pengetahuan botani.

Alhasil, di keluarga keraton sendiri penggunaan rempah untuk mengobati penyakit sudah ditinggalkan. "Kalau untuk kebugaran masih dipakai," kata anggota DPR periode 2009-2014 itu.

Dari bangun tidur, putri-putri keraton sudah memakai rempah untuk mandi dan dilanjutkan dengan ratus. "Setelah berdandan, melakukan ratus untuk menghilangkan jamur di kain, kulit, dan area kewanitaan," jelasnya mencontohkan penggunaan rempah bagi putri keraton.

Tak berhenti di situ, ritual dilanjutkan minum jamu yang diramu sendiri dan diminum sendiri. Uniknya, bahan yang dipakai membuat jamu ini tiap orang bisa beda-beda, meski nama jamunya sama.

Masing-masing punya ramuan sendiri yang dirahasiakan. "Di keraton itu jamu bisa jadi saingan istri satu dengan istri yang lain," ungkap wanita kelahiran 61 tahun silam itu.

Sosok yang menjabat Sekjen Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton Nusantara itu menambahkan, penggunaan rempah untuk kebugaran ini tidak hanya terjadi di Keraton Surakarta, tapi juga di keraton-keraton lain di Indonesia. "Apalagi di daerah penghasil rempah," tandas alumni Sejarah UNS itu.

Tak jauh berbeda dengan kehidupan di lingkungan Pura Mangkunegaran Solo. Di sana, jamu menjadi ramuan yang lazim dikonsumsi untuk merawat kesehatan dan kecantikan.

"Jamu bisa untuk menjaga aura kecantikan jangka panjang," tutur Irawati Kusumorasri, penari Jawa keluarga Pura Mangkunegaran. Adapula jamu untuk kecantikan perawatan tubuh luar, seperti ratus, lulur, masker, dan lainnya.

Irawati yang pernah menjadi Ketua Akademi Seni Mangkunegaran itu mengatakan, rempah juga biasa digunakan untuk aroma terapi. Biasanya menggunakan campuran rempah, bunga, dan beberapa tanaman lain seperti daun pandan. "Kamar pengantin Jawa biasanya menggunakan ini," kata alumni ISI Surakarta itu.

Penari yang kerap tampil di kancah internasional itu menyebut, di Pura Mangkunegaran terdapat naskah tentang ramuan jamu tradisional. "Generasi saya dan di atas saya, masih menggunakan ramuan jamu. Tapi, generasi di bawah saya berkurang karena tidak praktis," sebutnya.

Fransisca Tjandrasih Adji, dosen filologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dalam makalahnya Variasi Sistem Pengobatan Tradisional Dalam Naskah Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi yang dipaparkan saat simposium di Yogyakarta pada 2019 menyebutkan, di sejumlah keraton saat ini tersimpan beberapa naskah Jawa berisi resep-resep untuk pengobatan tradisional. Namun, tidak semua naskah dalam kondisi baik dan utuh.

Di perpustakaan Pura Pakualaman tersimpan Buku Jampi dan Pakem Tarugana. Sedangkan, Serat Primbon Jampi Jawi ada di Pura Mangkunegaran.

Bahkan, di perpustakaan Keraton Surakarta menyimpan bebarapa naskah. Seperti, Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi Jilid 2, Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi, Serat Reracikan Jampi Warni-warni, Racikan Jampi Jawi, dan Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi.

Tjandrasih yang melakukan studi atas Serat Primbon Reracikan Jampi Jawi menyebut, naskah ini terdiri dari empat jilid. Tapi, jilid 1 dan 4 kondisinya sudah tidak lengkap, sedangkan jilid 3 hilang. Sehingga, studi Tjandrasih fokus pada Jilid 2.

Dari empat jilid itu memuat 1.734 ramuan obat tradisional Jawa. Rinciannya, jilid 1 ada 497 ramuan, jilid 1 memuat 455 ramuan, jilid 3 terdapat 489 ramuan, dan 293 ramuan di jilid 4.

Menurut Tjandrasih, ramuan-ramuan itu berupa jamu untuk sakit fisik dan psikis. Sedangkan, cara pakainya diminum, dimakan, serta luar badan.

Beberapa jenis penyakit tertentu memiliki banyak varian ramuan, misalnya penyakit berkaitan dengan perut, kewanitaan, dan batuk. "Adanya banyak variasi ramuan ini, mengindikasikan kemungkinan pada waktu itu penyakit-penyakit perut, kewanitaan, dan batuk adalah penyakit yang frekuensi berjangkitnya cukup tinggi," tulis Tjandrasih.

Dalam buku Jamu Pusaka Penjaga Kesehatan Bangsa Asli Indonesia karya Murdijati Gardjito, Eni Harmayani, Kamilia Indraputri Suharjono terbitan Gadjah Mada University Press, pada zaman dulu tokoh masyarakat Jawa dari pujangga, raja, dan orang-orang berpengaruh lainnya menyusun naskah ramuan obat. Misalnya, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegara III dibantu para pujangga Keraton Surakarta menyusun manuskrip kuno Serat Centhini. Pada 1831 Sri Susuhunan Pakubuwono V memerintahkan penulisan kumpulan ramuan obat yang dinamai Serat Kawruh Bab Jampi-jampi Jawi.

Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana VII, Kanjeng Pangeran Harya Tjakraningrat memiliki catatan lengkap pengobatan tradisional. Catatan itu kemudian diterbitkan menjadi kitab primbon Betaljemur Adammakna oleh Raden Somodidjojo dan dipakai hingga kalangan non-bangsawan.

Salah seroang istri Sri Sultan Hamengkubuwana IX pun mengungkap rahasia dalam pemakaian jamu untuk memelihara kecantikan dan kesehatan. Panduan itu dituangkan dalam Catatan Jamu Tradisional.

Bahkan, sejumlah orang asing juga memiliki catatan pengobatan tradisional Jawa. Seorang wanita Belanda, Jans Kloppenburg-Versteegh mencatat 1.467 resep pengobatan tradisional untuk pengobatan berbagai penyakit, seperti sakit kulit, sariawan, diare, sakit ginjal, dan diabetes. Sedangkan, Tan Khoen Swie, orang Tionghoa, mewarisi catatan kuno leluhurnya yang orang Jawa dan menjadikannya buku.

Melawan wabah dengan rempah

pasar jamu © 2021 brilio.net

Aktivitas jual-beli rempah di Pasar Jamu Nguter Sukoharjo, Minggu (29/8/2021). foto/brilio.net/fefy dwi haryanto

Pemanfaatan rempah untuk kesehatan ini pula yang memicu terjadinya perdagangan rempah global hingga memunculkan jalur rempah. Pusat-pusat peradaban masa lalu di India, Mesir, Babilonia, Yunani, Romawi, hingga China menjadi konsumen utama mengingat perkembangan penduduk yang cepat. "Pada masa itu kesehatan adalah salah satu masalah utama," kata sejarawan maritim sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip Semarang, Prof Singgih Tri Sulistiyono.

Wabah penyakit menjadi ancaman kesehatan paling mengerikan yang dihadapi ketika itu. Bagi kalangan bangsawan dan orang-orang kaya, maka mereka mampu dan mau mengeluarkan banyak uang demi bisa hidup lebih lama, sekaligus menikmati makanan lezat. Sebab, rempah tidak saja untuk obat, tapi juga bumbu dan pengawet makanan. Bahkan, rempah seperti lada juga dipakai dalam mengawetkan mummi di Mesir.

Perburuan rempah lintas benua pun terjadi. Awalnya beberapa rempah, seperti pala, cengkih, dan lada didapatkan dari India dan Srilanka. Perburuan rempah yang lebih besar kemudian membawa orang-orang dari berbagai negara itu sampai ke Nusantara.

Perdagangan internasional ini kemudian melahirkan sistem politik dan kepercayaan lokal di Nusantara yang diadopsi dari India. Lahirlah kerajaan-kerajaan bercorak India, seperti Sriwijaya, Mataram, Kediri, Majapahit. Sebagian besar kerajaan di Nusantara terletak di pesisir karena laut merupakan jalur perdagangan utama. Meski demikian, kerajaan di pedalaman juga menaruh konsen terhadap kemaritiman, misalnya Mataram.

Peran raja dan elit pun menjadi sangat penting dalam perdagangan rempah. "Memberikan keuntungan ekonomi untuk memperkuat legitimasi politik," tuturnya.

Bentuk pengaruh raja diimplementasikan dalam politik di pelabuhan. Kerajaan menjadi pemodal dan penjamin keamanan bagi para pedagang dan pelaut dengan sistem bagi hasil. Demi memperkuat pengaruh, sejumlah kerajaan menjalin hubungan diplomatik dengan berkirim hadiah bahkan lewat perkawinan keluarga kerajaan.

Jika pemburu rempah ke Nusantara dipicu kepentingan kesehatan, maka berbeda dengan motivasi penduduk Nusantara menjual rempahnya. Sebagai produsen rempah, masyarakat Nusantara berpengalaman meramu rempah untuk pengobatan. Apalagi perkembangan penduduk di Jawa saat itu sangat lambat dan tidak mengalami ancaman wabah. Sehingga, motif ekonomi lebih dominan. "Perdagangan internasional ini yang membuat perekonomian tumbuh," lanjut Prof Singgih.

Jamu dari gendongan ke kafe urban

kafe jamu © 2021 brilio.net

Penjaga Kafe Jamu Sukoharjo menyiapkan jamu pesanan pengunjung, Minggu (29/8/2021). foto:brilio.net/fefy dwi haryanto

Eksistensi rempah untuk kesehatan ini terus bertahan, bahkan bertransformasi. Di Pasar Jamu Nguter, transformasi ini menemukan bentuk termutakhirnya.

Saya tidak hanya disuguhi aroma reramuan rempah, tapi juga racikan yang beraneka bentuk penyajiannya. Selagi pagi, penjual jamu gendong yang dulu jemput bola dengan berkeliling, sabar menanti di pelataran pasar. Mereka setia meneruskan cara tradisional meracik jamu.

Bagi yang ingin lebih modern, bisa ke bangunan pasar. Salah satu ruangan menjadi bukti jamu melampau dari sekadar bertahan di tengah modernitas pengobatan. Ramuan kesehatan yang sudah diracik sejak Kerajaan Mataram Kuno ini telah merasuki gaya hidup generasi milenial dan Z.

Sebuah kafe jamu menyajikan 12 jenis minuman jamu yang ramah dengan lidah generasi kekinian, termasuk penamaan menunya. "Jamunya disuplai dari perusahaan jamu, bukan racikan langsung," kata Muhammad Trihartoyo (26), penjaga Kafe Jamu Sukoharjo.

Saya yang penasaran dengan jamu ala kafe, memesan Gue KunyoCo, perpaduan antara kunyit asam dengan air kelapa. Sebuah pengalaman baru, tidak hanya soal cara menikmati jamu, tapi kombinasi jamu dengan bahan lain. Selain yang saya pesan, ada pula teh, jahe, jeruk, dan sereh yang dikawinkan dalam cangkir, serta aneka jamu kekinian lainnya.

(brl/pep)