Brilio.net - Suraida, warga Jalan Asnur Dg Pasau RT 12, Dusun Berjoko, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah rela meninggalkan zona nyaman demi memberikan ilmu kepada anak-anak di perbatasan Indonesia-Malaysia di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara.   

Meski serba kekurangan, perempuan yang biasa disapa Bu Bidan ini tetap semangat memberikan pendidikan kepada para anak didiknya di Sekolah Tapal Batas di Desa Sungai Limau. Suraida tidak sendirian. Dia dibantu relawan dari staf kecamatan dan desa.

Peran Suraida, perempuan kelahiran Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, 2 Desember 1954 ini tergolong luar biasa dalam memajukan pendidikan di wilayah perbatasan. Padahal, sejatinya dia adalah seorang dosen Akademi Keperawatan dan Kebidanan di Makassar. Karena itu tak heran jika Suraida kerap disapa “Bu Bidan” yang memang menjadi profesi alumnus Jurusan Kebidanan, Fakultas Kesehatan Universitas Hasanuddin (Unhas) ini.

Suraida, bidan sekaligus guru bagi anak-anak di wilayah terpencil

Suraida menjelaskan pola pendidikan yang diterapkan di Sekolah Tapal Batas kepada Camat Sebatik Tengah, Harman (paling kanan).

Loading...

Kecintaan pemegang gelar S2 keperawatan ini pada dunia mengajar digeluti sejak 1982. Suraida telah malang melintang mengajar di Sekolah Keperawatan, Akademi Keperawatan di Bandung dan juga salah satu Puskesmas di Makassar. Hebatnya lagi, Suraida tidak memungut bayaran dalam memberikan pendidikan di PAUD yang dia dirikan.

Dalam mendirikan sekolah, Suraida terinspirasi kedua orangtuanya yang mendirikan Yayasan Pendidikan Ar-Rasyid. Karena itu, Suraida menggunakan yayasan tersebut untuk mendirikan Sekolah Tapal Batas. Selain itu, Suraida juga terinspirasi dari perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.

“Saat saya naik haji, saya mendapat ilmu bagaimana perjalanan Rasullaah SAW berdakwah. Dari situlah muncul niat saya untuk membersihkan diri dan mau mengabdi kepada Allah dan negara,” kisah Suraida kepada brilio.net, Sabtu (12/9).

Usai berhaji, Suraida yang berprofesi sebagai bidan mendapat beasiswa untuk belajar hingga menempuh pendidikan S2. Setelah itu dia menjadi dosen keperawatan di Unhas. Setelah empat tahun menjadi dosen, Suraida kemudian ingin mewujudkan niatnya untuk memberikan pengabdian menjadi guru sekaligus bidan di wilayah terpencil. Hingga akhirnya dia bertekad membantu masyarakat di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara.

Keberadaan Sekolah Tapal Batas adalah satu dari sekian banyak potret ironi pendidikan di kawasan perbatasan. Fakta ini memperlihatkan sejak era Orde Baru hingga sekarang tidak ada kemauan politik (political will) dari pemerintah untuk menyentuh permasalahan kawasan perbatasan.

Keberadaan Suraida lewat Sekolah Tapal Batas memberikan secercah harapan bagi anak-anak di tapal batas untuk menggapai impiannya kelak.