Brilio.net - Sudah menjadi rahasia umum, penyandang difabel sering dipandang sebelah mata. Mereka juga kerap kesulitan mengakses dunia kerja. Mereka sering dianggap sebagai kelompok yang perlu dikasihani.

Padahal, nggak sedikit lho penyandang difabel yang punya semangat melebihi orang normal. Dede Atmo Pernoto salah satunya. Bapak asal Karangjati Tarub, Tegal Jawa Tengah berprofesi sebagai driver Go-Jek.

Penyandang tuna daksa tetap semangat demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Pria yang akrab disapa Dede Yusuf oleh teman-temannya ini, memutuskan menjadi mitra Go-Jek setelah sekian lama menggeluti berbagai macam pekerjaan. Baru dua bulan Dede menjadi driver Go-Jek.

Driver Gojek Difabel  © 2017 brilio.net

“Saya mendaftar ke Go-Jek karena ada kebutuhan ekonomi yang mendesak. Pekerjaan saya yang lama tidak bisa memenuhinya. Kemudian saya melihat peluang dari Go-Jek.  Saya mendaftar lewat SMS. Akhirnya saya datang ke kantor Go-Jek, Alhamdulilah diterima tapi saya harus melengkapi SKCK saya,” ujar pria berusia 40 tahun ini.

Loading...

Alasan Dede menjadi mitra Go-Jek karena sistem di perusahaan ini tidak membutuhkan persyaratan ijazah dari institusi pendidikan. Hanya dibutuhkan dokumen kelengkapan seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP), Surat Izin Mengemudi (SIM), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dan dan Surat Catatan Keterangan Kepolisian (SKCK).

Oh ya, kendaraan yang digunakan Dede tentu saja berbeda dari motor pada umumnya lho. Dia sengaja merancang  motor roda 3 yang sudah dibuat jauh-jauh hari sebelum masuk Go-Jek. “Kebetulan waktu itu, saya ada rezeki. Saya buat motor roda tiga ini, Alhamdulilah nggak lama dipanggil kerja di Go-Jek,” ujarnya sambil tersenyum.

Driver Gojek Difabel  © 2017 brilio.net

Tak jarang Dede mendapatkan pengalaman menarik mulai penumpang yang kaget karena dirinya difabel, cancel order karena si penumpang takut celaka sampai penumpang yang dermawan memberikan ongkos lebih. Semua itu ia jadikan pengalaman.

Kini, Dede yang beroperasi di wilayah Tegal, mengaku sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Nah sebagian penghasilannya ia tabung untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi sarjana kelak.

“Anak saya harus lebih dari saya. Dengan bermitra dengan Go-Jek saya bisa menabung untuk masa depan anak-anak saya nanti. Jangan sampai seperti bapaknya. Sekolah yang tinggi dan jadi orang berguna untuk orang banyak,” ujar pria yang pernah bekerja sebagai penjual rokok, penjual pakan burung dan penyemir sepatu dengan kursi roda ini.

Menyuarakan hak difabel

Driver Gojek Difabel  © 2017 brilio.net

Selain sebagai driver Go-Jek, Dede juga aktif di kelompok Difabel Slawi Mandiri (DSM), sebuah organisasi yang giat mengawal isu difabel dan penyandang kusta yang sudah berdiri sejak 8 tahun silam. Berbagai kegiatan dilakukan organisasi ini agar para difabel nggak lagi dianggap sepele.

Dede sering mengadvokasi masyarakat soal pendidikan, identitas dan kartu sehat yang layak diterima kaum difabel. Maklum, di daerahnya masih banyak dunia usaha dan pendidikan yang belum ramah difabel. Itu yang sering Dede suarakan.

“Untuk pendidikan, kami menyuarakan agar sekolah-sekolah umum bisa menerima murid-murid difabel. Sedangkan untuk KTP, kami suarakan betul, karena kalau mereka tidak punya KTP, mereka tidak bisa punya kartu sehat dan tidak terdaftar juga sebagai penduduk Indonesia,” jelasnya.

Saat ini anggota DSM sudah mencapai 150 orang. Tak hanya kegiatan advokasi saja yang ia jalankan bersama rekan-rekannya, namun juga kegiatan rutin lain, seperti sharing sesama anggota difabel, senam, pentas seni dan pendataan.

“Prinsip saya satu, meskipun saya seperti ini, tapi saya ingin sekali bermanfaat, berguna buat orang lain. Ketika saya terbatas, saya tidak mau merugikan mereka yang normal,” katanya.

Keterbatasan, bukan menjadi penghalang bagi Dede untuk bekerja demi orang-orang yang ia cintai. Salut, semangat terus ya pak!