Brilio.net - Tinggal di desa yang cukup terpencil dimana akses menuju ke kediamannya harus melewati jalan bebatuan yang rusak parah, tepatnya di Desa Gales, Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, tidak membuat Waluyo kehilangan pelanggan. Setiap harinya, Waluyo yang berprofesi sebagai tabib ini bisa mengobati pasien rata-rata 15 jam, dari pukul 9 pagi sampai pukul 2 malam dikuragi masa istirahat siang. Diperkirakan, ada sekitar 50-100 pasien setiap harinya. Mereka adalah penderita penyakit-penyakit ringan sampai penyakit berat.

Metode yang digunakan oleh haji 42 tahun ini adalah sedot darah atau bekam. Semua penyakit yang diderita pasien relatif ditreatment oleh Waluyo dengan metode yang sama. Meskipun ada perlakuan-perlakuan tertentu dalam menangani penyakit-penyakit tertentu.

Waluyo sukses buka layanan pengobatan alternatif berkat saran kiai

Waluyo sukses buka layanan pengobatan alternatif berkat saran kiai

Salah satu pasien yang teratur datang ke tempat Waluyo, Wasimah (47) mengaku, terapi yang dilakukan Waluyo ini sederhana dan tidak menambah rasa sakit. Seketika setelah diterapi tubuhnya yang menderita stroke ringan merasa lebih ringan dan lega. "Lega, dan Alhamdulillah setelah kedelapan kalinya ini terdapat perkembangan," terangnya kepada brilio.net belum lama ini.

Loading...

Waluyo berkisah, dirinya membuka klinik bekam ini sudah sekitar 20 tahun. Namun baru sekitar tahun 2008-2009 kliniknya mulai dibanjiri pasien. Mereka tidak hanya datang dari desanya atau tetangga desanya saja, bahkan banyak juga yang berasal dari beberapa kota di Pulau Sumatera, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Jakarta dan sekitarnya.

Moncernya klinik bekamnya ini diakui pascawafatnya kiainya, KH Ahmad Muhammad, pemimpin pondok pesantren API Tegalrejo, Magelang. Selama masa belajar di pondok tersebut, dia mengabdikan dirinya menjadi Abdi dari kyai Muh itu. Selama mengabdi dia diberi kepercayaan untuk rutin membekam mbah kiai.

Setelah berumah tangga, Waluyo meneruskan keahlian tersebut. Mbah kiai berpesan agar membeli lahan untuk dibangun klinik supaya praktiknya bisa berlangsung terus. "Kalau kamu beli lahan, praktikmu Insya Allah bisa jalan terus," papar Waluyo menirukan pesan mbah kiai Muh.

Beberapa tahun kemudian dirinya bisa membeli lahan di depan rumahnya. Di sana hanya dibangun gubuk kecil untuk buka praktik. Dan semenjak mbah kiai Muh wafat, pasiennya melonjak drastis. Kini ia sudah bisa membangun rumah yang bagus, klinik yang bagus, dan beberapa kali naik haji.