Brilio.net - Pilot masih menjadi salah satu profesi yang membanggakan, khususnya bagi anak-anak di pedalaman Indonesia yang hanya bisa dicapai melalui transportasi udara. Mereka merasa memiliki kebanggaan tersendiri ketika bisa menerbangkan pesawat di atas tanah kelahiran.

Hal inilah yang dirasakan sejumlah pilot muda Smart Aviation, operator pesawat perintis yang melayani penerbangan di pelosok Tanah Air. Maskapai ini memang memprioritaskan putra daerah untuk menjadi pilot.

“Suatu kebanggan bagi daerah mereka ketika memiliki pilot asli putra daerah. Karena itu saya membuka kesempatan kerja bagi putra-putra lokal. Saya selalu berusaha untuk merekrut orang Indonesia dan membatasi pilot asing. Tujuannya agar putra-putri Indonesia nggak cuma jadi penonton,” ujar Presiden Direktur PT Smart Cakrawala Aviation (Smart Aviation) Pongky Majaya.

Para pilot muda putra daerah menggapai impian mereka untuk menerbangkan pesawat harus menjalani perjuangan yang tidak mudah. Dengan segala kerterbatasan yang ada, mereka harus bersaing dengan kandidat dari daerah lain.

Mereka harus menempuh pendidikan sekolah pilot di kota-kota besar yang jaraknya puluhan ribu kilometer dari tempat kelahiran mereka. Usai menamatkan pendidikan, tak serta merta mereka bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat di dunia penerbangan.

Justru banyak yang menganggur karena keterbatasan peluang kerja di maskapai. Padahal, mereka sudah menghabiskan uang dari ratusan juta hingga miliaran rupiah untuk sekolah. Ada yang harus menjual rumah hingga perkebunan agar dapat mengikuti pendidikan pilot.   

Berikut potret perjuangan tiga pilot muda Smart Aviation yang berasal dari daerah pelosok di Indonesia.

2 dari 4 halaman

1. Bona Ventura, pernah tertembak di Papua

Pilot Smart Aviation asal Sambas, Kalimantan Barat ini sejak kecil memang bercita-cita menjadi pilot. Usai menamatkan sekolah di SMP Negeri 2 Sambas, Bona melanjutkan pendidikan di SMA Taruna Bumi Khatulistiwa di Pontianak.

Sulung dari tiga bersaudara ini terlahir dari ayah berdarah Dayak Singkawang dan ibu asal Jogjakarta. Kedua orang tuanya sama-sama kuliah di UGM. Ayahnya seorang dokter umum yang saat ini membuka praktik di Sambas. Sementara ibunya seorang sarjana pertanian yang memilih menjadi ibu rumah tangga.   

Awalnya, Bona bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur. Tapi keinginan tersebut tidak tercapai. Namun pria kelahiran 15 Juli 1997 ini tidak patah semangat. Ia pun melanjutkan sekolah pilot di Genesa Flight Academy di Cilacap, Jawa Tengah pada 2018. Hanya butuh satu tahun bagi Bona untuk menyelesaikan pendidikan pilot.   

Bona cukup beruntung. Setelah lulus dari sekolah pilot, ia langsung melamar pekerjaan di Smart Aviation yang saat itu sedang merekrut pilot baru. “Bersyukur lamaran saya sampai ke pemilik Smart Caklrawala dan saya dipanggil untuk ikut ground training di Palembang untuk ikut pelajaran kelas,” ungkap Bona kepada Brilio.net.

Bona kemudian mengikuti base training pertama di Singkawang, Kalimantan Barat hingga akhirnya dipercaya sebagai co-pilot. Pada Desember 2021, Bona pun resmi menyandang gelar sebagai Kapten. Setelah itu ia melakukan dinas pertama di Timika Papua selama kurang lebih 3 bulan.

Kehilangan “bapak terbang”

Selama bertugas di Papua, Bona punya segudang pengalaman, bahkan ada yang cukup mengerikan. Saat menjadi co-pilot bersama Kapten Rahayu Kuntardi, ia pernah tertembak di Kiwirok. Saat itu, pesawat mereka membawa tiga orang Satgas Naggala beserta logistik dan makanan.  

“Kita tertembak di bagian kiri dan kaca depan saat membawa pesawat PK-SNN. Itu salah satu yang membekas pada saya. Setelah peristiwa itu saya diliburkan lebih dari satu bulan untuk recovery secara psikologis,” ujar Bona.   

Satu minggu setelah kejadian tersebut, Kapten Rahayu Kuntardi yang merupakan pilot pertama di Smart Aviation mengalami kecelakaan di Ilaga yang menyebabkan ia meninggal dunia. “Dia (Kapten Kuntardi) bapak terbang saya. Dia menjabat chief pilot saya yang mengajari saya terbang dari nol,” kenang Bona.

3 dari 4 halaman

2. Abraham Alex Tanusaputra, orang tua jual rumah dan kebun

Anak muda asal Long Bawan, Krayan, Nunukan, Kalimantan Utara ini harus jatuh bangun untuk menggapai impiannya menjadi pilot. Cukup beralasan Abraham berambisi menjadi pilot. Untuk bisa sampai ke Long Bawan, hanya bisa ditempuh melalui transportasi udara.

“Di kampung saya itu tak ada satu pun yang jadi pilot. Kebanyakan teman-teman yang lulus sekolah ya mencari profesi yang sudah ada aja, misalnya jadi guru. Daerah saya itu kan terpencil hanya bisa dicapai dengan pesawat terbang, makanya saya terobsesi jadi pilot,” ujar Abraham.  

Untuk menggapai impiannya, Abraham memilih sekolah pilot di Cilacap dengan biaya yang diberikan orang tuanya. Untuk memenuhi keinginan anaknya, sang ayah terpaksa menjual rumah dan kebun. Untuk mengikuti sekolah pilot tersebut, sedikitnya Abraham membutuhkan biaya hingga Rp 665 juta. “Karena nggak punya persiapan (tabungan) makanya sampai jual rumah dan kebun,” ujarnya.

Cilakanya, setelah lulus sekolah pilot Pria kelahiran April 1998 ini tak mendapatkan pekerjaan. Ia pun tak berani kembali ke kampung halamannya. Pada tahun pertama lulus sekolah pilot, Abraham memilih tinggal di Pulau Tarakan sambil terus berupaya mencari pekerjaan.

“Tahun kedua saya berusaha cari kerja dan dapat kerja di ground bandara, dorong-dorong bahan bakar untuk refil BBM pesawat, termasuk angkat-angkat barang. Pertengahan tahun lalu (2021) saya ketemu sama Pak Pongky di Tanjung Selor dan dijanjikan bekerja di Smart Aviation. Awal tahun ini saya akhirnya masuk ke Smart Aviation,” kata Abraham.

4 dari 4 halaman

3. Oscar Kobogau, pernah kerja tanpa digaji

Anak muda asal Intan Jaya, Papua ini sejak kecil berangan-angan menjadi pilot. Cita-cita itu muncul karena sang ayah yang merupakan karyawan Freeport selalu mendapat cuti Natal di akhir tahun. Karena itu Oscar dan keluarganya selalu menggunakan pesawat terbang dari Timika ke Intan Jaya.    

“Dari situ saya mulai suka dengan pesawat. Untuk pulang ke Intan Jaya hanya bisa diakses lewat udara. Itu alasan saya kenapa mau menjadi pilot biar saya bisa melayani masyarakat di tanah kelahiran saya,” ungkap Oscar.

Karena itu, setelah lulus SMK Penerbangan pada 2014, ia memilih melanjutkan ke sekolah pilot di Deraya Flying School, Halim Perdanakusumah, Jakarta. Pria kelahiran Tembagapura 30 Oktober 1995 itu bisa sekolah pilot setelah mendapat bantuan dari ayah angkatnya, Pendeta Yan R Kobogau yang kebetulan menjabat sebagai wakil bupati.    

“Untuk sekolah pilot kan biayanya mahal, saya sempat kesulitan juga soal biaya. Kebetulan saya punya orang tua angkat di Papua. Dia yang membantu saya sekolah pilot sampai selesai tahun 2017,” ujarnya.

Saat sekolah pilot, Oscar hanya bisa mengambil jenjang untuk PPL (Private Pilot License), CPL (Commercial Pilot License), dan IR (Instrument Rating). Itu pun membutuhkan biaya yang tak sedikit, sekitar Rp 750 juta. Sementara teman-temannya bisa mengambil hingga jenjang MER (Multi-Engine Rating) yang biayanya hingga mencapai Rp 1 miliar.

Angkut-angkut barang

Usai menyelesaikan pendidikan pilot, Oscar mulai melamar ke berbagai maskapai. Tapi ia kurang beruntung karena tak satu pun panggilan yang ia terima. Akhirnya, ia memutuskan kembali ke Nabire, Papua.

Ia berharap bisa mendapat pekerjaan di Bumi Cendrawasih. Tapi lagi-lagi keberuntungan belum berpihak. Tak ingin ilmu pengetahuannya terbuang percuma, Oscar pun menawarkan diri kepada sebuah maskapai untuk bekerja meski tanpa digaji. “Ya nggak apa-apalah tidak dibayar yang penting masih bisa melihat pesawat,” kisahnya.   

Di maskapai tersebut Oscar bertugas membantu angkut-angkut barang dan ticketing. Namun pekerjaan tersebut hanya bertahan 3 bulan. Setelah itu ia mendapat informasi bahwa sekolah pilot di Jakarta (Aero Flyer Institute) membutuhkan tenaga pengajar. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Oscar pun mengirimkan lamaran.     

“Ternyata saya diterima dan harus ke Jakarta untuk mengikuti tes. Selama dua minggu tes, akhirnya saya lulus lalu dikontrak selama 3 tahun, mulai 2017. Tahun 2020 Covid-19 merebak, banyak kantor yang mengurangi karyawan termasuk di tempat saya itu dan saya salah satunya,” ujarnya.  

Setelah itu, Oscar kembali ke Papua dan menjadi pengajar lepas SMK Penerbangan di Timika. Selama mengajar, Oscar terus mengirimkan lamaran ke berbagai maskapai. Nasib baik pun berpihak.

Pada akhir 2021, ia diterima di Smart Aviation. Namun Oscar harus kembali menjalani pendidikan mulai dari ground training, base training, hingga line training untuk menerbangkan pesawat Cessna Caravan 208. Karena selama ini ia hanya menerbangkan pesawat latih Cessna 172. Impian Oscar untuk terbang di tanah kelahirannya pun semakin terbuka lebar.  

(brl/red)