Brilio.net - Perhelatan Asian Games 2018 memang mengundang banyak sorotan publik. Sejak upacara pembukaan Sabtu (18/8) lalu, multi-event 4 tahunan ini menuai banyak antusiasme dari masyarakat.

Berbagai cabang olahraga dipertandingkan dalam Asian Games dan sebagian telah sukses menelurkan juara-juara baru. Para atlet dari berbagai negara juga telah mengeluarkan potensi terbaiknya untuk berlaga di Asian Games.

Sudah menjadi kewajiban para atlet terpilih untuk mengukir prestasi di Asian Games kali ini. Oleh karena itu, mereka harus mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari.

Tak hanya berjuang mati-matian, beberapa atlet bahkan rela meninggalkan momen penting dalam hidupnya demi menuntaskan tugas negara. Mereka juga menyingkirkan sementara urusan pribadi. Perjuangan itupun tak sia-sia karena para atlet mampu mengukir prestasi terbaik untuk Indonesia.

Dihimpun brilio.net dari berbagai sumber, Minggu (26/8), berikut kisah empat atlet yang rela mengorbankan urusan pribadi demi ukir prestasi di Asian Games 2018.

Loading...

1. Defia Rosmaniar.

perjuangan atlet © 2018 berbagai sumber

foto: Instagram/defiarosmaniar

Defia Rosmaniar merupakan penyumbang medali emas pertama untuk Indonesia di Asian Games 2018. Dirinya sukses menjadi yang terbaik dalam cabang olahraga taekwondo nomor Poomsae dengan total poin 8,690. Sebelum mempersembahkan medali untuk Indonesia, Defia harus menjalani karantina dan latihan khusus di Korea Selatan selama 5 bulan sejak pertengahan Maret hingga Agustus.

Di tengah pelatihan ini, Defia tertimpa musibah kehilangan ayah yang dicintainya. Dirinya pun harus melewatkan pemakaman sang ayah karena tak dapat tiket pulang saat hari pemakamannya. Namun, Defia sempat pulang dan pergi ke makam sang ayah. Meski dalam keadaan berduka, Defia terlihat tetap semangat menjalani tugasnya untuk mengharumkan nama bangsa.

2. Tanzil Hadid.

perjuangan atlet © 2018 berbagai sumber

foto: Facebook/Presiden Joko Widodo

Tanzil merupakan atlet tim beregu dayung yang berhasil menyumbangkan medali emas ke-9 untuk Indonesia di kelas ringan putra. Sukses mengharumkan nama bangsa di ajang Asian Games 2018, Tanzil rupanya harus melewatkan momen penting dalam hidupnya yaitu kelahiran sang anak.

Pedayung asal Riau tersebut berpamitan pada keluarganya untuk fokus menghadapi Asian Games sejak bulan Mei lalu. Saat itu, sang istri tengah hamil tua. Pada pertengahan Juni, sang istri melahirkan dan hingga kini Tanzil belum bertemu istri maupun anaknya yang baru lahir. Perjuangan Tanzil inipun tak sia-sia karena dirinya mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa.

3. Maharani Ardi.

perjuangan atlet © 2018 berbagai sumber

foto: Liputan6

Atlet tembak asal Sumatera Selatan, Maharani Ardi juga harus berjuang untuk bisa tampil mewakili Indonesia di Asian Games 2018. Petembak ini turun pada nomor 3 position 50 meter putri dengan merogoh kocek pribadi. Sebelumnya, peraih emas SEA Games 2011 tersebut dipanggil pada saat-saat terakhir yang membuatnya harus mengeluarkan biaya pribadi untuk mendapatkan fasilitas selama Asian Games berlangsung.

Berbeda dari atlet lainnya, Maharani yang masuk belakangan mengeluarkan uang hingga puluhan juta karena pembiayaannya tak ditanggung pemerintah. Namun, dirinya tetap berusaha mengharumkan nama Indonesia meski belum mencapai hasil maksimal.

4. Aries Susanti.

perjuangan atlet © 2018 berbagai sumber

foto: ealekseeva.com

Nama Aries Susanti kini melambung berkat prestasinya yang luar biasa di cabang olahraga panjat tebing. Dirinya sukses menjadi juara dunia beberapa waktu lalu, sekaligus memboyong medali emas ke-8 bagi Indonesia di Asian Games 2018. Tampil memukau, Aries berhasil mencatatkan waktu terbaik yaitu 7,61 detik. Dirinya pun tak pelak dijuluki sebagai Spiderwoman-nya Indonesia.

Kisah sukses Aries juga tak luput dari perjuangan. Pasalnya, demi fokus mengharumkan nama bangsa di cabor panjat tebing, dirinya rela meninggalkan kuliah S1 Manajemen di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus). Namun, perjuangan ini tak sia-sia karena Aries sukses mencatatkan namanya sebagai salah satu atlet terbaik yang dimiliki Indonesia.