4. Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (2019).

film Netflix kesehatan mental berbagai sumber

foto: imdb.com

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini merupakan film Netflix tentang kesehatan mental yang menceritakan Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara), dan Awan (Rachel Amanda) sebagai kakak beradik yang hidup dalam keluarga yang tampak bahagia. Setelah mengalami kegagalan besar pertamanya, Awan berkenalan dengan Kale (Ardhito Pramono), seorang cowok eksentrik yang memberikan Awan pengalaman hidup baru, tentang patah, bangun, jatuh, tumbuh, hilang, dan semua ketakutan manusia pada umumnya.

Perubahan sikap Awan mendapat tekanan dari orang tuanya. Hal tersebut mendorong pemberontakan ketiga kakak beradik ini yang menyebabkan terungkapnya rahasia dan trauma besar dalam keluarga mereka.

5. Joker (2019).

film Netflix kesehatan mental berbagai sumber

foto: imdb.com

Joker merupakan film Netflix tentang kesehatan mental yang berlatar pada 1981. Film ini mengisahkan Arthur Fleck, seorang badut Partai dan calon komedian stand-up dengan kesehatan mental yang terganggu dan sudah cukup akut. Arthur menderita kelainan saraf yang menyebabkan dia tertawa pada waktu yang tidak tepat, sehingga membutuhkan pengobatan.

Setelah Arthur diserang oleh anak-anak nakal, rekan kerja Arthur, Randall, memberinya senjata untuk membela diri. Keadaan Arthur semakin parah saat ia berada di kereta bawah tanah. Saat itu, ia masih dalam riasan badut dan dipukuli oleh pengusaha mabuk dari Wayne Investments. Tak tahan melihat tingkah pengusaha tersebut, Arthur menembak dan membunuh tiga orang yang mengganggunya tersebut. Pembunuhan itu dikecam oleh calon walikota miliarder Thomas Wayne yang menyebut lawan politiknya "badut".

6. 27 Steps of May (2018).

film Netflix kesehatan mental berbagai sumber

foto: imdb.com

27 Steps of May merupakan film Netflix tentang kesehatan mental, mengisahkan May (Raihaanun) yang menjadi korban pemerkosaan Kerusuhan Mei 1998. Akibat kejadian tersebut, May mengalami trauma berkepanjangan. Hal ini lalu membuat ayahnya (Lukman Sardi) menjadi petinju untuk menyalurkan emosinya akibat trauma dari kerusuhan tersebut. Walaupun tak banyak dialog, film ini berhasil menampilkan pesan kekerasan seksual akan selalu menjadi trauma bagi penyintas dan keluarganya.