Brilio.net - Saat udara panas menyengat disertai rasa haus tak terkira, salah satu peredanya adalah minum air es. Tak cuma air es, lebih mantap lagi kalau minuman itu manis dan dingin sehingga menyegarkan. Misalnya saja es kelapa muda dicampur gula putih, es cincau dengan campuran gula jawa, atau es cappucino yang begitu legit. Semuanya bisa langsung mendinginkan mulut dan tenggorokan.

Nah, tapi siapa sangka ada risiko kesehatan di balik minuman manis yang dingin, lebih-lebih saat keseringan dikonsumsi. Apa itu? Kegemukan.

Dilansir Brilio.net dari Antara, Minggu (13/1), ahli gizi Dr. Rita Ramayulis, DCN, M.Kes menyatakan bahwa minuman manis dingin bisa membuat gemuk, tapi bukan karena adanya reaksi antara rasa manis dan suhu dingin.

"Kalau dingin itu kan sebetulnya cuma soal suhu, tapi suhu dingin itu secara psikologis membuat orang jadi ketagihan karena memberi efek nikmat, badan jadi punya keinginan untuk menyejukkan tubuh kembali," kata Rita.

Sebaliknya, rasa manis yang justru membuat gemuk kalau energi dari gula yang dikonsumsi tidak disalurkan melalui aktivitas fisik yang sesuai.

"Gula akan meningkatkan hormon dopamin yang menimbulkan efek rasa senang sesaat. Jadi kalau mengonsumsi makanan atau minuman manis kita jadi merasa nyaman dan ingin mengulang. Hormon dan rasa haus jadi tak terkendali. Itu yang bikin jadi gemuk," katanya.

Minuman manis disebut Rita lebih mungkin membuat gemuk seseorang dibanding makanan. Hal ini disebabkan saat minuman masuk lambung, lambung tak akan merasakan apa-apa karena bentuknya yang cair dan bisa terserap.

"Coba kalau minum teh manis dengan gula dua sendok, itu tidak akan meninggalkan bekas di lambung tapi energinya bisa mencapai 100 kilo kalori, dibandingkan kalau kita makan timun 100 gram, masuk lambung dan lambung kita penuh, kenyang tapi energi nol karena densitas rendah," jelas Rita.

Rita melanjutkan bahwa gula berlebih dalam tubuh akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak di sejumlah tempat, di bawah kulit, perut, dan organ dalam tubuh.

"Lemak sebetulnya esensial, tapi kalau jumlahnya melebihi yang dibutuhkan akan mengganggu metabolisme dan hormon bisa jadi resistan," ungkapnya.

Contohnya hormon yang memberi sinyal kenyang tak akan lagi sensitif pada orang-orang yang kelebihan lemak.

"Hormon tetap diproduksi tapi tak lagi sensitif. Makanya orang suka bilang gampang lapar," lanjutnya.

Metabolisme juga terganggu membuat kemampuan tubuh untuk mengolah energi menurun.

"Akibatnya orang akan bilang makan segini doang kok gemuk ya? Sehingga semua akan jadi jaringan lemak," pungkas Rita.