Brilio.net - Mengasuh dan mendidik anak berkebutuhan khusus bukanlah perkara mudah. Butuh kesabaran dan keuletan yang ekstra. Membaca adanya permasalahan tersebut University of Hertfordshire mengembangkan sebuah robot yang diberi nama Kaspar.

Kaspar merupakan robot sosial yang diciptakan untuk anak-anak autis di sebuah sekolah di utara London. Robot tersebut bisa menyanyikan lagu, meniru cara makan, memainkan tamborin, dan menyisir rambut.

Robot tersebut telah diujicobakan untuk bermain dengan seorang anak autis bernama Finn. Selama sesi bermain robot tersebut membantu Finn melakukan interaksi sosial dan berkomunikasi. Saat Finn berlaku kasar, Kaspar akan berteriak 'Ouch, itu membuat saya sakit.'

Dalam penelitian perbaikan keterampilan sosial anak autis tersebut, seorang terapis juga mendampingi untuk mendorong si anak memperbaiki perilakunya dengan menggelitik kaki si robot. Finn adalah satu dari sekitar 170 anak autis yang mendapat bantuan Kaspar di sejumlah sekolah dan rumah sakit dalam 10 tahun terakhir.

"Visi kami adalah setiap anak di setiap sekolah atau rumah sakit bisa mendapat bantuan Kaspar jika mereka ingin," kata Kerstin Dautenhahn, profesor kecerdasan artifisial di University of Hertfordshire seperti dikutip dari Antara, Selasa (9/5).

Sebuah lembaga amal mandiri yang punya memperhatikan khusus pusat-pusat pendidikan dini anak autisme di Stevenage, melihat hasil positif dari kerja dengan robot bernama Kaspar itu.

"Kami mencoba mengajari seorang anak lelaki bagaimana cara makan dengan kelompoknya. Dia biasanya kesulitan karena masalah kegelisahannya. Kami mulai melakukannya dengan Kaspar, dan dia sangat, sangat menikmati memberi makan Kaspar, membuat dia makan ketika dia lapar, sesuatu seperti itu. Sekarang dia mulai menyatu dengan kelas dan makan bersama kelompoknya. Hal-hal semacam itu adalah kemajuan besar." kata wakil kepala sekolah Alice Lynch yang menaungi anak-anak autis.

Banyak anak dengan autisme sulit menafsirkan komunikasi dan emosi dasar manusia, karenanya perancang robot Kaspar berusaha dibuat agar tidak terlalu hidup dan sekaligus membuat fitur-fitur yang mudah diproses. Karena dengan demikian anak autis akan bisa belajar cara interaksi sosial yang baik dengan robot tersebut, begitu pun untuk di kehidupan nyatanya.