Brilio.net - Sri Indriyani (37), punya jasa yang besar bagi Indonesia. Dia telah mengharumkan nama Indonesia pada ajang Olimpiade Sydney 2000. Saat itu, ia meraih medali pada cabang olahraga angkat besi kelas 48 kg.

Prestasinya untuk Indonesia tak perlu diragukan lagi. Ia mendapatkan 3 medali emas pada Kejuaraan Dunia Angkat Besi tahun 1996 di Polandia. Lebih membanggakan lagi, ia bisa memecahkan rekor lifter junior yang ada saat itu.

Sri Indriyani © 2016 brilio.net

Selain itu, ia juga meraih medali perunggu pada Asian Games 1998 di Bangkok untuk kelas 48 kg, medali perak untuk World Championships di Athena 1999 untuk kelas 48 kg, dan puncaknya meraih medali perunggu pada Olimpiade 2000 di Sydney untuk kelas 48 kg.

Kini, Indri bekerja di Kantor Pos Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah. Di sana, ia melayani para pengguna jasa Kantor Pos yang akan mengirimkan surat, paketan maupun transaksi lain via PT Pos Indonesia.

Loading...

Berikut wawancara brilio.net dengan Sri Indriyani melalui sambungan telepon, Rabu (31/8)

Bagaimana awal ceritanya Mbak Indri bisa kerja di PT Pos Indonesia?

Saat itu tahun 1996 saya ikut Kejuaraan Dunia Junior, 3 dapat emas dan pecah rekor. Waktu itu ditanyai Pak Soesilo Soedarman, Ketua Umum Olahraga Angkat Besi sekaligus Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia era Orde Baru, "Sudah kerja belum?" Saya jawab belum terus dimasukin ke PT Pos Indonesia. Akhirnya saya ditempatkan di Kantor Pos.

Setelah meraih medali Olimpiade terus pensiun apa gimana mbak?

Setelah Olimpiade tahun 2000 masih sempat latihan. Terakhir di Sea Games Malaysia tahun 2001. Terus tahun 2002 saya keluar (pensiun) dari angkat besi. Terus menikah dan punya anak. Tapi kebetulan karena sudah terdaftar menjadi karyawan kantor pos, kan di kantor pos saya sudah masuk dari tahun 1996 tapi belum bisa aktif karena latihan, jadi setelah saya pensiun baru masuk Kantor Pos.

Itu memang diberi kemudahan?

Iya diberi kemudahan dari Ketua Umum Olahraga Angkat Besi, Pak Soesilo Soedarman. Waktu itu atlet yang berprestasi ada yang dimasukkan ke Telkom. Saya dimasukkan ke Kantor Pos. Setelah pensiun dari atlet, saya mulai aktif di Kantor Pos. Tapi dulu masih di Kantor Pos Lampung.

Bisa diceritakan bagaimana awal Mbak Indri bisa menekuni olahraga angkat besi?

Saya baca berita banyak yang salah. Banyak yang bilang kalau saya kelahiran Lampung. Padahal saya lahir di Solo. Masuk angkat besi pertama juga di Solo kelas 4 SD. Terus mulai kelas 6 ikut kejuaraan, sampai masuk di Pelatnas di Bogor tahun 1992.

Tahun 1994 saya pindah daerah ke Lampung karena saat itu Lampung untuk angkat besi latihannya lebih diperhatikan, bisa fokus latihan. Waktu itu saya masih kelas 3 SMP. Saya pindah daerah lain karena kejuaraan kan tercatat kita daerah mana. Meskipun saya di Pelatnas Bogor tapi kan saya statusnya masih atlet binaan Jawa Tengah, tapi terus saya memutuskan pindah daerah ke Lampung.

Karena latihan lebih fokus, mulai banyak prestasi di Lampung, hasil didikan Pak Imron Rosadi.

Sri Indriyani © 2016 brilio.net

Puncaknya dapat perunggu di Olimpiade itu ya?

Sebetulnya sih awal prestasi yang berkesan itu waktu kejuaraan dunia junior di Polandia dapat 3 emas, terus pecah rekor dunia juga. Itu awal-awal prestasi saya. Seingat saya itu awal-awal angkat besi mulai diperhatikan.

Terus kejuaraan dunia junior di Afrika Selatan dapat emas lagi.

Setelah tahun 2002 pensiun, menikah, terus tingal di mana mbak?

Masih di Lampung karena saya dapat suami orang Lampung. Jadi bukan suami saya pegawai Pos Jepara. Berita yang beredar itu salah, yang kerja di Kantor Pos itu saya.

Dapat Suami Lampung, kemudian pindah ke Jepara sejak kapan?

Waktu itu sempat kerja di Kantor Pos di Lampung. Sempat ikut latihan lagi untuk PON di Balikpapan, Kalimantan Timur tahun 2008. Waktu itu dapat perak. Terus saya berhenti. Waktu itu manajer saya nawarin, mau pulang ke Jawa apa nggak? Saya bilang mau, tapi saya pulang ke Jawa pengennya kan buka kelas angkat besi di Jawa Tengah, karena saya berawal dari angkat besi, saya pengen menularkan ilmu saya. Saya cari daerah yang angkat besinya belum berkembang.

Terus saya tanya adek, kebetulan adik saya atlet angkat besi dua-duanya. Kita 3 bersaudara cewek semua angkat besi semua. Tapi adik saya dua-duanya di Jawa Tengah, satu di Kendal, satu Purwodadi. Katanya yang belum ada angkat besi itu di Jepara. Akhirnya saya ke Jepara saja. Kan Jepara terkenal dengan Kartininya.

Tapi ternyata setelah mutasi ke Kantor Pos Jepara, itu jam kerjanya sangat padat. Pulangnya malam terus. Sampai rumah agak maghrib. Saya nggak kepikiran buka kelas angkat besi, karena agak susah. Karena kita butuh tempat, tempat latihan angkat besi kan nggak bisa terlalu dekat dengan tetangga karena besi pasti dibanting-banting lama-lama tetangganya terganggu dengan suaranya. Saya butuh tempat agak luas, sedangkan tempat agak luas kan butuh modal. Selain terbentur tempat, saya juga terkendala alat untuk latihan. Terus saya pikir kalau saya paksakan akhirnya terbentur waktu juga karena saya masih kerja di Kantor Pos, pulangnya maghrib terus. Akhirnya di sini belum bisa.

Saya sih nggak tahu mudah-mudahan ada yang bisa bantu saya membangun kelas sasana angkat besi.

Sri Indriyani © 2016 brilio.net

Kalau suami mbak kerjanya apa mbak?

Suami kerja swasta. Dulu di Lampung dagang. Lalu saya minta pindah ke Jepara, jadi di sana ditinggalkan. Suami asli Lampung tapi keturunan Jawa. Saya sekarang punya 1 putra.

Diarahkan buat ikut angkat besi juga putranya, Mbak?

Sudah sering saya tawari. Cuma sih kayaknya nggak berminat. kemungkinan karena nggak ada pendorongnya. Biasanya anak tertarik dengan sesuatu karena lihat, mereka tahu jadi tertarik. Dia pindah ke sini kan kelas 1 SD, jadi belum mengerti angkat besi itu apa. Sampai di sini nggak ada angkat besi. Dia tahunya olahraga lain.

Kemarin foto diambil sama Mas Rumail Abbas terus diunggah di media sosial itu tahu ya mbak?

Saya dikasih tahu sama pelanggan kalau ramai di media sosial. Saya juga nggak tahu yang mengambil foto saya siapa. Karena ambil fotonya diam-diam.

Masyarakat Jepara sudah banyak yang tahu?

 Kalau secara umum belum deh.

Tapi kalau untuk teman sekantor sudah pada tahu ya?

Iya, sudah pada tahu kalau saya atlet. Paling sekarang banyak pelanggan yang pada penasaran pada datang.

Sudah ada respons dari Menteri Pemuda dan Olahraga?

Kalau dari Pak Menpora memang kemarin (Juni lalu) atlet Olimpiade yang dapat medali dikasih pensiunan seumur hidup. Saya diundang ke Jakarta. Tapi ya mudah-mudahan berlanjut benar seumur hidup. Yang diundang atlet peraih medali Olimpiade dari pertama. Kan nggak banyak yang dapat. Pertama yang dapat itu tahun 1998 atlet panahan 3 orang. Setelah itu baru bulu tangkis. Atlet angkat besi perempuan baru tahun 2000 yang dapat medali. Saya bersama Lisa Rumbewas, Saya, sama Winarni Binti Slamet.  Harusnya sih tahun depan dapat. Semoga saja.

(Seperti yang banyak diberitakan, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi berjanji akan memberikan dana pensiun sebesar Rp 20 juta per bulan bagi peraih medali emas Olimpiade, Rp 15 juta per bulan bagi peraih medali perak Olimpiade, dan Rp 10 juta per bulan bagi peraih medali perunggu Olimpiade yang diberikan setiap 3 bulan.)

Harapannya Mbak Indri sekarang apa?

Saya ingin membangun angkat besi di Jepara. Karena saya sudah sejak kecil menekuni angkat besi. Jadi sudah mendarah daging. Kalau saya tularkan ke orang lain, siapa tahu kan saya bisa menghasilkan atlet Jepara yang mengharumkan nama Indonesia. Memang agak berat sih.

Kalau sekarang atlet yang dapat medali emas kan diberi hadiah Rp 5 miliar dari Pemerintah, kalau dulu dapat berapa mbak?

Kalau zaman dulu emas Rp 1 miliar, perak Rp 300 juta, perunggu Rp 150 juta.

Di Kantor Pos sekarang ditugaskan jadi apa mbak?

Sekarang jadi kepala kantor cabang Kecamatan Kalinyamatan Jepara. Kita cuma bertiga, satu pengantar, dua ada di loket, termasuk saya.