Brilio.net - Setiap orangtua tentu ingin memberi warisan yang terbaik kepada anaknya, baik dalam bentuk ilmu melalui sekolah maupun harta, seperti uang atau rumah. Namun demikian, bayangan warisan yang mewah tersebut rupanya tidak berlaku bagi seorang lelaki bernama Choi berikut ini.

Alih-alih menyiapkan rumah atau harta berharga lain, seperti perhiasan, pria asal Korea Selatan yang saat ini berusia 75 tahun itu malah mengumpulkan barang bekas dan rongsokan di rumahnya. Tak tanggung-tanggung, aksinya itu ternyata telah berjalan selama lebih kurang 10 tahun.

Usut punya usut, dikutip brilio.net dari Oddity Central pada Jumat (23/7), aksi tersebut dilakukan lantaran ia dan sang istri khawatir akan masa depan sang anak. Diketahui, sang anak semata wayangnya itu selama ini terbilang tak pernah keluar rumah dan memilih menganggur.

Sementara itu, Choi sendiri bukannya tak pernah meminta sang anak untuk pergi keluar dan mencari pekerjaan. Berbagai nasihat tentu sudah ia utarakan kepada sang anak. Namun, putranya yang berusia 40 tahun itu lebih tak mengacuhkan dan lebih suka hidup dari uang pensiun orang tuanya.

Berangkat dari kondisi tersebut, Choi dan istrinya lantas mengumpulkan barang-barang bekas yang dianggapnya dapat bermanfaat supaya bisa dijadikan warisan untuk anaknya.

"Putra saya hanya suka tinggal di rumah, dia tidak pergi keluar untuk mencari pekerjaan, dan itu membuat kami khawatir. Saya hanya takut, istri saya dan saya akan segera mati. Jadi, saya memutuskan untuk mengumpulkan dan menyimpan lebih banyak barang di rumah. Semakin banyak, semakin baik. Apapun, asalkan digunakan dengan benar (pasti akan) berguna, dan sampah hanyalah harta yang salah tempat," kata Choi.

<img style=

foto: odditycentral.com

 

Persoalannya, aksi tersebut tidak saja memunculkan keributan di area tempat bermukim Choi. Di samping terdapat penentangan dari para tetangga yang mengeluhkan bau sampah, tumpukan rongsokan tersebut juga berpotensi memperburuk kondisi sang istri yang tidak sehat.

Diketahui, istri Choi memiliki masalah jantung yang serius. Dokter pun menyarankan agar mereka tinggal di lingkungan yang lebih bersih dan banyak berolahraga agar kondisinya membaik.

Awalnya, Choi sendiri merasa enggan. Namun pada akhirnya, ia pun setuju dan menuruti apa kata dokter demi sang istri. Dengan mengerahkan 226 orang dan sebuah ekskavator, 150 ton sampah yang ditimbunnya itu akhirnya pun dibersihkan.

"Demi masa depan dan kesehatan istri saya, saya tidak akan pernah memungut sampah lagi," ucap Choi.

Kini, hunian Choi pun menjadi bersih dan bebas dari sampah untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Sementara itu, sang putra yang awalnya menolak untuk meninggalkan ruangan, kini mulai tergerak untuk keluar rumah.