Brilio.net - Saling menghormati sesama umat beragama merupakan hal yang sangat dianjurkan dalam agama Islam. Perbedaan agama bukan menjadi alasan bagi seorang muslim untuk membenci dan memusuhi umat agama lain. Namun pada faktanya, tak sedikit umat Islam di Indonesia melakukan perbuatan diskriminatif terhadap umat agama lain.

Pada suatu hari, Rasulullah sedang berjalan dan mendapati rombongan jenazah lewat di hadapannya. Nabi Muhammad SAW pun berdiri untuk menghormati sang jenazah.

Tiba-tiba, sahabat beliau pun segera memberi tahu dengan nada sedikit protes.

"Itu jenazah orang Yahudi," tiba-tiba sahabat beliau memberi tahu dengan nada sedikit protes.

"Bukankah ia juga manusia?" Rasulullah pun menyahut.

Loading...

Dialog singkat ini ternyata bisa dijumpai dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari. Dalam hadits tersebut menceritakan konteks ketika suatu hari Sahal bin Hunaif dan Qais bin Sa'ad sedang duduk di daerah Qadisiyah. Saat sedang duduk, tiba-tiba lewat jenazah di hadapan keduanya dan mereka berdua pun berdiri.

Dikatakan kepada keduanya bahwa jenazah tersebut adalah ahlu dzimmah, orang non-muslim yang baik. Lalu keduanya menceritakan tentang sikap Rasulullah terhadap jenazah Yahudi.

Bukan tanpa alasan kenapa sahabat nabi sedikit protes saat melihat Rasulullah berdiri menghormati sang jenazah. Ya, mengingat saat itu sebagian orang Yahudi memusuhi dakwah Rasulullah. Para sahabat rupanya penasaran dengan alasan Rasulullah menghormati jenazah bukan beragama Islam.

Melihat rasa penasaran para sahabat, Rasulullah menjawabnya dengan pertanyaan bernada retoris.

"Bukankah dia manusia (nafs)?" jawab Rasulullah.

Dengan jawaban itu seakan Rasulullah ingin mengingatkan para sahabat bahwa setiap manusia layak mendapat penghormatan, meski memiliki latar belakang sosial, agama, suku yang berbeda. Bahkan saat orang tersebut sudah terbujur kaku.

Tak cuma dalam hadits riwayat Imam Bukhari, dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan pula Rasulullah memerintahkan orang-orang untuk berdiri ketika ada jenazah Yahudi, Nasrani atau Muslim. Tak cuma untuk menghormati jenazah, melainkan kepada malaikat yang menyertai jenazah tersebut.

Makna perintah Rasulullah, manusia sudah pasti tak luput dari iring-iringan malaikat, tak cuma ketika hidup tapi juga saat sudah meninggal dunia. Meskipun hadits perintah untuk berdiri ini mansukh, namun petikan pada hadits pertama di atas menyiratkan pesan sebenarnya bahwa Rasulullah sangat menghormati manusia. Ya, hal itu selaras dengan pertanyaan Alquran dalam Surat Al-Isra ayat 70, "dan sungguh telah Kami muliakan manusia".

Kisah teladan Rasulullah ini menceritakan betapa agungnya kemanusiaan dalam Islam. Rasulullah memberikan teladan kepada umatnya tak cuma teguh dalam tauhid tapi secara bersamaan juga menghargai manusia apa pun latar belakangnya.

Bukankah Islam mengajarkan bahwa semua manusia adalah setara, yang membedakan hanya ketakwaan? Ketakwaan ini tentu saja menurut Allah SWT, bukan menurut manusia yang tak lepas dari lupa dan kekeliruan.