Brilio.net - Maraknya aplikasi online membuat sebagian angkutan konvensional merasa dirugikan. Hal itu yang mendorong sopir taksi untuk menggelar demonstrasi di bilangan Semanggi hingga kawasan Monas, Jakarta.

H. Rabani (50), pengemudi taksi konvensional mengaku merasa dirugikan dengan adanya aplikasi online. Penghasilan yang didapatnya menurun drastis sejak mewabahnya aplikasi angkutan online.

"Kalau sekarang sejak ada aplikasi online, penghasilan saya sehari paling Rp 100.000-150.000, padahal target dari kantor kami harus nyetor Rp 320.000. Mau tidak mau kami ngutang dulu ke perusahaan. Kan kami jadi rugi, perusahaan juga rugi," ujarnya kepada brilio.net, Selasa (22/3).

Lanjut Rabani, dengan adanya aksi seperti ini, pemerintah dapat tegas menyelesaikan masalah tersebut. Banyak pihak mereka klaim rugi dengan adanya aplikasi online.

"Saya mau aplikasi online di tutup. Kami sama-sama cari makanlah. Jadi biar adil juga," ujarnya.

Loading...

Rabani juga menuding angkutan umum dengan aplikasi online ini ilegal karena tidak membayar pajak negara.

"Orang pakai angkutan dengan aplikasi karena murah, dan cepat karena semua pegang HP. Tapi kan itu ilegal. Murah karena mereka tidak bayar pajak," pungkasnya.