1. Home
  2. ยป
  3. Sosok
1 Januari 2017 02:07

Adam Makalani, fotografer ganteng yang abadikan peluncuran BRISat

Harus menyamar jadi anak pria asal Suriname. Islahuddin

Brilio.net - Mengabadikan momen peluncuran satelit bukan persoalan gampang lho. Maklum, umumnya tempat peluncuran adalah wilayah terlarang. Nggak semua orang bisa masuk ke sana.

Tapi momen inilah yang berhasil direkam fotografer muda berbakat Indonesia, Adam Makalani Kasali. Bermodalkan tekad dan rada nekat, ia berhasil mengabadikan momen langka peluncuran roket Ariane 5 yang membawa satelit BRISat pada 18 Juni 2016 lalu.

Bahkan mahasiswa jurusan Fine Art di New York Film Academy ini bisa jadi saksi langsung peluncuran yang dilakukan di Kota Kourou tepatnya di Bandar Antariksa Guyana Prancis di Amerika Selatan.

Saat mendengar kabar ada sebuah bank di Indonesia yang akan meluncurkan satelitnya sendiri, saya bertekad harus bisa menjadi saksi peristiwa yang membanggakan tersebut, ujar Adam saat ditemui di Rumah Perubahan, baru-baru ini.

BACA JUGA :
Ini kabar terbaru 'pria terjelek' di dunia, bikin nggak percaya


Hasil jepretannya (foto: Dok pribadi)


Bagi mahasiswa yang saat ini tinggal di New York, ini bukan hanya sekadar peluncuran satelit biasa lho. Namun sebuah sejarah baru yang mempunyai arti penting bagi bangsa Indonesia.

Hanya bermodalkan satu kamera DSLR dengan lensa 200 mm dan kamera film, serta tiga potong baju, putra bungsu pakar manajemen Rhenald Kasali ini pun berangkat ke daerah jajahan Prancis itu.

Nah untuk sampai ke Guyana Prancis, Adam nggak bisa langsung. Dia harus mampir ke Islandia dulu baru ke Prancis. Di Prancis ia harus melakukan vaksinasi.

Apalagi, saat itu bertepatan dengan tragedi penyerangan di salah satu klub malam di Orlando, Amerika Serikat, sehingga pengawasan di Guyana juga makin ketat. Setiap 30 kilometer ada pemeriksaan.

BACA JUGA :
Foto guru dan murid yang terkena kanker ini menyentuh banget

Adam Makalani Kasali mengisahkan perjalanannya (foto: brilio.net/yani andryansjah)


Tentu saja perjalanan Adam ke Kourou membutuhkan pengorbanan. Bukan hanya soal dana, tapi juga waktu dan tenaga. Namun, bagi Adam peluncuran ini adalah momen langka yang harus diabadikan. Padahal, saat itu pria kelahiran 22 Juni 1995 itu harus mengikuti ujian di kampusnya.

Sampai di Guyana Prancis, bukan berarti persoalan selesai lho. Untuk menunggu transportasi ke hotel dari bandara saja butuh waktu dua jam. Padahal, jarak bandara ke hotel bisa ditempuh dalam waktu 20 menit. Faktor lain yang nggak kalah ribetnya adalah soal bahasa. Nggak semua orang di sana bisa berbahasa Inggris.

Beruntung Adam menginap di hotel yang sama dengan sejumlah karyawan BRI. Mereka pun sangat mengapresiasi keinginan Adam untuk memotret peristiwa langka itu. Tapi gimana ya caranya bisa mendapat akses ke lokasi peluncuran?

Adam dapat keberuntungan lain. Ia bertemu dengan Swito, pria asal Suriname keturunan Jawa yang bekerja di space agency. Saya bisa sampai ke lokasi terdekat dengan satelit yang bisa dicapai secara legal karena mengaku sebagai anak Pak Swito, cerita Adam.

Bersama ayahnya, Rhenald Kasali, kayak pinang dibelah dua nggak sih? (foto: brilio.net/yani andryansjah)


Adam memang harus mencari tempat yang paling dekat dengan lokiasi peluncuran. Maklum ia hanya memiliki lensa 200 milimeter, jadi harus lebih dekat.

Nahasnya, peluncuran tiga kali ditunda. Ini tentu saja jadi persoalan baru. Sebab, Adam sudah membeli tiket untuk pulang melalui Prancis ke Amerika Serikat. Tiket yang sudah dibeli hangus. Semula ia hanya berencana tiga hari di Guyana akhirnya molor sampai tiga minggu.

Tapi saya nggak nyesel menghabiskan banyak waktu dan uang. Saya dapat pengalaman yang tidak ternilai. Kalau saya tidak melakukan ini, saya tidak akan mendapatkan sesuatu yang berbeda dari orang lain, kata Adam yang sejak kecil terobsesi dengan ruang angkasa itu.

Ternyata penundaan itu juga membawa berkah tersendiri. Adam punya waktu mengambil gambar Guyana yang terhitung tidak modern. Selain itu ia juga sempat mengunjungi Suriname yang penduduknya mayoritas beretnis Jawa.


Pengunjung mengabadikan karya Adam di Rumah Perubahan (foto: brilio.net/yani andryansjah)


Mereka tidak bisa bahasa Indonesia, tapi bahasa Jawanya masih sangat kental. Mengunjungi Suriname seperti mengunjungi Jawa. Mereka sangat tahu Indonesia, tapi tidak pernah ke Indonesia dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi di Indonesia, karena garis keturunan mereka terputus dan tidak diketahui, jelas Adam.

Kini koleksi foto Adam tentang peluncuran BRISat dan pernak pernik perjalanannya diabadaikan dalam buku Membawa Nusantara ke Angkasa yang akan diterbitkan pada Januari 2017.

Sejumlah fotonya juga dipamerkan di Rumah Perubahan, sebuah karya yang fenomenal.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags