Brilio.net - Kesehatan jadi aset yang mahal untuk kehidupan. Menjaga kesehatan sejak dini jadi pilihan yang tepat untuk kehidupan di masa depan. Seperti yang kamu lihat, saat ini muncul berbagai penyakit yang bisa menyerang siapa saja. Maka penting untuk kamu menjaga badan agar tetap selalu sehat.

Nggak cuma kesehatan fisik saja, kesehatan psikis juga penting kamu rawat agar pikiran jadi lebih sehat. Selain itu pahami juga bagaimana cara yang tepat dalam menangani suatu penyakit.

Sebaiknya pahami beberapa gejala dan kondisi ketika tubuhmu terasa tidak sehat. Sebagai contohnya adalah sakit kepala. Keluhan itu mungkin kerap kamu rasakan.

Padahal jika tidak tertangani dengan tepat, sakit kepala bisa menjadi tanda adanya penyakit yang serius. Ketahui juga gejala dan cara untuk mengatasinya.

Berikut ulasan 10 jenis sakit kepala dilansir brilio.net dari healthline.com pada Jumat (10/4).

 

1. Sakit kepala tegang.

10 jenis sakit kepala © 2020 brilio.net

foto: unsplash.com

Ketika kamu mengalami sakit kepala karena tegang, kamu mungkin akan merasa sensasi tumpul dan pegal di seluruh kepala. Namun jenis sakit kepala ini tidak berdenyut. Selain itu bisa terjadi juga sensitivitas pada area leher, dahi, kulit kepala, atau otot bahu juga bisa terjadi. Sakit kepala tegang biasanya dipicu karena stes, dan hal ini bisa menyerang siapa saja.

Beberapa pereda nyeri seperti aspirin, ibuprofen (advil), naproxen (aleve) dikatakan bisa menjadi cara untuk mengatasi sakit kepala tegang. Namun jika obat tersebut tidak mengurasi rasa sakit kepala, sebaiknya kamu melakukan konsultasi dokter lebih lanjut.

 

2. Sakit kepala cluster.

Sakit kepala ini ditandai dengan rasa terbakar yang hebat dan menusuk. Gejala ini terasa pada sekitar salah satu mata atau pada salah satu sisi wajah. Terkadang akan timbul bengkak, kemerahan, dan timbul keringat serta hidung tersumbat pada sisi yang sakit. Datangnya sakit kepala ini bisa dikatakan berangkaian. Setiap sakit kepala ini timbul dapat berlangsung dari 15 menit hingga 3 jam.

Namun ada pula sebagian orang yang mengalami sakit ini selama 1 hingga 4 hari. Rangkaian sakit kepala cluster bisa terjadi setiap hari selama berbulan-bulan pada satu waktu. Sakit kepala jenis ini pada umumnya sering menyerang kaum pria.

Meskipun masih diteliti mengenai penyebab pasti sakit kepala cluster, namun disebutkan ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Biasanya dokter akan merekomendasikan terapi oksigen, sumatriptan (lmitrex) atau anastesi lokal untuk menghilangkan rasa sakit.

 

3. Migrain.

Sakit kepala migrain biasanya ditandai dengan denyut yang intens di dalam kepala. Nyeri ini bisa berlangsung selama berhari-hari. Migrain yang berlebih terkadang juga bisa mengganggu aktivitas sehari-hari.

Denyutan saat sakit kepala migrain biasanya terjadi pada satu sisi kepala. Orang yang mengalami migrain, seringkali sensitif terhadap cahaya dan suara. Mual dan muntah juga kerap dialami orang yang migrain.

Migrain tiga kali lebih mungkin menyerang pada wanita. Pada kasus lain, orang dengan gangguan stres pascatrauma juga menjadi kelompok yang beresiko terjangkit migrain.

Jika obat pereda nyeri tidak mengurangi rasa sakit, biasanya dokter akan memberikan resep triptan. Triptan merupakan obat untuk mengurangi peradanan dan mengubah aliran darah di dalam otak. Obat tersebut bisa dalam bentuk semprotan hidung, pil, atau suntikan.

 

4. Sakit kepala sinus atau alergi.

Sakit kepala sering kali terjadi akibat reaksi sebuah alergi. Rasa sakit ini sering terfokus di daerah sinus dan di kepala bagian depan. Menariknya, 90 persen dari sakit kepala sinus sebenarnya adalah migrain. orang yang memiliki alergi kronis atau sinusitis rentan terhadap sakit kepala jenis ini.

Untuk mengatasi sakit kepala sinus dilakukan dengan cara menipiskan lendir yang menumpuk dan menyebabkan sinus. Sakit kepa sinus juga bisa menjadi gejala infeksi sinus. Dalam kasus ini, dokter Anda biasanya akan meresepkan antibiotik untuk membersihkan infeksi dan meredakan sakit kepala dan gejala lainnya

 

5. Sakit kepala hormon.

10 jenis sakit kepala © 2020 brilio.net

foto: freepik.com

Wanita biasanya kerap mengalami sakit kepala jenis ini. Menstruasi, penggunaan pil KB, dan kehamilan bisa mempengaruhi kadar estrogen dan menyebabkan sakit kepala. Sakit kepala yang sering timbul saat menstruasi juga dikenal sebagai migrain menstruasi. Kondisi ini bisa terjadi sebelum, selama, atau sesudah masa menstruasi.

Selain obat pereda nyeri sakit kepala, teknik relaksasi, yoga, dan akupuntus bisa mencegah terjadinya sakit kepala hormon. Selain itu konsumsi juga makanan yang dapat mencegah timbulnya sakit kepala.

 

6. Sakit kepala kafein.

Kafein mempengaruhi aliran darah ke otak. Mengonsumsi terlalu banyak kafein dapat membuat kamu sakit kepala. Orang yang sering mengalami migrain beresiko memicu sakit kepala akibat penggunaan kafein.

Terlalu sering mengonsumsi kafein setiap harinya, bisa menjadi faktor pemicu munculnya sakit kepala. Untuk mengatasi ini, lebih baik kamu menjaga asupan konsumsi kafein atau mungkin berhenti sepenuhnya untuk mencegah sakit kepala terjadi.

 

7. Sakit kepala exertion.

Sakit kepala ini terjadi begitu cepat setelah aktivitas fisik yang intens. Hal ini bisa terjadi seperti mengangkat beban dan berlari. Diperkirakan aktifitas ini menyebabkan peningkatan aliran darah ke tengkorak, sehingga menyebabkan sakit kepala berdenyut di kedua sisi.

Jenis sakit kepala ini biasanya sembuh dalam beberapa menit atau beberapa jam. Analgesik, seperti aspirin dan ibuprofen (Advil), bisa meredakan gejala tersebut. Lakukan konsultasi pada dokter jika gejala sakit kepala ini semakin parah.

 

8. Sakit kepala hipertensi.

Tekanan darah tinggi bisa menyebabkan sakit kepala, bahkan ini bisa menjadi sinyal tertentu pada tubuhmu. Sakit kepala jenis ini biasanya terjadi di kedua sisi kepala dan akan menjadi lebih parah ketika beraktivitas. Ketika mengalami ini biasanya seseorang bisa mengalami perubahan penglihatan, kesemutan atau mati rasa, mimisa, nyeri dada atau sesak napas.

Jika mengalami sakit ini sebaiknya kamu menghubungi tenaga medis untuk mendapat pertolongan. Jenis sakit kepala ini biasanya hilang segera setelah tekanan darah terkendali lebih baik.

 

9. Sakit kepala berulang.

Sakit kepala yang berulang bisa terjadi ketika kamu serin mengonsumsi obat pereda sakit kepala. Kamu mungkin akan lebih rentan terhadap sakit ketika sering menggunakan obat penghilang nyeri. Sakit kepala ini bisa terjadi karena penggunaan obat perede nyeri seperti asetaminofen, ibuprofen, aspirin, dan naproxen yang digunakan lebih dari 15 hari dalam sebulan.

Cara untuk mengatasi ini adalah melepaskan diri dari obat yang sudah digunakan untuk mengendalikan rasa sakit. Jangan ragu juga lakukan konsultasi dengan dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut.

 

10. Sakit kepala pascatrauma.

Seperti namanya, sakit kepala ini terjadi setelah terjadi cedera pada kepala. Sakit kepala ini terasa seperti migrain atau sakit kepala tipe tegang. Biasanya bisa terjadi selama 6 hingga 12 bulan setelah cedera Anda terjadi. Obat-obatan seperti triptan, sumatriptan (Imitrex), beta-blocker, dan amitriptyline sering diresepkan untuk mengendalikan rasa sakit akibat sakit kepala ini.