Brilio.net - Hingga saat ini, pandemi Covid-19 masih belum juga mereda. Meskipun sudah banyak negara yang memberlakukan sistem New Normal, namun masih banyak masyarakat yang merasa takut bila harus beraktivitas di luar rumah.

Namun, berbalik dengan sejumlah mahasiswa di Brigham Young University di Idaho, Amerika Serikat. Mereka justru bersedia disuntik virus Covid-19.

Dilansir Brilio.net dari Oddity Central, Kamis (22/10) sejumlah mahasiswa itu sempat menjadi sorotan pasalnya mereka justru rela terinfeksi virus corona. Alasan mereka rela terinfeksi virus corona karena saat seseorang terinfeksi, menghasilkan sel atau plasma antibodi Covid-19 yang nantinya bisa dijual kepada khalayak umum untuk mendapatkan uang.

Mengetahui hal tesebut, petinggi Brigham Young University langsung melakukan penyelidikan agar bisa mengantisipasi sedini mungkin untuk mencegah aksi nekat yang dilakukan sejumlah mahasiswa di sana.

Petinggi kampus pun spontan mengutuk keras perilaku mahasiswanya dan mengumumkan akan menangguhkan kelulusan mahasiswa yang ketahuan secara sengaja menyuntikkan Covid-19 pada tubuhnya.

Loading...

"Universitas saat ini sedang menyelidiki insiden di kampus, dan telah mendesak mahasiswa untuk tidak menempatkan diri mereka sendiri dan orang lain pada risiko-risiko, karena risiko tersebut tidak sebanding dengan imbalannya," tegasnya.

Lebih lanjut, menurut mereka, tidak pernah ada kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi mahasiswa yang sebanding dengan membahayakan keselamatan mereka. Bahkan, pihak kampus mengaku siap membantu jika ada mahasiswa yang terganjal masalah ekonomi.

Di Idaho sendiri, ada beberapa pusat donasi yang ingin membayar plasma antibodi Covid-19 demi membuat mereka kebal dari wabah. Bahkan ada satu pusat donasi yang dekat dengan kampus, yang siap membayar 100 dolar (setara dengan Rp 1,4 Juta) demi mendapatkan satu kantong plasma antibodi Covid-19.

Pemberian uang itu memang sengaja dilakukan karena sebagai ucapan terima kasih khusus kepada pihak yang dianggap telah menyelamatkan nyawa di masa pandemi.