Brilio.net - Dinginnya udara pagi hari di kota Yogyakarta tak menyurutkan semangat puluhan tukang ojek untuk menjajakan jasanya di Stasiun Tugu. Meski matahari belum menampakkan semburat merahnya, mereka tetap bertahan dan berharap mendapat sedikit rejeki dari beberapa penumpang yang baru pulang mudik.

Dari sekian puluhan tukang ojek yang mangkal di sana, terselip sosok bapak tua. Bapak Jarot namanya. Usianya yang sudah 65 tahun, tak menghalangi semangat menawarkan jasa kepada penumpang. Tarif yang dipasang pun tak mahal, standar harga ojek di mana-mana.

"Saya sudah ngojek dari lama Mbak, dari anak saya masih kecil sampai sudah bisa jadi sarjana semua," tutur ayah 3 anak ini. "Alhamdulillah walaupun dengan penghasilan pas-pasan namun dua dari tiga anak saya bisa kuliah."

Di usianya yang sudah tidak muda lagi, sebenarnya Pak Jarot sudah disuruh anak-anaknya untuk berhenti bekerja. Bahkan beliau sudah diajak tinggal bersama dengan anaknya di Palembang, namun Pak Jarot menolaknya. Menurutnya lebih enak menghabiskan masa tua di Yogyakarta bersama istrinya seorang.

"Ya enak di sini, suasananya masih nyaman dan juga gak enak ngerepotin anak. Lagipula sakit jantung istri saya justru sembuh saat dibawa pulang ke Yogyakarta," imbuhnya.

Loading...

Pak Jarot biasanya mangkal di Stasiun Tugu, Yogyakarta mulai pukul 03.00 pagi. Setiap harinya beliau bisa mengantar 2-3 orang. Penghasilannya pun tidak seberapa, hanya sekitar Rp 60.000 saja. "Ya disyukuri saja, yang penting masih bisa buat kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.

ARTIKEL TERKAIT:

Kisah Puji, Kartini masa kini, bantu suami dengan menjadi tukang ojek

Bermodal Rp 25.000, mahasiswa ini sukses bisnis ojek sekolah

Cikal bakal jasa ojek di Tanah Air, dulunya memakai tandu