Brilio.net - Memiliki buah hati merupakan keinginan setiap pasangan. Tak heran ketika dikaruniai buah hati, mereka akan menjaga anak dengan cara terbaik.

BACA JUGA :
Kisah 7 seleb urus anak sendiri tanpa baby sitter, ada Dinda Hauw

Hal itu yang mendasari dokter spesialis endokrinologi anak, dr Mesty Ariotedjo Sp.A dan sang suami Garri Juanda membuat sebuah platform bernama Tentang Anak yang berisi mengenai cara orang tua untuk mendidik anak sejak kecil.

Menggandeng pakar terpercaya khusus anak, platform tersebut diyakini dapat memudahkan orang tua dalam memberikan pola asuh di masa tumbuh kembang anak.

BACA JUGA :
Fokus urus anak, ini 4 tips Sophie Navita untuk jadi ibu ideal

Sebagai seorang dokter, Mesty mengaku bahwa saat ini masih banyak ibu muda yang percaya terhadap mitos-mitos yang ada. Oleh sebab itu, dengan adanya platform tersebut bisa lebih memberi pemahaman kepada orang tua.

“Beberapa mitos yang dipercaya oleh orang tua itu diluruskan dalam platform tersebut, sehingga orang tua tak salah saat mengasuh anak,” tuturnya.

Lantas apa saja mitos dan fakta di masa pertumbuhan anak? Berikut rangkumannya, Jumat (26/11).

1. Konsumsi susu formula sama baiknya dengan ASI.

foto: pixabay

Salah satu mitos yang jelas tidak benar adalah konsumsi formula sama baiknya dengan ASI. Seperti kita tahu, ASI memiliki kandungan nutrisi yang lebih unggul dibandingkan susu formula yang terbuat dari susu sapi. Nutrisi-nutrisi tersebut sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.

2. Menggunakan baby walker membantu anak cepat berjalan.

foto: pixabay

Hingga saat ini masih banyak orang tua yang memberikan baby walker karena dipercaya dapat menstimulasi anak untuk cepat berjalan. Padahal penggunaan baby walker tidak direkomendasikan di seluruh dunia sebab menyebabkan banyak kecelakaan pada anak.

Tak hanya itu, penggunaan baby walker juga dapat menyebabkan fungsi kaki tidak optimal jika dibandingkan dengan anak yang tidak menggunakan alat bantu berjalan.

"Selain bahaya, itu juga menyebabkan fungsi kakinya menjadi tidak natural dan akhirnya menjinjit. Posisi jalannya mungkin tidak seoptimal yang tidak pakai baby walker, walaupun tidak semua anak mengalami itu," ucap Mesty.

3. Sering menggunakan tangan kiri membuat anak menjadi kidal.

foto: pixabay

Mesty mengatakan salah satu mitos yang banyak dipercaya orang tua adalah melarang anak menggunakan tangan kiri untuk melakukan aktivitas sehari-hari karena takut menjadi kidal.

Menurut Mesty, sebaiknya anak yang belum berusia 2 tahun dibebaskan untuk mencoba menggenggam atau menggunakan tangan kirinya saat beraktivitas seperti makan, mencorat-coret serta bermain. Hal tersebut akan berpengaruh pada perkembangan otak kiri dan kanannya.

“Anak butuh memiliki keseimbangan otak kiri dan kanan dan memang ini harus distimulasi terus. Kalau kita menahan dia untuk menggunakan tangan kirinya, maka otak kanannya akan terhambat perkembangannya," tutur Mesty.

4. Biarkan anak yang terlambat bicara karena akan bisa sendiri.

foto: pixabay

Sebagian orang tua menganggap kalau anak terlambat bicara bukanlah suatu masalah yang besar karena nantinya anak akan bisa bicara dengan sendirinya. Padahal kemampuan berbicara bayi perlu dilatih sejak dini.

“Nggak perlu kemampuan itu ditunggu hingga bisa berkembang sendirinya. Jika anak menunjukkan tanda-tanda terlambat bicara, orang tua biasa minta bantuan dokter,” kata Mesty.

5. Melarang anak memasukkan tangan ke mulut agar gigi tidak maju.

foto: pixabay

Mitos terakhir yang sering dilakukan oleh para orang tua adalah melarang anak memasukkan tangan ke mulut karena dianggap akan membuat gigi maju.

Menurut Mesty, anak-anak di bawah usia dua tahun sedang dalam fase oral, di mana memasukkan tangan ke dalam mulut, adalah hal yang dianggap nyaman.

"Itu tidak perlu dilarang karena memasukkan tangan ke mulut adalah salah satu bentuk soothing," ujar Mesty.

Ketika anak memasukkan tangan ke mulut, orang tua perlu melakukan observasi atau tindakan. Orang tua harus memahami apa yang dibutuhkan anak saat itu, apakah ada sesuatu yang tidak terpenuhi atau yang membuatnya merasa tidak nyaman.

"Kita harus observasi, kita harus memahami apa sih sebenarnya kebutuhan anak ini yang tidak terpenuhi dan apa yang membuatnya tidak nyaman dan itu yang harus diatasi," pungkas Mesty.

RECOMMENDED