Brilio.net - Fuad Hartono (35), buruh tani kopi dari Palembang, merasa beban hidup yang harus dipikulnya terlalu pahit. Ayah dua anak ini merasa tak ada kemajuan berarti dalam pekerjaannya untuk menghidupi keluarga kecilnya itu.

Sistem kerja yang ia lakukan adalah dengan bagi hasil, karena tak punyai lahan. Ia akan menggarap kebun kopi milik seseorang sesuai kesepakatan, kemudian ia akan diberi pembagian hasil penjualannya. Dalam setahun, ia bisa mengerjakan beberapa lahan, sebab kopi akan dipanen satu kali dalam satu tahun.

Ia menjalani pekerjaan ini dari waktu masih bujangan. Kini setelah berkeluarga, ia bersama keluarga tinggal di pondokan, sebuah bangunan gubuk yang sebagian besar terbuat dari bambu. Berdua dengan istrinya, bahu-membahu menafkahi keluarga juga demi pendidikan anak-anaknya.

Anak-anaknya sendiri bersekolah di lokasi yang agak jauh dari tempatnya ia tinggal, sekitar tiga kilometer. Kalau ada bensin, ia antarkan anaknya dengan sepeda motor. Tapi kalau tidak, ia antarkan dengan jalan kaki. Sekolah tempat anaknya itu dulunya adalah pematang sawah kering. Jalan menuju ke tempat itu tidak semulus aspal di kota-kota.

Dalam dua tahun terakhir ini, harga kopi di daerahnya terus turun hingga mencapai Rp 15.000 per kg dari sebelumnya Rp 20.000 per kg. Hal ini ia rasakan sebagai pukulan bagi petani kopi seperti dirinya. Ia tidak pernah tahu bahwa ternyata kopi panenannya itu setelah sampai di coffee shop di Palembang atau kota-kota lain, harganya bisa mahal. Harga satu cangkir minuman kopi bisa setara dengan satu kilogram biji kopi yang dia jual.

Loading...

Pahitnya kopi mencerminkan kehidupannya. Pinjam kanan-kiri sudah bukan hal asing baginya. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, jika panenannya sedang turun, meminjam uang merupakan solusi. Yang penting dapur masih tetap mengepul.

Pernah suatu ketika ia dipenjara gara-gara utangnya. Ia meminjam 50 kg beras dari seorang pedagang di Kabupaten Empat Lawang. Karena tidak kunjung membayar, ia dilaporkan ke polisi. Hasilnya, ia ditahan selama 2 bulan.

Ia hanya bisa berharap, pemerintah mau memberikan jalan keluar supaya harga kopi bisa naik kembali. "Semoga suara saya ini sampai kepada pemerintah. Mohon supaya pemerintah mau menaikkah harga kopi. Hanya (pertanian) kopi yang bisa saya andalkan," serunya kepada brilio.net, Selasa (6/10).

Cerita ini disampaikan oleh Fuad Hartono melalui telepon bebas pulsa Brilio.net di nomor 0-800-1-555-999. Semua orang punya cerita. Ya, siapapun termasuk kamu punya kisah tersembunyi baik cerita sukses, lucu, sedih, inspiratif, misteri, petualangan menyaksikan keindahan alam, ketidakberuntungan, atau perjuangan hidup yang selama ini hanya kamu simpan sendiri. Kamu tentu juga punya cerita menarik untuk dibagikan kepada kami. Telepon kami, bagikan ceritamu.