1. Home
  2. ยป
  3. Film
7 Maret 2018 02:00

10 Behind the scene Film Tengkorak, peraih nominasi Best Film di AS

Film keren ini garapan dosen dan mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada. Hira Hilary Aragon

Brilio.net - Kamu pasti tak asing lagi dengan film bejudul 'Tengkorak'. Film ini bercerita tentang penemuan fosil tengkorak manusia dengan panjang 1.850 meter. Penemuan ini tentu membuat bingung banyak orang hingga memicu perdebatan antara pihak yang menghendaki agar ditutup rapat-rapat dengan pihak yang ingin menelitinya. Perdebatan ini juga membuat seorang gadis tertarik untuk menemukan misteri dari tengkorak raksasa itu.

Film garapan dosen dan mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada ini rupanya mampu meraih nominasi film sains terbaik, dengan kategori science fiction, fantasy, and thriller dalam festival film Cinequest di Sanjose, California, Amerika Serikat pada 1 Maret 2018 yang lalu. Membanggakannya lagi, Film Tengkorak menjadi satu-satunya film Indonesia yang tampil di ajang bergengsi tersebut.

BACA JUGA :
Tak kalah sukses dari filmnya, 7 soundtrack ini berjaya di tangga lagu


Untuk mencapai kesuksesannya itu, tentu banyak dilewati oleh crew dan para pemain. Salah satunya adalah proses syuting yang cukup lama, yaitu 127 hari. Selain itu film ini sebenarnya mulai diproduksi sejak tahun 2014 yang lalu, namun banyak kendala yang membuatnya baru dapat diselesaikan pada November 2017.

Kendala terbesarnya menurut Sang sutradara, Yusron Fuadi yaitu pendanaan. Banyaknya sponsor yang menolak, tak membuat tekad besar Yusron bersama teman-temannya rela patungan, sehingga produksi film berjalan dengan baik. Wah salut!

Yuk simak proses di balik layar Tengkorak, film Indonesia yang meraih nominasi Best Film di AS, yang brilio.net rangkum dari akun @tengkorak.crew, Selasa (6/3).

1. Proses pembuatan miniatur Balai Penelitian Bukit Tengkorak memerlukan waktu selama 3 bulan. Pembuatannya pun dengan biaya produksi yang minim, namun hasilnya luar biasa.

BACA JUGA :
8 Foto di balik layar film horor Raffi Ahmad yang diprotes para suster

2. Pembuatan miniatur bangunan ini tentu dengan banyak perjuangan. Dinding yang dibuat dari gabus rupanya gampang hancur saat diterpa hujan dan angin.

3. Proses scene yang cukup sulit diproduksi. Pasalnya scene ini membutuhkan lebih dari 25 blue screen. Lokasi yang memiliki angin yang kencang, membuat tim kesulitan memasangnya.

4. Pengambilan gambar di Goa Ngingrong Wonosari, penuh perjuangan.

5. Produksi film ini tentu dibantu oleh beberapa rekan dari Polda DI Yogyakarta dan Gadjah Mada Airsoft Squad. keren banget.

6. Selama proses syuting, tim memang harus memberikan semangat sebagai dukungan kepada satu sama lain.

7. Antusias masyarakat di lokasi syuting juga sangat membantu crew.

8. Proses syutingnya memang menggunakan banyak lokasi, baik di lingkungan UGM hingga di luar Jogjakarta.

9. Tak hanya orang Indonesia, film ini juga melibatkan pemain asing lho.

10. Dengan budget terbatas, mereka telah menghasilkan karya yang luar biasa.

SHARE NOW
EXPLORE BRILIO!
RELATED
MOST POPULAR
Today Tags