Brilio.net - Badminton atau bulutangkis menjadi olahraga favorit banyak orang, termasuk anak-anak. Nggak jarang anak-anak juga bercita-cita menjadi atlet bulutangkis dan mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Nah, semua itu bukan mimpi muluk. Melalui Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis yang diadakan setiap tahun di sembilan kota di Indonesia, bakat dan semangat anak-anak muda Indonesia menjadi atlet bulutangkis bukan hanya menjadi isapan jempol belaka.

Para anak muda usia SD sampai SMP ini berkompetisi dalam audisi yang ada di kota masing-masing atau terdekat dengan tempat tinggalnya, kemudian bagi mereka yang mendapatkan super tiket dari legenda akan lolos ke tahap final di Kudus, Jawa Tengah yang akan digelar 2-4 September 2016 nanti.

Dikutip brilio.net dari akun resmi PB Djarum, www.pbdjarum.org, Rabu (24/8), salah satu peserta audisi yang berhasil lolos ke final adalah Naufal Arrya Pratama untuk kategori U15. Bocah kelas 2 SMP Negeri 4 Sumedang, Jawa Barat ini berhasil mengantongi super tiket dari para legenda bulutangkis.

anak kompetisi PB Djarum © 2016 brilio.net

Naufal Arrya Pratama berjuang keras untuk bisa menjadi atlet bulutangkis PB Djarum. Foto: pbdjarum.org

Perjuangan Naufal tidak mudah. Dia harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk bisa berlatih bulutangkis, yakni sekitar satu jam perjalanan dari rumahnya di Sumedang sampai ke tempat latihan di Bandung.

Lolosnya Naufal, yang berasal dari klub Mentari V Kool, ke babak final ini bukan justru membuatnya berleha-leha, melainkan semakin ketat berlatih. "Sebelumnya Naufal latihan hanya sore hari. Tapi karena ingin lolos dan menjadi atlet PB Djarum, latihannya pun ditambah menjadi pagi jam 7-10 pagi dan sore jam 4-9 malam. Itu pun dilakukannya dua minggu sekali karena jarak dari rumah di Sumedang ke Bandung cukup memakan waktu juga. Selain itu status Naufal yang masih sekolah juga dipertimbangkan. Untungnya kepala sekolah pun mendukungnya dan memberikan kelonggaran buat Naufal bersekolah," beber Sumartini (40), Ibu Naufal.

Sementara itu menurut sang ayah, Arya Jaelani (41 tahun), anaknya ini dalam kondisi prima dan sehat sehingga bersemangat dan optimis menjalani laga pada Agustus 2016 ini. "Rencana kami akan berangkat ke Kudus tanggal 30 Agustus nanti. Mungkin saya dan ibunya Naufal akan ikut mengantar bersama lima temannya dan pelatih. Karena tidak dapat subsidi dari pihak kabupaten hanya iringan doa, jadinya kami berinisiatif mengeluarkan biaya sendiri. Ini semua demi cita-cita anak kami," ujar Arya.

Naya Azza Arfah, audisi pertama dan langsung lolos
Mengikuti Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis baru sekali dijalani Naya Azza Arfah yang berasal dari Garut, Jawa Barat. Namun, anggota klub PB Hikmah Garut itu langsung membuktikan dirinya layak untuk lolos ke babak final.

Naya yang dilatih pamannya yang juga pemilik klub tempatnya berlatih, Ato Rusdianto (46), mengikuti audisi di Kota Bandung. Dari audisi itu dia berhasil meraih super tiket ke babak final yang akan digelar di Kudus.

anak kompetisi PB Djarum © 2016 brilio.net

Naya Azza Arfah baru sekali ikut audisi beasiswa bulutangkis Djarum. Foto: pbdjarum.org

"Tidak disangka juga, dia itu kan kali pertama ikut audisi umum ini. Dan kalah di babak perempat tahapan turnamen. Tapi dia malah dapat super tiket dari legenda. Dari situ dia, lebih giat berlatihnya. Biasa hanya seminggu dua kali latihan, tapi kali ini jadi setiap hari. Bagusnya juga GOR latihan tidak jauh dari rumah," jelas Rena Tjaswati (34 tahun), ibunda Naya ini.

Rena menambahkan bahwa anaknya terus dilatih seputar teknik bermain dan kekuatan fisik, misalnya cara menghadang bola dan pergerakan kaki. Ketatnya latihan justru membuat Naya bersemangat menyongsong gelaran final audisi PB Djarum.

Wah, cilik-cilik tapi semangatnya membara. Kamu juga harus bersemangat mewujudkan mimpi, ya! Jangan mau kalah, lho. Biar makin semangat, yuk ketahui lebih banyak cerita dari anak-anak yang berjuang meraih mimpinya jadi atlet bulutangkis di tautan ini.